Aku Memilihmu

Aku Memilihmu
Bagian 1


__ADS_3

Tiiinggg...


Satu pesan mendarat. Andini segera meraih ponsel pintarnya. My love nama itu tertulis pada notifikasi hpnya.


- Sayang, kok kamu nggak masuk hari ini? Nggak ngasih kabar lagi-


Ahh bagaimana mungkin Andini lupa memberi kabar pada Arya. Biasanya dua sejoli itu bagai perangko tak terpisahkan. Sekarang ia malah menghilang tanpa kabar.


Segera jari Andini menari pada layar. Dan mengirim balasan.


- Maaf sayang, kita perlu ketemu hari ini. Aku nggak mungkin nutupin ini semua dari kamu -


Diseberang sana Arya mengernyitkan kening tanda ketidakpahaman.


- Ada apa? Kamu sakit? Baiklah kita ketemu di cafe biasa jam 4 ya. Aku tunggu -


Andini segera bergegas ke kamar mandi. Setidaknya ia harus terlihat segar. Ia tak ingin mamanya menaruh curiga terlalu dini pada keadaannya. Meski sebenarnya untuk bergerak saja ia tak sanggup. Ia sadar, ada yang salah dalam tubuhnya.


***


"Arya, kamu janjikan tanggung jawab waktu itu"


Andini tak lagi sabar untuk mengatakan semuanya. Sudah hampir sebulan semua ia tahan sendiri. Arya sudah waktunya tau.


"Aku nggak paham maksud kamu Andini."


"Aku hamil, ya"


Andini terisak, sedangkan Arya termangu. Shock tak percaya. Bagaimana mungkin itu terjadi. Bukankah mereka hanya sekali melakukannya?

__ADS_1


Ahhh, Nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana nasib sekolah mereka yang masih butuh waktu 1 tahun lagi diselesaikan.


Apakah ini pertanda gelap?


"Kamu tahukan seberapa cintanya Aku, Aku nggak mungkin ngelakuin itu sama orang lain"


Arya menarik Andini kepelukannya. Ia merasa menyesal. Andai waktu itu bisa diputar.


"Andini, percayalah Aku akan tanggung jawab. Aku akan datang pada orang tuamu"


Arya meyakinkan Andini yang terus menangis dipelukannya.


"Tenanglah, Aku bukan lelaki pengecut yang hanya mereguk manis darimu. Aku mencintaimu, Andini"


"Maafkan aku, Andini" Arya mempererat pelukannya. Setidaknya ia ingin wanitanya itu merasa terlindungi.


"Ayolah, setidaknya kamu harus makan"


Arya menyuapi Andini Spagetti yang telah dingin itu.


"Aku nggak mau, anak kita malah sakit didalam" Ujar Arya sambil mengelus perut Andini yang masih rata.


"Kamu sayang aku dan calon baby kita ini kan?"


"Iya, sayang" senyum Andini kembali merekah.


Setidaknya, kisahnya tak seperti kebanyakan. Arya, ayah cabang bayi ini bersedia bertanggung jawab. Ia lega.


***

__ADS_1


Plak!!


Satu tamparan mendarat dipipi Andini. Wajah Lita merah padam sambil menggenggam benda pipih yang didominasi warna putih itu.


"Jadi ini balasan buat mama dan papa Andini."


"Kamu mengacaukan semuanya, Andini"


Lita meluapkan amarahnya, bagaimana mungkin gadis semata wayangnya hamil diluar nikah. Apa kurangnya selama ini? Bahkan secara materi Andini tak kekurangan satu apapun.


"Maafkan Andini ma, Maaf"


"Terlambat. Semua takkan berubah"


Lita dengan nafas tak beraturan meninggalkan ruang tamu yang megah itu, disusul hempasan pintu yang mengejutkan"


Andini merangkak mendekat pada Doni, ayahnya.


"Maafkan Andini Pa" Tangis Andini Pecah.


"Papa tak pernah marah Andini, tapi kali ini papa tak punya kata-kata untukmu"


Doni memang memiliki perbedaan watak yang mencolok dibanding Lita. Lita yang menggebu-gebu dan terkesan arogan berdamping dengan Doni yang amat bijaksana, lemah lembut dan berkarisma.


"Bawa laki-laki ayah bayi itu besok" Doni beranjak dari kursinya dengan kekecewaan yang dalam meninggalkan Andini yang masih bersimpuh disudut kursinya.


Dilubuk hati terdalam,penyesalan Andini kian mengakar. Bagaimana mungkin ia mampu mengecewakan Doni, sang Ayah yang begitu menyayanginya. Begitu bodohnya ia, luluh oleh kenikmatan semalam yang ia lalui bersama Arya.


***

__ADS_1


__ADS_2