
"Jika aku menerima persyaratanmu, serahkan padaku tanggal pernikahan kita. Bagaimana?!." Surya menanyakan keinginannya sendiri.
"Sudah kukatakan tadi, terserah padamu Surya."
Merekapun kembali melangkah menuju ruang keluarga. Ternyata sudah tidak ada siapapun.
"Langsung ke ruang makan deh. Sepertinya kita terlalu lama di taman belakang."
"Kita juga harus menyampaikan pembicaraan kita kepada mereka nanti." Kalimat itu membuat Ayu menghentikan langkahnya menoleh pada Surya.
Ayu mengangguk pelan.
Sepertinya tidak akan seperti harapanku. Ayu bergumam sendiri.
Makan malam bersama telah usai, sedikit pembicaraan ringan terjadi di meja makan. Menambah kehangatan dan keakraban dua keluarga yang sebentar lagi akan resmi menjadi besan.
Suryapun menyampaikan hasil musyawarah bersama Ayu tadi kepada para orang tua. Bagaimanapun hal itu juga harus kembali dibicarakan bersama keluarga.
"Syarat macam apa itu?!." Seperti yang sudah diperkirakan Ayu, Tante Risapun tidak setuju dengan syarat yang diajukan putrinya kepada calon menantunya.
"Pernikahan hanya status?! jangan dibuat main-main menikah itu Ay!." Nada suaranya terdengar marah. Ayu hanya bisa menunduk sambil meremas gaun biru langit yang ia kenakan.
"Mama juga tidak setuju kalian pisah rumah kalau sudah menikah, harus sama-sama!. Bagaimana bisa belajar saling melayani jika tidak bersama?!." Kalimat lanjutan dari Mamanya, bahkan sudah membuat matanya memanas. Titah Ibunda Ratu sepertinya tidak bisa diganggu gugat.
Hhhh seharusnya aku ingat. Kalau soal perjodohan ini, Mama menjelma jadi tukang memaksa.
"Sayang... " Melihat menantunya yang terdiam, Tante Nisa meraih tangan gadis itu. Mengelusnya lembut, menyalurkan kehangatan. Ayu melihat tangannya yang digenggam, kemudian beralih pada wajah cantik Mama mertuanya.
"Kamu masih boleh kok meneruskan pendidikan. Bahkan kamu dan Surya bisa kuliah bersama loh, berdampingan tanpa ada kekhawatiran melewati garis batas kamu selama ini-sedikit Tante diceritakan Mamamu soal itu, jadi bangga memiliki menantu seperti kamu--- Diam sebentar
"Para orang tua ini pasti tenang jika kalian sudah menikah, bisa saling menjaga dan melayani." Tante Nisa berbicara begitu lembut pada calon menantunya. Sedangkan Surya hanya diam sambil menatap Ayu. Sorot matanya mengatakan apa yang dirasakan hatinya sekarang.
"Kalian juga bisa memilih untuk menunda momongan dulu, jika itu yang kamu khawatirkan tentang pernikahan ini. Benar kata Mama kamu barusan, pernikahan tidak boleh dibuat mainan." Ayupun mengangguk sambil membalas usapan tangan Mama mertuanya.
Ah setidaknya aku akan memiliki Mama mertua lemah lembut seperti Tante Nisa.
"Yasudah... nanti menantu Om tinggal di apartment bareng Surya ya. Suami istri memang harus satu atap nak. Pisah kamar dulu boleh deh. Disana ada dua kamar." Kali ini Om Haryo yang menimpali.
Satu atap, harusnya satu kamar juga kan Pa. Eh? nanti aku bisa-bisa khilaf dong. Surya bergumam dalam hati.
"Gak pa-pa, kamu tahan dulu Sur." Dan masih sempat-sempatnya Om Haryo menggoda putranya, membuat Surya hanya bisa tersenyum canggung. Teringat isi pikirannya sendiri.
"Eh? kalau sudah sama-sama siap juga gak pa-pa kali Pa tidur bareng, ada kok cara-cara khusus untuk menunda kehamilan. Di luar misal, iyakan Sur?." Tante Nisa dengan santaynya bertanya, membuat satu meja melongo.
Pembicaraan macam apa sih ini. Wajah Ayu merona mendengar itu.
