Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Tawanan


__ADS_3

Setelah sampai di Jakarta, Talita di masukkan ke dalam kamar yang berukuran besar. Bak seperti putri raja, dia di mandikan dan di beri makan yang enak-enak.


"Kamu itu terlalu kurus, kamu harus gemuk berisi, setelah itu kau bisa bekerja kepadaku!!," ucap Tante Ira setelah melihat Talita makan dengan lahapnya.


"Ba-ik Tante"


"Panggil aku madam Ira,"


"I-iya ma-dam Ira," jawab Talita dengan terbata.


"Jangan lupa konsumsi obat penambah berat badan ini, biar kamu cepat bisa menghasilkan uang untukku, Paham!!,"


"Pa-ham ma-dam Ira"


Talita pun mengambil obat yang di berikan madam Ira, dan segera meminumnya sebutir. Dia tak ingin madam ira memarahinya lagi.


Setelah meminum obatnya, entah mengapa mata Talita menjadi mengantuk. Dia pun terbaring di atas ranjang.


Madam pun melihat Talita yang sedang tidur nyenyak.


"Cantik, sebentar lagi kamu akan menjadi idola clubku" ucap Tante Ira dengan senyum simriknya.


Setiap hari Talita tidak pernah bekerja, dia di perlakukan layaknya seorang putri. Setiap hari juga dia di timbang berat badannya, bahkan dia di lulur dan mandi kembang.


Di balik itu Talita tetap saja mukanya murung.


"Kamu kenapa murung terus, apa kamu tak senang di perlakukan seperti ini" ucap Tante Ira sambil menarik rambutnya Talita ke belakang.


"Sakit ma-dam, sa-kit,"


"Awas saya liat lagi kamu tetap saja murung, aku akan mengembalikan kamu menjadi pembantu di rumah ini"


"Lebih baik saya jadi pembantu saja Madam, Talita mohon"


"Heh!!, enak sekali kamu bicara. Sudah sebulan ini aku sudah susah payah membuat kamu lebih cantik, sekarang kamu ingin jadi pembantu!!," teriak Tante Ira sambil terus menarik rambut Talita.


Rambut Talita serasa akan tercabut dari kulit kepalanya tapi Tante Ira terus menariknya.


"Sakit Ma-dam, sa--kitt" ucap Talita meringis kesakitan.


"Aku mau menurutiku atau tidak, jawab!!!," teriak Tante Ira lagi.


"Baik-lah Madam, aku janji ti-dak akan membantah perin-tah Madam," ujar Talita dengan terbata-bata meringis kesakitan.


"Mulai sekarang kamu jangan pernah membantahku, atau kau akan mendapat ganjarannya,huh!!." bentak Tante Ira sambil melepas rambut Talita dengan hentakan yang sangat keras.


Talita tersungkur ke lantai, di lihatnya ada beberapa helaian rambut di tangannya Tante Ira.


Dia pun hanya meringis dan matanya berkaca-kaca.


Entah mengapa penderitaannya tak pernah lepas darinya. Walau sebulan yang lalu dia bisa memulai hidup baru, tapi sekarang kehidupannya bagaikan di neraka. Di tawan di tangan Tante Ira lebih membuatnya bagai tak berdaya.


***


Tak terasa sudah 2 bulan lamanya Talita mendekam di dalam kamar yang di sediakan Tante Ira. Di dalam kamar itu, Talita di ajarin cara mempercantik diri bersolek untuk diri sendiri.


Talita sudah terlihat cantik berisi bahkan kulitnya tampak putih bersih.

__ADS_1



Tante Ira pun memanggil Talita datang ke hadapannya. Talita pun duduk di kursi yang di sediakan, di sebelah tempat duduk Tante Ira.


"Talita, kamu pasti sudah banyak belajar di sini, sudah saatnya kamu saya akan berikan tugas pertama,"


"Tugas apa Madam?," tanya Talita.


"Tugas untuk melayani tamu VIP di club Ria"


"Malam ini jadwal pekerjaanmu yang pertama"


"Tapi, Madam...,"


"Aku tak mau ada penolakan!"


"Baiklah, Madam,"


"Ingat, apa pun tamu inginkan, harus kamu lakukan!"


Talita hanya mengangguk, tak berani membantah sepatah kata pun.


