
Tuan Adi pun tertunduk.
Benar apa kata Dokter, Tuan Adi trauma akan perlakuan masa lalu.
Tuan Adi pun menceritakan kisahnya.
Dari dia masih kecil hingga waktu itu kejadian naas menimpanya.
Orang yang harusnya melindunginya menjadi pembawa mala petaka untuknya.
Kejadian itu pada saat umurnya 10 tahun. sodara dari ayahnya datang dan berbuat perbuatan yang tidak pantas untuknya.
Omnya mengancam akan membunuhnya atau membunuh ayahnya jika dia membuka mulut.
Karena diancam seperti itu, Tuan Adi tak bisa menceritakan kepada Ibunya atau ayahnya.
Ayah dan Ibunya Tuan Adi juga sering tak di rumah karena menjalankan bisnis kakeknya.
Hingga berulang kali di lakukan, makin lama Tuan Adi menyukai permainan Omnya itu.
Bahkan Tuan Adi sangat suka jika dia bisa menyakiti Omnya. Jika dia menyakiti Omnya timbul ke anehan dalam dirinya.
Akhirnya Omnya tak sanggup jika harus di sakiti, hingga dia meregang nyawa.
Mulai saat itu Tuan Adi punya fantasi seperti itu.
Setelah Omnya meninggal, Tuan Adi tak pernah melakukan dengan siapapun.
Hingga dia di jodohkan dan menikah, tapi dia tak pernah bergairah setiap melakukan dengan istrinya.
Karena di jodohkan mau tak mau istrinya tetap mendampinginya.
Hingga suatu hari tak sengaja Tuan Adi memukul istrinya, bukannya Tuan Adi merasa bersalah malah di gauliny istrinya berulang kali namun tetap di sakitinya.
Setelah kejadian itu, istrinya meminta cerai hingga dia di laporkan ke kantor polisi.
Talita yang mendengarnya pun cukup sedih, hampir sama dengannya yang di renggut mahkotanya pada saat usia 13 tahun.
Hidupnya dan Tuan Adi sama-sama di sakiti oleh orang terdekat.
Bedanya Tuan Adi bisa melanjutkan hidup dengan sewajarnya.
Kalau Talita harus menjadi budak nafsu orang-orang karena di jual oleh ayah tirinya.
Dokter yang mendengar kisahnya pun segera merekomendasi psikiater yang biasa bekerja sama dengannya.
Setelah di beri resep dan mereka menebusnya, mereka pun jalan-jalan sebentar di mall.
Tuan Adi dan Talita pergi makan malam di cafe yang biasa Tuan Adi datangi.
Talita pun terperangah dengan Mall yang sangat besar dan mewah.
2 tahun lebih hanya berada di club tak pernah sekalipun jalan-jalan membuat Talita senang saat ini.
Talita pun mengalungkan tangannya di lengan Tuan Adi.
Tuan Adi tersenyum dengan tingkah Talita.
"Sayang, kamu mau makan apa"
Cukup romantis.
Baru kali ini Talita bagai di bawa angin surgawi.
__ADS_1
"Apa saja, asal halal aku suka"
"Sepertiku yang halal, kamu suka?"
Pertanyaan Tuan Adi membuat pipinya merona dan jantungnya Talita berdegub dengan kencang.
Beruntung Talita memakai cadar, sehingga Tuan Adi tak melihat wajahnya bak kepiting rebus.
Talita hanya mengangguk.
Tingkahnya Talita membuat Tuan Adi begitu gemes.
Ingin rasanya dia menggigitnya, baru mengingat menggigit saja pikiran kotor Tuan Adi langsung muncul.
Talita yang melihat wajah Tuan Adi yang merona pun tau apa yang terjadi dengannya.
"Tarik nafas sayang, kita ada di lingkungan umum"
Tuan Adi pun berusaha menahan segala yang ada di pikirannya.
Tadi beruntung Dokter Donny mengatakan cara bagaimana mengendalikan sesuatu yang ada di pikirannya.
Lambat laun perasaannya Tuan Adi mulai stabil.
Mereka pun memasuki restoran padang.
Mereka memesan rendang dan nasi padang.
Restorannya cukup ramai. Untuk itu Tuan Adi memesan room VVIP yang hanya di isi oleh mereka berdua.