"Mama ini, lihat menantu kita jadi malu." Suasana yang tadi tegang, sepertinya sudah mulai mencair.
__ADS_1
"Kalau Ayu pergi, Mama sendirian. Bagaimana?." Ayu masih berusaha mencari celah untuk tetap tinggal disini, di rumahnya sendiri.
"Kak Mala rencananya akan tinggal disini, sudah kami bicarakan." Pupus sudah harapan.
"Kalau untuk syarat yang terakhir, Surya sangat setuju Tante. Pernikahan kami diketahui lingkup keluarga inti saja dulu. Soalnya kami masih sekolah."
"Oh iya-iya. Kalau yang itu Tante juga setuju sayang... " Tante Risma sumringah menjawab calon menantunya.
Hah sebenarnya yang anaknya Mama itu aku atau Surya. Lembut banget sama calon mantu.
Para orang tua akhirnya bisa bernafas lega. Bahkan Surya sepertinya sudah membisikkan tanggal pernikahan pilihannya.
"Ayu benar setuju dengan tanggal yang dipilih Surya?." Tante Nisa kembali memastikan.
"Iya Tan, Ayu setuju." Walaupun dua syaratnya tak terpenuhi, tapi itu Mamanya sendiri yang tidak setuju. Sudahlah, begitu pikir Ayu.
Sebelum pulang, Tante Nisa yang begitu bahagia sampai memeluk Ayu begitu erat, mencium gadis itu berkali-kali.
Belum juga resmi...
Ayupun menutup pintu utama.
Melihat sang Mama yang membuang nafas pelan, Ayu mengerti, dirinya tadi sudah membuat Mamanya kepikiran.
"Kamu itu Ay, kenapa tadi pake minta dibatalin segala pertunangannya? membuat mama hampir jantungan saja. Apalagi syarat-syarat tidak masuk akal yang kamu minta."
"Lah, terus kenapa kamu jawab iya tadi waktu ditanyain Mbak Nisa? Sebulan lagi saja kamu sudah bilang kecepetan."
"Aku dan Surya membuat kesepakatan bersama di belakang tadi Ma."
"Oh gitu. Syukurlah. Mama lega kalau seperti itu. Ingat, jangan ada drama-drama lagi nanti ya."
"Iya Ma... "
*****
Keesokan harinya saat pulang sekolah...
Ayu mengerutkan dahi. Saat membuka pintu pagar, dirinya dikejutkan dengan beberapa orang yang berlalu lalang. Masuk keruang tamu ada juga yang sibuk menata meja dan beberapa kursi. Ruang keluargapun sudah disulap menjadi taman bunga. Bunga-bunga dominan putih dan ungu bertebaran dimana-mana.
"Kak, ada apaan?." Kak Mala memang belum pulang sejak kemaren.
"Siap-siap buat acara kamu nanti malem lah." Ayu melongo.
"Acara apalagi kak?." Ayu panik. Jangan bilang---
"Pernikahan kamu Ayu. Kamu sudah setuju kan tadi malam?." Matanya membulat sempurna.
__ADS_1
Ap- apa?! Nanti malam?! Beneran ini?!...
"Kamu kenapa sayang? bengong gitu?." Sang Mama menghampiri kakak beradik yang sedang berbicara. Ia perhatikan putri bungsunya malah bengong seperti orang ling-lung.
"Ini bener nikahannya nanti malem Ma?." Masih berusaha mencari kepastian.
"Loh iya. Kamu bilang sudah musyawarah sama Surya tadi malam?."
"Tapi dia--
Arrghh aku pikir setidaknya minimal satu minggu lagi. Lah ini... nanti malam?!
"Sudah-sudah ini kan kesepakatan kalian, masuk kamar kamu gih. Ada mbak yang akan bantu kamu bersih-bersih."
"Ayo. Kakak anterin ke kamar kamu." Kak Mala menarik pergelangan tangan adiknya yang seperti enggan untuk melangkah.
Nanti malam aku menikah? dengan Surya?!
.
.
.
.
.
💜💜💜💜💜😉
Bersambung...
Jangan Lupa Like & Komennya Kakak.
Yang Belum Klik '💙' Segera Klik. Oke.😘
.
.
.
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Bagi Yang Menjalankan.💚
.
.
__ADS_1