"Kamu akan saya antarkan dahulu, di sana sudah tersedia kamarmu dan keperluanmu"


"Bersiap-siaplah kita akan berangkat sekarang,"


Talita pun segera masuk ke dalam kamar dan membawa tas selempang berisi handponenya.


Tante Ira dan Talita pergi bersama sopir menuju ke club ria. Bau alkohol menyusuk di hidung setelah memasuk ke dalam club. Semua pandangan memandang kecantikan Talita.


Yang laki-laki terpana sedangkan yang wanita memandang tak suka, kecantikan Talita pasti akan mempengaruhi pendapatan mereka nanti.


"Di sini tempatmu, gantilah bajumu yang lebih seksi lagi"


Talita hanya mengangguk dan segera mengganti pakaiannya yang lebih terbuka lagi.


Tante Ira pun memanggil semua karyawannya. Dan Talita pun di perkenalkan satu persatu dengan karyawannya.


Karyawan yang wanita mau tak mau harus berkenalan walau ada rasa tak senang. Bagi mereka Talita akan menjadi primadona di club itu nanti.


"Saya, Talita," ucap Talita dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Perkenalkan saya santo,bartender" ucap Santo, dia bekerja di bagian bartender.


"Saya Radit, Dj di sini"


"Pingkan, sepertinya pekerjaan kita sama" ucapnya sambil melirik tak suka.


"Rosa,"


"Siska,"


"Febi,"


"Dewi,"


"Santi"

__ADS_1


"Femi"


"Inka"


"Indri"


"Indah"


Sekitar 10 wanita yang bekerja di club itu, ada yang memandu lagu untuk pengunjung, ada juga yang hanya menjadi pemuas ranjang saja.


Setelah berkenalan mereka semua meninggalkan Talita bersama Madam.


"Ingat, jangan berbuat ulah, siapa pun pelangganmu, kamu harus memberi servis yang sangat memuaskan," bentak Tante Ira memperingati Talita.


"Kamu mengerti tidak?!," teriak Tante Ira karena Talita tidak menjawab perintahnya.


"Menger-ti Madam," jawab Talita gugup


"Hanya awal saja kamu akan gugup, selanjutnya kamu pasti akan terbiasa,"


"Aku punya tamu khusus malam ini, berikan servismu yang terbaik"


"Ii-iya Madam,"


Tante Ira pun meninggalkan Talita berada di kamar sendiri.


Talita melihat penampilannya di depan cermin, dia membenci pakaiannya yang setengah telan*jang.


Ingin rasanya dia lari dari club ini tapi keadaanlah tak memungkinkan. Banyaknya anak buah Tante Ira membuatnya mengurungkan niatnya untuk kabur.


Berulang kali dia akan kabur ketika di rumahnya Tante Ira tapi tetap saja Talita akan tertangkap juga. Talita sudah putus asa untuk kabur kembali. Dia hanya pasrah dengan keadaan.


Tak lama terdengarlah pintu kamarnya di ketuk


seseorang.


Jantung Talita berdegub kencang, Talita ketakutan, dia tak ingin membuka pintu kamarnya.


"Talita, buka pintunya," suara Tante Ira terdengar dari luar kamar.


Mau tak mau Talita membuka pintu kamarnya. Di lihatlah Tante Ira bersama pemuda blasteran mungkin India atau Pakistan.


"Dia baru datang dari Pakistan, namanya Erik, dia sudah bisa berbahasa Indonesia seperti kita"


"Erik ini Talita, masih baru di sini. Semoga kamu akan puas dengannya"


"Erik," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Talita," ucap Talita membalas uluran tangannya.


Erik pun tak mau melepas uluran tangannya Talita, Talita berusaha menarik tangannya tapi tetap di tahannya.


Tante Ira pun tersenyum simpul, hari ini uang 20 juta sudah berada di tangannya. Perasaannya sangat bahagia, terlebih awal Talita datang ada yang langsung ingin berkencan dengannya bahkan tanpa menawar tawaran Tante Ira sebesar 20 juta per malam.


Tante Ira pun keluar dari kamar Talita, dia membiarkan mereka berdua di dalam kamar.


Yang terpenting bagi Tante Ira, uang sudah berada di tangannya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2