
Setelah berakhir kisah Om Felix, mati dengan cara mengenaskan.
Tante Ira berjanji tak akan pernah berhenti mencari Talita, baginya uang 1 M bukanlah sedikit. Mau bagaimana pun keadaan Talita, Talita harus tetap di temukan dan harus di bawanya.
Hari ini tampak begitu cerah, Talita sedang sarapan pagi. Sudah hampir 2 minggu ini Talita bekerja di toko penjualan bunga.
Sebelum pergi ke toko, Talita menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu. Sudah hampir sebulan Talita tinggal di kota bandung.
Talita bersyukur bisa terbebas dari cengkaraman Om Felix. Talita mengingat buah cabe yang di tanamnya tapi Talita sudah mengikhlaskannya, karena lebih baik dia menjauh dari rumahnya dari pada menjadi budak naf*su Om Felix.
Sehari-hari Talita berjualan bunga di pinggir jalan. Sebenarnya Talita maunya mencari kerja di toko yang lebih bagus tapi mengingat ijazahnya hanya ijazah SMP saja terpaksa Talita melamar bekerja di toko bunga.
Walau gajinya kecil tapi Talita bersyukur masih bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Apalagi dia hanya sendiri, tentu hanya makan saja.
Talita memilih untuk memasak makanannya dari pada membeli makan. Baginya jika dia memasak lebih hemat dari pada harus membeli.
Pekerjaan Talita di toko bunga tidak terlalu berat. Tugasnya Talita hanya merangkai bunga dan menawarkan bunga kepada setiap orang yang lewat.
Upah yang di terima hanya sebesar 500rb/bulan. Bagi Talita itu sudah lebih dari cukup.
Setelah selesai sarapan, Talita mencuci piring dan setelah semua beres. Talita segera pergi ke toko bunga yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat kerjanya.
Talita berjalan kaki menuju tempat kerjanya. setelah sampai di toko, Talita segera mengambil beberapa helai bunga mawar untuk di jualnya di depan toko.
"Bunga"
"Bunga"
"Bunga"
"Murah meriah, murah meriah"
"10 ribu per tangkai, 10 rb pertangkai sudah di hias, 1 buket bunga 25 ribu, ayo kakak adik om tante"
"Bunga, bunga, bungaaaa"
Talita berteriak di depan toko bunga yanh dia jual.
Terkadang ramai, terkadang agak sepi.
Jika toko sepi , terkadang Talita menyiram bunga-bunga. untuk itu pemilik toko sangat menyayangi Talita.
"Kamu anak yang rajin Nak" ucap Ibu Ramlah pembilik toko.
__ADS_1
"Ini sudah kewajiban saya Bu"
"Tapi anak yang lama tak pernah seperti ini, kau lihat bukan?!"
"Ini tak seberapa pekerjaannya bu, dari pada Ita hanya duduk diam lebih baik mencari pekerjaan yang bermanfaat"
"Trima kasih Nak, jika kamu sudah sebulan kerja. Ibu akan menaikkan gajimu nanti"
"Trima kasih Bu, Ibu sangat baik padaku"
"Sama-sama Nak"
Ibu Ramlah pergi meninggalkan Toko, memang hanya sekali-kali saja Ibu Ramlah akan datang memeriksa tokonya.
Untuk itu sudah sering dia melihat Talita bekerja tanpa harus di suruh atau di perintah. Dan Ibu Ramlah sangat senang Talita cepat belajar merangkai bunga.
Karyawan yang lain juga sangat senang pada Talita. Ada Mbak Ana,Mbak Ika,Kak Sony, mereka tau Talita sudah anak yatim piatu. untuk itu mereka senang dengan Talita karena Talita cepat belajar dan membuat pekerjaan mereka cepat selesai.
Apalagi Talita sangat cekatan dalam bekerja, disiplin dan tak pernah mengeluh jika di perintah merangkai bunga.
Hari menjelang malam, Talita bersiap untuk pulang ke rumahnya. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Toko mereka hanya tutup sampai jam 8 malam. Jika lembur pasti sampai jam 10 malam, itu jika ada pesanan bunga yang sangat banyak.
