
Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian mencekam itu terjadi.
Lita sudah pulih. Dan ia sudah mulai kembali ke kantor seperti biasanya. Sedangkan Andini hidup terkurung bak burung disangkar emas.
Drrrrrtttt.....Drrrttt.....
Sambungan telpon itu berhasil. Lita sudah siap dengan smartphone ditelinganya.
"Haloooo.." terdengar sahutan seorang wanita diseberang sana.
"Susi, ini Lita. Ada hal mendesak yang ingin ku bicarakan"
"Aduuuh Lita, kukira siapa. Lama betul kita tak berkomunikasi"
"Begini saja, saya tunggu kamu dirumah. Kebetulan minggu ini waktu saya luang. Kita akan leluasa berbicara disana"
"Baik lah. Saya dan Mas Doni akan mengunjungi kalian. Terimakasih Susi"
"Ya, sama-sama"
Tuttt... Tuuttt... komunikasi virtual itu terputus.
Susi adalah sahabat lama Lita. Mereka tinggal dikota Bandung. Tak jauh. Hanya menempuh jarak 151km saja.
Susi dan seorang suaminya merupakan pengusaha tekstil ternama. Kejayaan mereka kini tak terlepas dari campur tangan Lita dimasa lalu. Kesibukan masing-masing dan jaraklah yang membuat keduanya jarang bersua. Kecuali ada hal mendesak seperti saat ini.
***
__ADS_1
"Bagaimana kabar suamimu Susi?"
"Alhamdulillah Baik Lita, Kebetulan hari ini mas Danu harus ke Bali untuk beberapa hal penting. Jadi tidak bisa menyambut kalian."
"Ohhh tidak apa-apa"
Sahut Lita ramah. Doni hanya diam mematung sambil sesekali mengangguk menyimak keduanya bercengkrama. Ya, karena Doni sejati tidak begitu mengenal bagaimana persahabatan Lita dan Susi terjalin.
"Si, kamu ingatkan waktu dulu aku pernah ngomong. Suatu saat aku akan meminta hak dari kalian yg pernah kalian janjikan"
"Ya, tentu saja Lita. Kami masih memegang janji itu. Apa yang bisa kami bantu?"
"Ini sedikit berat Si,"
"Heiiii.... jangan sungkan. Bahkan tanpa bantuanmu dulu mungkin sampai hari ini kami masih menggembel dijalanan"
"Ahhh.. sudahlah tak perlu membuka detail sama lalu. Aku jadi tak enak" Sambut Lita.
"Ya Terimakasih." Angguk Doni yang sedari tadi mematung menyimak keduanya.
"Adrian, aku ingin dia menjadi suami anakku Susi, Andini"
Susi sedikit terkejut dengan permintaan Lita. Ahhh sungguh permintaan yang tak diduga. Adrian menikahi Andini? Sedang Susi Tahu anak angkatnya itu sudah memiliki kekasih. Meski keduanya belum membahas ketingkat pernikahan. Tapi....
"Adrian, kamu yakin Lita? Kamu tahukan asal usulnya dia?"
"Jelas. Aku tak mempermasalahkan itu. Yang kutahu ia tumbuh dididikan kalian"
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba sekali Lita?"
Akhirnya Lita membongkar semua yang telah terjadi antara Andini, Arya dan Satya. Susi tak habis pikir bagaimana masa lalu bisa hadir kembali.
"Lita, aku perlu membicarakan semua ini dengan Mas Danu dan Adrian tentunya. Tak mungkin bisa kuputuskan sendiri"
"Kami akan menunggu keputusan itu Si. Aku harap kalian memberi kabar baik"
"Baiklah"
Ada sedikit keraguan dari janji Susi hari itu. Bagaimana mungkin Adriannya akan menjadi ayah dari anak yg bukan benihnya? Lain hal jika Andini tak berbadan dua. Susi masih termangu diruang tamu menimbang semuanya.
***
"Apa ma? Mama serius?"
"Ya nak, kalau saja bukan karena janji kami dimasa lalu mungkin takkan seperti ini jadinya"
"Maafkan kami Adrian?" Mas Danu menimpali.
"Ma, beri waktu Adrian berpikir."
"Baiklah nak."
Adrian tak menyangka akan ada hari terberat dihidupnya. Bagaimana jika ia menyetujui pernikahan ini? Andini, siapa Andini? Anak itu? Lalu Citra kekasih hatinya, tegakah ia memporak-porandakan semua janji dan cinta yang telah terikat rapi? Adrian menutup muka lalu membenamkan diri ke kasur mewah itu.
Tapi janji adalah janji. Janji adalah hutang yang harus dibayar.
__ADS_1
Namun, Adrian tak punya senjata untuk menolak semuanya. Ia bukanlah siapa-siapa jika 20 tahun silam tak diambil dari jalanan oleh Susi dan Danu kala itu. Mungkin ia tetap akan menjadi pengais sampah yatim piatu yang tak memiliki masa depan.
Bersyukurlah kamu Andini, atas garis yang telah ditoreh untukmu. Setidaknya jika Arya ditolak mentah-mentah. Adrian hadir menyelamatkanmu. Bukaan, Kalian tepatnya.