
Teruntuk readears tercinta. Othor mon maap baru bisa up sekarang. Kesehatan othor sedikit terganggu kemaren-kemarennya.
Happy reading ye...😉
+++++
"Malam Ay... " Surya melangkah kearahnya. Mereka berhadapan sekarang.
"Perkenalkan dulu-- Surya mengulurkan tangan kehadapan gadis cantik yang masih menatapnya tidak percaya ---aku Surya Albian Bagaskara, tunanganmu." Refleks Ayu mundur satu langkah dan hampir terhuyung, lututnya tiba-tiba lemas. Hampir saja ia terjatuh. Namun beruntung, Surya segera memengang lengannya.
Surya?! Bian?! Surya?! Bian?! Dia tunanganku!?
Surya menggenggam tangan Ayu yang masih bungkam, menuntunnya duduk bersama dua keluarga.
Jadi aku harus memanggilnya siapa? Surya atau Bian?
"Sur... " Panggilan Ayu membuat Surya menoleh. Iapun berusaha melepaskan tangannya yang masih digenggam begitu erat.
"Duduklah dulu... nanti akan kujelaskan." Surya mengerti dari tatapan Ayu. Gadis itu butuh penjelasan tentang semua ini.
Bagaimana dirinya yang tiba-tiba berdiri di hadapan Ayu. Memperkenalkan diri sebagai tunangannya. Pasti membuat gadis itu shock.
"Duduk dulu ya Ay... " Surya menatap Ayu penuh harap.
Mendengar kalimat Surya yang lembut dengan sorot mata yang penuh permohonan, iapun membuang nafas kasar. Mengikuti langkah Surya kemudian.
Hah baiklah. Setidaknya aku harus menghormati keluarga Surya. Mama juga pasti akan malu jika aku bersikap seenaknya.
"Mereka terlihat sangat serasi sekali ya Mbak... " Tante Nisa-Mama Surya tiba-tiba berkata mengawali pembicaraan. Ia memperhatikan dengan mata berbinar keduanya(putra dan calon menantu) yang duduk berdampingan. Dari senyumnyapun memancarkan kebahagiaan.
"Bagaimana jika kita percepat saja pernikahan mereka? sudah melewati masa perkenalan juga kan?." Kalimat Om Haryo selanjutnya membuat Ayu terperanjat.
Dipercepat?! Lagi?! .Ayu
Aku sebenarnya tidak masalah kapan saja. Tapi Ayu bagaimana?! .Surya
Para orang tuapun begitu antusias membicarakan kapan kira-kira waktu yang tepat. Sedangkan dua orang yang sedang dibicarakan, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Awal bulan depan. Bagaimana?." Tante Nisa menatap suaminya dan Tante Risma(Mama Ayu) secara bergantian.
"Akad saja. Resepsinya biar nanti setelah mereka lulus." Ayu meremas jemarinya mendengar itu. Dan Surya melihat itu.
Bulan depan? aku akan menjadi istri orang bulan depan?! oh tidak...
"Waaahh kalau saya sangat setuju. Bagaimanapun kebaikan tidak boleh di tunda-tunda. Apalagi mereka sepertinya sudah siap. Iyakan Surya?." Om Haryo menimpali pernyataan istrinya.
"Tidakkah itu terlalu cepat Pa?." Meskipun Surya mencintai Ayu tapi pernikahan bukan hal yang sederhana kan? Apalagi untuk gadis disampingnya ini. Surya melihat Ayu yang sedikit melirik padanya.
"Tante sebenarnya juga sependapat dengan Mbak Nisa dan Mas Haryo. Para orang tua ini hanya menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua sayang... " Ucapan Tante Risma membuat Ayu melihat Mamanya sepenuhnya.
"Ma... " Suara Ayu tercekat. Keputusan ini tidak seperti yang dibicarakan sebelumnya. Pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah mereka lulus. Kenapa sang Mama tiba-tiba setuju?
"Kamu juga bersedia kan Ay?." Ayu tahu, jika menyangkut perjodohan ini, Mamanya tidak pernah benar-benar bertanya, tapi memaksa. Membuatnya kembali menunduk.
