
Sebuah mobil kijang keluaran 2000 berwarna navy, melesat. Membelah jalanan kota. Deru mesin terus meraung-raung namun tidak dengan pengemudi dan penumpangnya. Mereka diam seribu bahasa. Seolah bisu. Masing-masing terhanyut dengan pikiran masing-masing.
"Kamu yakin anak itu darah daging kamu?"
"Hmmmm, Arya yakin"
Satya kembali fokus pada kemudinya. Menyusuri jalanan sesuai petunjuk Arya. Jalanan kian sepi, kini mereka memasuki sebuah gang elite disudut kota.
Rumah yang tergolong mewah dengan warna abu-abu mendominasi berpagar besi warna senada cukup membuat Satya tercengang.
"Lumayan juga rumah ini. Siapa gerangan orang tua gadis yang bersama Arya ini"
"Setidaknya dia tidak berhubungan dengan yang lebih rendah darinya. Ya meskipun harus putus sekolah, aku yakin bukan perkara sulit untuk mereka mencukupi kehidupanya kelak"
Satya terus membatin.
"Pa, kok malah melamun. Ayo masuk"
"ehhh, iya"
Satya melangkah mendahului Arya. Jangan tanya bagaimana suasana hati Arya. Disisi lain ia tetaplah bocah ingusan yang tak bernyali kuat untuk menghadapi semua ini. Tapi demi Andini dan kehidupan yang telah lama dirancangnya ia membulatkan tekad.
***
"Duduk dulu Pak, Mas. Saya panggil Ibuk"
"Terimakasih"
Satya mengulas senyum seraya duduk disofa berwarna putih itu. Nyaman. Bagaimana tidak. Sofa berkelas. Sepanjang mata melihat interior rumah ini amat membuat decak kagum.
__ADS_1
Mbok Lela teringat pesan Andini, bahwa hari ini Arya akan datang. Maka segera Mbok berlari untuk memberi kabar itu.
"Non, sepertinya didepan itu Arya. Sudah saya suruh masuk dan sedang menunggu Non"
"Baik Mbok, saya ganti baju sebentar. Tolong Mbok beritahu mama papa"
Andini bangkit dari tempat tidurnya. Segera berlari kecil ke kamar mandi.
Andini memilih dress tutu selutut berwarna putih gading. Rambut dibiarkannya terurai dan tak lupa menambahkan pita mutiara tepat diatas telinga kanannya. Gadis manis dengan tinggi 160cm itu sempurna.
"Ya tuhan, semoga pertemuan hari ini lancar."
Tak mampu dipungkiri perasaan was-was Andini kian menjadi-jadi. Sambil memoles sedikit lipgloss pada bibirnya ia berusaha mengatur nafas. Grogi, takut, kerinduannya pada Arya bersatu. Perasaan itu seolah-olah menari-nari dihati tak satupun ada yang mengalah.
***
Tok tok tok
"Siapa Mbok?"
"Sepertinya Arya dan orang tuanya"
"Baik Mbok, katakan pada mereka untuk menunggu saya dan bapak akan menyusul"
"Baik Buk"
Setelah Mbok Lela beranjak, Lita segera mematungkan wajahnya didepan kaca besar. Ia memastikan tampilannya baik-baik saja. Masih dengan baju kantor yang melekat Lita tampak anggun layaknya wanita karir pada umumnya. Usia yang hampir menginjak kepala empat itu tak memudarkan pesonanya. Tak heran Andini memiliki paras yang tak kalah mempesona.
"Pa, mereka datang"
__ADS_1
Doni yang sedang menyerumput teh dibalkon beranjak.
"Ma, ingat. Kita bicarakan semua baik-baik. Jangan tersulut emosi."
"Ya pa. Mama tau kok"
"Bagaimanapun ini semua terjadi karena kelalaian kita menjaga Andini. Jadi, papa harap semua bisa selesai dengan jalan terbaik"
"Arya sudah mau bertanggung jawab saja itu sudah lebih dari yang papa bayangkan"
"Ya Pa, semua akan kita bicarakan dengan kepala dingin. Apa lagi ini pertemuan perdana kita. Mama harap semua terselesaikan."
"Amiiinn"
Ketiganya menuruni anak tangga, tentu saja Andini mengekor dibelakang. Dapat terlihat jelas dua sosok lelaki tengah duduk menunduk saling diam diruang tamu.
Hingga kedua tamu itu menyadari bahwa tuan rumah kini telah berdiri dihapadannya.
Deg!!!
Lita terperanjat menyaksikan wajah yang tak asing berdiri di depannya. Hal serupapun tak kalah hebatnya dengan Satya. Luka lama terkoyak kembali mengalirkan darah yang meletop ke ubun-ubun.
"Satya!!!"
Lita memekik.
"Buat apa kamu kesini, pergi. Manusia jahannam. Bukankah sudah kukatakan jangan pernah muncul dihadapanku. Lelaki tak tau diri"
Semua yang hadir diruangan terperanjat kebingungan. Menyaksikan kemarahan Lita yang tiba-tiba.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya? Bagaimana mungkin mama Lita mengenal Satya. Ahhh semua mungkin. Bukankah dunia ini hanya selebar daun kelor, katanya.
Air dari berbagai anak sungai bukankah mungkin akan mengalir menuju muara yang sama?