
-Arya, mama papa memintamu datang segera, jangan kecewakan aku-
Pesan singkat itu melesat dengan cepat mendarat pada ponsel Arya. Arya yang masih uring-uringan untuk mengatur kata kepada Ayahnya tersentak mendengar deringan kecil dari hpnya.
-Baik sayang, jaga kesehatan. I love U-
Tak ada lagi komunikasi intens pada mereka seperti dulu, perlahan suasana terasa hambar. Apakah ini cinta beralas nafsu sesaat?
Diseberang sana Andini menarik nafas berat. Harinya semakin sulit. Tak lagi ada keceriaan dalam hidupnya. Sejak kejadian kemaren, Tak sengaja mama Lita menemukan tespek yang dengan ceroboh diletakkannya disudut meja rias. Rencananya tespek itu akan ia bawa ketika bertemu Arya. Namun ia melupakannya.
Keadaan rumah suram. Bahkan seharian ini Andini mengurung diri di kamar. Mama Lita benar-benar meradang. Biasanya pagi-pagi sekali Lita akan membangunkan gadis belianya itu untuk berangkat ke sekolah.
"Princesss mama bangun. Udah jam 7 lo, nanti telat"
Kecupan manis mendarat dikening putri kesayangannya itu.
"Mama buatin spagetti, mak nyooosss pokoknya"
Bisik Lita ditelinga Andini yang setengah sadar. Ya, meskipun agenda pagi amatlah padat, namun untuk urusan sarapan Lita tak pernah melewatkannya. Ia menyajikan sarapan terbaik untuk Andini dan Doni setiap paginya yang tentu saja dibantu oleh Mbok Lela.
Tok Tok Tok
Seseorang tengah berdiri didepan pintu kamarnya, itu membuyarkan lamunan Andini. Siapa lagi kalau bukan Mbok Lela. Segera disapunya air mata yang merembes. Ada sakit yang tak bisa ia bagi saat ini.
"Masuk Mbok"
"Non, makan dulu. Udah jam 11. Tadi ibuk pesen sama si Mbok"
"Iya Mbok"
"Non nangis ya"
Tangis Andini pecah, hatinya benar-benar kacau. Rasa bersalahnya kian menusuk dari segala arah. Mbok Lela mendekat dan meraih tangan Andini.
"Non, semua orang pernah melakukan salah. Mungkin ini ujian untuk Non, supaya bisa lebih baik lagi dalam menjalani hidup"
"Mbok.. hikhikhikhik" Andini berkali-kali menyeka air matanya.
__ADS_1
"Sekarang Non patuh sama mama Lita, kasihan beliau. Semalaman mama Lita duduk sendiri di ruang tamu. Beliau juga terpukul non"
Andini kehabisan kata saat ini. Tak banyak kata yang keluar untuk membalas perkataan Mbok Lela. Selain tangisnya yang terus berderai.
"Non, kasian calon bayi yang ada diperut non. Kalo jam segini aja belum ada diisi apa-apa"
"Maaf non, Mbok lancang. Jangan sampai non berbuat dosa lebih dengan mengabaikan keselamatan bayi yang ada diperut non"
"Huaaaaaaaaa"
Mbok Lela semakin menunduk mendengar raungan Andini. Dipeluknya gadis remaja labil itu kedalam dekapannya. Andini bahkan sudah Mbok Lela anggap seperti anak sendiri. Sedari kecil ialah yang mengasuhnya, karena Mama Lita sangat sibuk dengan bisnis butiknya.
Akhirnya tangis Andini reda. Ia melepaskan dekapan Mbok Lela.
"Maafkan Andini Mbok, Andini yakin Mbok juga kecewa"
"Sudahlah non, Mbok tetap sayang non. Mbok siapkan makan ya"
Andini mengangguk.
***
Rina wali kelas Andini menyapa ramah mama Lita yang sudah sedari tadi menunggu diruangnya.
Dengan jilbab coklat susu dan gamis panjang nan anggun Rina menyalami mama Lita.
"Ma, Andini sudah hampir sebulan ini terlihat uring-uringan. Apalagi sudah tiga hari ini dia tidak masuk sekolah. Apa Andini sakit ma?"
Mama Lita masih mengatur nafas yang tak kunjung tenang. Matanya memerah, memancarkan kesedihan. Rina yang menangkap gelagat itu meraih tangan mama Lita menenangkan.
"Mama bisa cerita apapun itu, saya siap mendengarkan."
Rina seolah-olah ditimpa beban besar ketika mama Lita membuka mulutnya membeberkan keadaan Andini saat ini. Rina tercengang. Ahhh tiba-tiba jutaan solusi dikepalanya lenyap tak bersisa.
"Nak Rina, tolong urus surat berhenti Andini. Saya mohon sekali jangan sampai ada orang yang tau kabar ini. Ini sangat memukul keluarga kami. Saya ingin orang-orang hanya tau bahwa Andini pindah keluar negeri"
"Baiklah Ma. Saya akan mengurus semua yang mama perlukan."
__ADS_1
Mama Lita beranjak pergi dari ruangan Rina. Punggung itu semakin jauh, menghilang dari pandangannya. Usai sudah pertemuan hari ini. Ia harus kembali ke kelas. Materinya tergantung ketika ia permisi menemui Mama Lita. Tapi Rina seolah kehilangan tenaga. Limbung.
"Andini, Akhh tak kusangka"
Rina menutup wajah dengan kedua tangannya.
***
"Mbok, pastikan Andini tidak meninggalkan rumah sejengkalpun"
"Baik Buk"
"Andini saya percayakan kepada Mbok, saya benar-benar belum bisa berhadapan dengannya. Pastikan dia sehat dan makan mbok."
"Iniii...."
Mama Lita menyodorkan beberapa lembar uang merah pada Mbok Lela.
"Pergilah ke supermarket Mbok. Belikan susu untuknya"
"Baik Buk"
Doni yang sedari tadi memandang dari kejauhan, mendekat. Mbok Lela telah beranjak meninggalkan mereka di ruang dapur.
"Ma..."
Mama Lita menoleh. Donipun mendekap istrinya yang terlihat tegar namun benar-benar rapuh itu.
"Apa salah mama, pa"
Emosi mama Lita memuncak. Air matanya benar-benar melimpah ruah ingin segera dilepaskan.
"Maafkan papa ma, ini juga salah papa. Papa merasa gagal menjaga Andini. Mama tenang ya. Papa nggak mau nanti mama down lagi kalau terlalu banyak mikir"
"Kita hadapi bersama"
Doni mengelus rambut panjang Lita.
__ADS_1
Manusia takkan pernah lepas dari salah. Ia bahkan memiliki tempat tersendiri.
Perbaikilah, semua memang tak akan sesempurna awalnya. Tapi setidaknya ia tak hancur lebur.