Namun siapa sangka jawaban Ayu selanjutnya membuat senyum semua orang redup seketika. Terutama Surya yang memandang gadisnya dengan sorot mata begitu terluka.
"Maaf. Ayu tidak bisa meneruskan perjodohan ini." Suaranya sedikit bergetar.
"Ay... " Suara Surya tercekat. Dia membatalkan pertunangan mereka?!
"Sayang... " Tante Risma menatap putrinya tak percaya.
"Sayang... kita bisa undur pernikahannya. Tapi jangan dibatalin ya... " Ayu memandang Mama mertuanya.
__ADS_1
Sebenarnya apa yang membuat mereka keukeuh ingin menjodohkan kami? Bukankah seharusnya mereka sudah tahu aku kekasih Bang Ilham, keponakan mereka, sepupunya Surya.
"Beri kami waktu untuk bicara berdua dulu Ma, Pa." Tiba-tiba Surya menarik tangan Ayu untuk berdiri.
"Sebaiknya kalian bicara dulu Surya." Om Haryo
"Surya mohon izin Tante." Tante Risma menganggukkan kepala.
"Bicaralah di taman belakang."
****
Ayu mengikuti langkah Surya menuju taman belakang. Meninggalkan para orang tua yang tetap berada di ruang keluarga. Ayu memandang punggung lebar didepannya dengan perasaan campur aduk.
Tidak pernah terpikirkan dialah orangnya...
Mereka sudah sampai di sebuah gazebo dipinggir taman.
"Duduklah disini... kita perlu bicara-- Surya ingin menggapai tangan Ayu meminta gadis itu duduk di sampingnya, namun Ayu refleks menjauhkan tangannya membuat wajah Surya sedikit mengeras --jangan takut, kita sudah berteman dekat sebelumnya." Suaranya masih terdengar tenang dan lembut.
"Ma- maaf. Aku tidak bermaksud---
"Tidak apa-apa duduklah. Kita perlu bicara lebih jauh, kan?." Ayupun duduk dengan memberi jarak sekitar setengah meter diantara mereka. Surya menatap nanar kearah gadis yang dicintainya itu, yang bahkan sejak tadi seperti enggan menatap kearahnya.
"Sebenarnya aku sudah menduga jawabanmu Ay-- Surya menoleh sekilas, melihat Ayu yang masih menunduk -- Tapi... aku tidak menyangka rasanya sesakit ini mendengarnya langsung dari kamu." Suara pria itu terdengar getir diakhiri tawa yang dipaksakan.
Ayu masih menunduk, dia sedikit kecewa karena merasa dibohongi. Ada juga perasaan takut dan merasa bersalah, karena jawaban yang ia berikan barusan tidak seperti yang diharapkan keluarga, mungkin Surya juga.
"Kenapa membatalkan pertunangan kita Ay?." Diam sebentar.
"Lihatlah! Cincin itu sangat cantik di jari manismu." Ayu menutupi jemarinya yang terdapat cincin dengan tangannya yang lain, membuat Surya tersenyum sedih.
"Tidak ingin kugantikan dengan cincin pernikahan kita?." Desiran hangat terasa dalam dada Ayu mendengar itu.
"Bukankah kau pernah berkata jodoh di Tangan Tuhan? Kenapa tidak bisa menerimaku?!." Surya mengucapkannya dengan ekspresi datar. Menahan amarah dan sedih bercampur kecewa sekaligus. Egonya mungkin sedikit terusik.
"Tapi cerita kita berbeda!." Ayu memberanikan diri menatap balik Surya.
"Apanya yang berbeda?!." Surya kembali menahan untuk tak tersulut emosi, tak ingin gadisnya takut.
"Aku mantan kekasih Bang Ilham, sepup--
"Kamu hanya tinggal bilang 'iya'. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kita sama-sama sendiri. Tidak terikat." Surya memotong kalimat Ayu dengan menekan kalimat terakhirnya.
Ah tapi... tapi... dia sepupu Bang Ilham.
Ayu mengurut pelipisnya yang tiba-tiba pusing. Bagaimana dia harus menyikapi semua ini?
Hening.
Akhirnya setelah beberapa lama terdiam. Ayu mengangkat kepalanya.
