
Akhirnya pesawat mendarat sempurna di Surabaya.
"Sayang, apa kamu kecapean ya" tanya Tuan Adi.
"Tidak mas, sepertinya calon anak kita enteng" canda Talita.
Tuan Adi menggenggam jemari Talita lalu menciumnya beberapa kali. Talita yang di perlakukan seperti itu sangat bahagia.
Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah baru Tuan Adi yang lebih besar dari rumah sebelumnya.
"Mas, ini rumah kita" tanya Talita yang keheranan melihat rumah yang begitu mewah dan asri.
"Rumah sebelumnya siapa yang tempati?" pertanyaan demi pertanyaan di layangkan Talita.
"Kamu jangan marah ya sayang, setelah kejadian kemarin, aku menyerahkan Perusahaan dan rumah kepada Ambar, dan kami sudah buat surat perjanjian di kantor polisi juga. Aku hanya ingin hidup tenang merajut asa bersamamu.Setelah itu aku merintis Perusahaan yang baru, syukur masih bisa maju seperti saat ini" Tuan Adi menjelaskan kepada Talita.
"Aku tak ingin mempunyai hubungan dengan mantan istriku, jika hanya perusahaan dan rumah saja yang di inginkan lebih baik aku berikan. Asal dia tidak bisa menggangu kehidupanku dan dirimu sayang" Ujar Tuan Adi lagi.
"Kalau memang yang itu yang terbaik, aku juga setuju mas" Talita memeluk Tuan Adi, membenamkan wajahnya di dada bidang Tuan Adi.
"Ayo kita turun, kamu bisa jalan-jalan melihat kedalam"
"Tunggu mas, kamu bilang rumah dan perusahaan sudah di berikan kepada Ambar, trus rumah ini kamu langsung beli atau..."
Tuan Adi memotong ucapan Talita.
"Ini sebenarnya rumah kamu, setelah aku menikah denganmu, aku telah membuatkan rumah untukmu dan itu mantan istriku tak tau, memang rumah dan perusahaan sudah menjadi milik Ambar, namun tabunganku tak aku berikan"
"Jadi.. "
"Rumah ini atas nama milikmu, semua aset aku sudah berikan atas namamu, jika suatu saat aku mati,aku sudah tenang"
"Astagfirullah mas, jangan berkata seperti itu, memang kita semua akan mati, namun lebih baik Berdo'a panjang umur" cela Talita.
"Apa kamu tak ingin melihat anakmu lahir"
"Aku sudah tak sabar ingin menggendongnya sayang, sudah, lupakan apa yang aku katakan, lebih baik kita ke dalam"
"Lihatlah, Setno sudah menunggu kita dari tadi, malah kita tak turun-turun, Endi tolong bantu aku ya"
"Iya Tuan"
Endi pun bergegas turun dari mobil dan segera membantu Tuan Adi.
Tak lama Setno mendekat dan membantu Tuan Adi juga.
"Setno, bagaimana kerja sama yang kemarin, apa kamu berhasil" tanya Tuan Adi.
"Beres Tuan, namun klien kita ingin bertemu Tuan"
"Cari waktu yang tepat, aku juga ingin bertemu, dan kamu sekarang ke rumah sakit, atur waktu juga dengan Dokter fisioterapy"
"Ini suratnya, kalau memang hari ini sudah bisa, aku mau terapi"
"Baik, Tuan. Aku pergi dulu, Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
__ADS_1
Setno pun bergegas ke rumah sakit, di tengah perjalanan Setno melihat mantan istri Tuan Adi sedang bersama wanita yang tak asing olehnya, mereka berdua duduk di taman kota.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana ya?" gumam Setno
"Aku akan mengawasi mereka nanti" bathin Setno di dalam hati.
Bagi Setno, Tuan Adi bukan lagi bosnya, Namun sodaranya. Begitu juga dengan Tuan Adi.
Bahkan Perusahaan sudah sepenuhnya di percayakan kepada Setno. Setno menjadi Wakil CEO di perusahaan Tuan Adi.
Bahkan Tuan Adi sudah lama memberikan semua fasilitas lengkap untuk Setno semenjak bekerja dengan Tuan Adi.
Untuk itu, Setno tak ingin ada yang mengganggu atau berbuat jahat kepada Tuan Adi.