"Syukur, si gemes makai cadar, jadi tak seorangpun yang melihat kecantikannya" batin Tuan Adi.
Setelah beberapa saat pesanan mereka telah di sajikan di atas meja.
Mereka pun menyantap makanan sambil bersenda gurau.
Hari ini Talita begitu bahagia, baru kali ini di ajak makan sambil jalan-jalan membeli cemilan.
Talita memasuki toko baju yang terkenal di kota Surabaya.
Talita pun sedang melihat-lihat aneka ragam hijab yang nantinya akan di pakai di rumah saja.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
Tiba-tiba saja ada yang menyenggol Talita.
Tuan Adi marah kepada sosok yang ada di depannya. Dia mengenal dengan jelas.
Matanya melotot.
Aku pun menggeleng.
"Sayang, ini tempat umum. Ayo kita ke sebelah saja"
Tiba-tiba perempuan itu menarik hijab Talita.
Beruntung Talita menahannya.
"Marta, apa yang kamu lakukan"
Perempuan itu tersenyum. Marta memang sengaja membuat Tuan Adi marah hingga libidonya naik.
"Ayo tampar"
__ADS_1
"Bukankah itu yang ku sukai?" sinis Marta.
Talita memang tidak pernah melihat mantan istrinya Tuan Adi.
"Aku sudah tidak punya urusan dengan kamu, apa yang kamu inginkan telah aku penuhi"
Talita langsung menebak, pasti ini mantan istrinya.
"Aku belum puas sebelum kamu jatuh sejatuh-jatuhnya"
"Lihatlah bekas ini"
Talita langsung membuang muka melihat ke samping. Goresan di perut mantan istrinya begitu menakutkan.
"Kamu sih enak, bisa nikah lagi. Sedangkan aku?"
"Aku ingin seluruh hartamu"
"Cukup Marta, semua telah kita selesaikan di pengadilan"
"Itu masih kurang buatku"
"Itu terserah padamu, karena semua permintaanmu telah aku penuhi di pengadilan. Jadi sekarang aku tak punya urusan denganmu"
"Ingat! Jangan ganggu keluarga baruku"
"Aku tak akan berhenti sebelum apa yang aku minta belum kau penuhi"
"Bulshit" geram Tuan Adi.
"Aku tak perduli" lanjut Tuan Adi sambil menarik tangan Talita.
Talita bingung mau bicara apa. Satu sisi kasihan dengan kondisi mantan istri suaminya. Dan satu sisi dia belum mengenal lebih jelas siapa suaminya karena baru 3 hari menjalani biduk rumah tangga.
"Aku akan buat kau menyesal" Teriak Mantan Istri Tuan Adi.
"Whatever" ucap Tuan Adi sambil terus menarik tangan Talita agar menjauh dari Mantan Istrinya.
***
"Maaf, aku belum menceritakan sosok mantan istriku" melas Tuan Adi sambil menunduk.
"Tidak masalah mas, itu adalah masa lalumu. Sekarang adalah masa depan kita."
"Aku beruntung mempunyai istri seperti kamu, kamu memang terlihat muda namun pikiranmu sudah dewasa"
"Pengalaman yang membuatku dewasa mas, aku hanya berharap kehidupan kita selalu di warnai dengan kejujuran dan kepercayaan"
"Aku janji akan membuatmu bahagia"
"Trima kasih mas, trima kasih untuk segalanya. Di keluarkan dari club saja sudah membuatku bahagia. Sekarang waktu aku membalas budi, seperti yang kamu bilang, semuanya tidaklah gratis, benar kan?" ujar Talita.
Tuan Adi mencubit pipi Talita.
Gemes deh.
Talita pun menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Adi. Tuan Adi memegang lembut jemari Talita.
Di pikirannya Tuan Adi, bagaimana caranya menjauhkan dirinya dan Talita dari sosok Marta yang keras kepala.
Padahal dia sendiri yang minta cerai, dia sendiri meminta saham dan properti keluarga besarnya.
Tuan Adi sendiri telah memberikannya secara cuma-cuma tanpa ada syarat apapun.
__ADS_1
Namun nyatanya Marta belum puas dengan yang di terimanya.
TBC...