"Baiklah. Aku tidak akan membatalkan pertunangan kita." Surya menatap kearah Ayu.
"Akupun bersedia menikah denganmu. Bahkan kapan saja waktunya, terserah padamu. Tapi aku memiliki beberapa syarat." Suara gadis itu memang lembut bahkan seperti tidak ada kekesalan sama sekali. Tapi Surya sekuat tenaga menahan gejolak dalam dada demi mendengar syarat yang akan diajukan--
Calon istriku... Pandangan matanya melembut, dadanya menghangat saat status baru itu muncul dalam pikirannya.
"Katakan."
"Pernikahan kita hanya status."
"Bagaimana bisa seperti itu Ay?! Pernikahan jangan dib--
__ADS_1
"Dengarkan aku dulu Surya!." Pria itupun menghentikan protesnya.
"Aku tidak ingin serumah. Kita harus fokus sekolah dulu."
"Mana ada suami istri pisah rumah Ay?!."
Huufftt.
"Aku akan jujur dari awal. Jika ditanyakan tentang kesiapan aku menikah, jelas. Aku belum siap. Maka dari itu aku meminta syarat ini. Katakanlah kita pacaran dulu Sur. Tapi aku mohon diam-diamlah dulu." Surya menatap gadisnya tidak percaya. Berhubungan diam-diam?
"Kenapa? karena Ilham? kalian bahkan sudah tidak ada hubungan apapun. Kamu masih sangat mencintai dia?." Dan diamnya Ayu selanjutnya menjelaskan semuanya.
"Baru seminggu kami putus Sur. Bagaimana bisa aku langsung bisa melupakannya? Kamu bahkan tahu sendiri kan? aku pernah bercerita bahwa aku tidak mencintai tunanganku?." Ayu mengingatkan Surya dengan kenyataan cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Jadi sekarang kenapa akhirnya setuju menikah walaupun dengan syarat?."
"Sudah pernah kuceritakan juga kan alasannya?."
Ah iya dia pernah berkata menerima perjodohan ini karena ingin berbakti pada Tante Risma. Apa aku sudah merenggut kebahagiaannya?
"Masih berharap untuk kembali padanya?." Ilham maksud Surya. Menunggu jawaban ini membuatnya menahan nafas.
"Dia sudah bersama wanita yang tepat. Yang mencintai dia lebih dari aku." Ayu tersenyum getir.
"Aku hanya tidak suka mencari masalah, apalagi kalian sepupu. Suatu hari jika hatinya sudah sepenuhnya pulih dan mereka sudah bersama, mungkin kita bisa berterus terang tentang hubungan kita." Ayu menoleh pada Surya membuat mata mereka bertemu.
"Kamu pasti sangat mengerti bagaimana selama ini aku sangat mencintai sepupumu. Tapi percayalah, aku adalah tipe setia dan sangat menghargai hubungan apapun, terlebih pernikahan yang sangat sakral." Akhirnya sedikit senyum terbit di bibir pria itu mendengar penjelasan Ayu. Intinya gadisnya sudah benar-benar memilih dia. Begitu, kan?
"Jadi, bagaimana? Pernikahan kita hanya status, pisah rumah, dan hubungan diam-diam. Menerima persyaratanku?." Ayu kembali memastikan Surya mengingat persyaratannya.
"Itu hanya sementara kan?."
"Hmm." Ayu mengangguk pelan.
"Mungkin kita bicarakan lagi setelah lulus. Bagaimana? Setelah Ujian Akhir Semester Awal akan banyak sekali ujian menunggu kita Sur." Surya mengangguk membenarkan ucapan Ayu. Dia juga lagi sibuk-sibuknya mengurus perusahaan Papanya yang akan diserahkan padanya setelah lulus kuliah.
Setidaknya aku sudah berbakti pada Mama, almarhum Papa pasti juga senang di atas sana... hah
"Jika aku menerima persyaratanmu, serahkan padaku tanggal pernikahan kita. Bagaimana?!."
.
.
.
.
.
.
💜💜💜💜💜😉
Bersambung...
Jangan Lupa Like & Komennya Kakak.
Yang Belum Klik '💙' Segera Klik. Oke.😘
.
.
__ADS_1
.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi Yang Menjalankan.💚