Setelah setengah jam, akhirnya Setno sampai di Rumah Sakit Harapan Bangsa.
"Assalamu'alaikum suster, mau tanya tempat untuk fisioterapy di mana ya"
"Mas harus ke poli neurologi, nanti ada dokter ahli orthopedy.nah, mas bisa janjian untuk lakukan fisioterapy"
"Berarti besok ya suster,"
"Iya, polinya buka dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore"
"Apa boleh minta nomor handphone dokter ahli Orthopedy biar saya bisa janjian besok?"
"Oke sebentar Mas"
Suster itu pun menelpon dokternya dan menanyakan apa boleh di berikan nomor handphone dokternya. Akhirnya Dokter itu mau memberikannya.
"Ini Mas, Nomor Handphone Dokter Ari"
Setno pun langsung menuju parkiran, dan akan menuju ke rumahnya Tuan Adi.
Ketika melewati taman kota, ternyata sudah tak ada Ambar dan wanita itu.
"Apa mereka sudah pergi dari sini?" gumam Setno lagi.
Dia pun memberhentikan mobilnya tak jauh dari taman kota.
"Sial, aku kehilangan jejak mereka"
"Mulai saat ini aku harus menyuruh seseoeang mengawasi Ambar"
Karena tak menemukan mantan istri Tuan Adi, Setno akhirnya kembali ke rumah Tuan Adi.
Tin! tin!
Satpam yang melihat Setno langsung membukakan pintu gerbangnya.
"Silahkan Tuan"
"Trima kasih supri"
Setno pun memakirkan mobilnya di halaman rumahnya Tuan Adi.
"Nanny, apa Tuan Adi sedang istrahat"
__ADS_1
"Sepertinya begitu Den, Aden makan dulu, Tadi Tuan Adi dan Nyonya sudah selesai makan, mungkin memang lagi istrahat"
"Baiklah Nanny, aku sambil menunggu Tuan Adi aku makan di sini"
Dalam benaknya Setno mengingat-ngingat siapa wanita yang bersama Ambar.
Tak lama Endi menghampiri Setno.
"Hei Endi, ayo makan bersamaku di sini"
"Sudah bos, trima kasih transferannya bos. Sepertinya bos salah transfer"
"Apa masih kurang?" tanya Setno.
"Tidak bos, itu kebanyakan malahan"
"Nggak apa-apa, lebihnya itu sebagai tanda terima kasihku karena kamu sudah menjaga Nyonya dan Tuan"
"Trima kasih Bos"
"Endi, apa kamu mengenal seseorang untuk bekerja memata-matai mantan istri Tuan Adi"
"Bagaimana kalau saya saja Bos"
"Jangan, mereka sudah mengenalmu, aku ingin orang yang tak pernah di ketahui Ambar"
"Baiklah, aku akan mencari orang yang pas untuk pekerjaan itu"
"Baiklah, mungkin Tuan Adi lagi istrirahat, mending aku menelponnya saja jika sudah selesai magrib"
"Iya Bos, Bos mau pulang sekarang"
"Iya Endi, aku harus ke perusahaan lagi"
"Jangan terlalu capek Bos, ingat cari pasangan juga"
"Kamu nih, kamu saja belum punya pasangan apalagi aku yang sibuk ini"
"Hehehe, masih pengen sendiri Bos, Bos kan sudah mapan sebaiknya cari pasangan secepatnya"
"Jodohku lagi di tahan sama Allah Endi, ntar dia turun sendiri" canda Setno.
"Bos, bisa aja"
"Aku pergi dulu ya,"
"Iya Bos"
Setno pun mencari Nanny, dan pamit pulang.
"Nanny aku pulang dulu, kasian mau bangunkan Tuan, sepertinya Tuan capek habis perjalanan jauh"
"Iya Den, nanti kalau sudah bangun Tuan Adi, saya kirim pesan kepadamu"
"Baiklah Nanny, Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" jawab Nanny.
__ADS_1
Setno pun pamit dengan Endi juga, setelah itu dia bergegas ke mobilnya dan menuju perusahaan lagi, pagi ini dia tak sempat ke perusahaan karena menunggu kedatangan Tuan Adi dari Surabaya.
TBC....