Hari ini Talita pulang tepat waktu. Tak ada pesanan dari tokonya.
"Iya Dek" ucap mereka serempak.
"Hati-hati" ucap Kak Sony.
Talita menyusuri jalan setapak, sebelum pergi ke rumahnya, Talita singgah di warung kaki lima yang berada dekat dengan rumahnya.
"Bude, nasi pecelnya satu ya"
"Eh, Nak Talita, mau yang seperti yang biasa Nak?" tanya mbak Evi pedagang nasi pecel.
"Iya bude" jawab Talita.
Mbak Evi pun membungkus nasi pecel pesanan Talita, tak lupa kerupuknya di masukkan ke dalam kantong plastik. Mbak Evi menyerahkan sebungkus nasi pecel dan Talita pun juga menyerahkan uang 10 ribu pada Mbak Evi.
Talita pun segera kembali ke rumahnya, sesampai di rumahnya, tak lupa Talita membersihkan diri terlebih dahulu. Seharian bekerja di toko bunga membuat tubuhnya Talita begitu lengket dengan keringat.
"Alhamdulillah, aku tak hamil" ucap Talita ketika melihat ada bercak da*rah di **********.
Talita begitu sangat bahagia, awal yang baru telah di mulai hari ini dan ini saatnya Talita meniti kehidupannya di masa depan.
__ADS_1
Dia bersyukur bisa terbebas dari cengkraman Om Felix. Walau memang berat rasanya, meninggalkan rumah peninggalan orang tuanya bahkan kuburan orang tuanya.
Bagi Talita tak masalah, asal bisa terbebas dari belenggu Ayah Tirinya.
Mulai saat ini, Talita hanya tinggal sendiri tanpa ada sanak saudara di dekatnya.
Talita memulai kehidupan yang baru tanpa ada gangguan siapapun.
Setelah membersihkan dirinya, Talita mengambil bungkusan nasi pecelnya yang sudah di belinya.
"Alhamdulillah, atas berkat hari ini"
Talita makan dengan lahap, dia nampak sangat menikmati makan siangnya.
Hari ini di lewati dengan rasa syukur tak terhingga, bisa bekerja dengan nyaman dan pulang di rumah tanpa ada rasa takut bahkan was-was di ganggu Ayah Tirinya.
Sudah hampir sebulan ini Talita tinggal di daerah bandung. Dan dia bersyukur sudah hampir 2 minggu lamanya bekerja di toko bunga.
Uang simpanannya pun masih ada tersisa. uang ini akan di gunakan untuk memenuhi kebutuhannya sebelum dia bisa gajian.
Talita pun segera mengistirahatkan tubuhnya. Seharian bekerja sangatlah menguras tenaganya.
Ketika berbaring, Talita mengingat kedua orang tuanya. Talita segera mengambil foto kedua orang tuanya dan melihat foto Ibu dan Ayahnya, tak terasa air matanya menetes di pipinya.
"Ayah, Ibu, maafkan Talita meninggalkan makam ayah dam ibu"
"Maafkan Talita yang tak bisa merawat rumah peninggalan ayah dan ibu"
"Maafkan Talita yang belum sempat membalas budi baik Ibu dan Ayah"
Isak tangis pilu terdengar di kamar yang hanya seukuran 3 x 4 meter.
Hiks... hiks.. hiks
Talita tak tega mengingat keadaan ayah dan ibunya. Talita hanya bersyukur bisa terbebas dari Ayah Tirinya.
Tak sadar Talita tertidur dengan memeluk foto ayah dan ibunya. Dia sangat sedih mengingat kejadian bersama ibunya.
Tubuhnya tertidur dalam tangisan, rasa kangen terhadap kedua orang tuanya sangat begitu dalam. Setelah sebulan lamanya dia meninggalkan kota kelahirannya.
Beruntung orang-orang di sekitar Talita begitu baik dengannya. Tetangga-tetangganya di sekitar kos-kosannya pun begitu baik. Mereka ramah terhadap Talita. Untuk itu Talita sangat bersyukur di kelilingi orang-orang yang sangat baik.
TBC....
__ADS_1