Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 42


__ADS_3

Malam hari hujan deras menyapu bumi, semuanya tertidur lelap.


Hanya suara jangkrik yang menggema di pelataran bumi.


"Ayah, bantu aku. Bagaimana caranya mereka harus menderita seperti kita yang di cemooh orang-orang" hiba Pingkan ke Ayahnya Pak Wandi.


"Ayah juga bingung, harus lakukan apa Nak. atau begini saja."


Pak Wandi mendekatkan dirinya ke anaknya dan berbisik di telinganya Pingkan.


"Boleh juga idenya Ayah, harusnya aku seperti itu saja"


"Ayah yakin pasti kamu berhasil"


"Baiklah yah, besok aku mulai menjalankan rencanaku"


"Kalau begitu tidurlah" ucap Pak Wandi seraya meninggalkan anaknya menuju ke kamarnya.


"Maafkan aku Saroh, itu akibat kamu menolakku" batin Pak Wandi mengingat kisahnya.


Flashback On.


Siang hari setelah Pak Wandi singgah makan di warung Nenek Saroh. Pak Wandi mengutarakan rencananya untuk meminang Nenek Saroh menjadi Istrinya.


"Saroh, menikahlah denganku. Jika kamu menikah denganku, kamu tak usah berjualan lagi. Biar aku yang menafkahimu"


"Maafkan aku Wandi, bukannya aku membuatmu terhina dengan penolakanku. Tapi aku sudah terlalu tua untuk menjalin rumah tangga. Aku pasti tambah di benci anak-anakku"


"Kamu jangan jual mahal Saroh"


"Aku ingin hidup tenang Wandi, carilah yang pantas denganmu. Kita saja sudah berbeda umur 10 tahun. Aku mohon kamu mengerti"


"Aku rasa umur bukan menjadi masalah, mungkin kamu mau mencari orang yang lebih kaya"


"Hentikan pemikiranmu itu Wandi, aku sudah tak ingin mau membangun rumah tangga di saat sudah uzur seperti Ini"


"Halahhh... pasti jika ada yang lebih kaya kamu pasti mau menjadi istrinya"


"Terserah apa katamu, yang penting aku tidak seperti yang kamu tuduhkan"


"Baiklah, awas saja jika aku lihat kamu akhirnya menikah,aku akan buat hidupmu menderita"


Pak Wandi pun pergi meninggalkan Nenek Saroh. Nenek Saroh hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak menyangka di usia sekarang ini masih ada yang mau menikahinya.


Semenjak kejadian itu silaturahmi antara Pak Wandi dan Nenek Saroh menjadi renggang.


Flasback Off.


****


"Aku harus membuat Talita menderita, enak banget hidupnya. Aku sudah bertahun-tahun di club cinta, tak ada yang mengeluarkanku. Di saat sudah tak ada Talita malah club cinta terbakar habis" gumam Pingkan.


Flashback On


"Tolong, kebakaran, kebakaran di lantai 3"


Pingkan berlari menuruni tangga darurat. Pukul 3 malam club cinta mengalami kebakaran hebat.


Sebenarnya masih ada yang terjebak di lantai 5, karena tak dapat berlari.

__ADS_1


Semua orang-orang berhamburan di menyelamatkan diri.


Api dengan cepat menyambar kamar-kamar yang ada di sekitarnya.


Tante Ira yang melihat Clubnya terbakar berteriak histeris.


"Clubku, uangku, hiks" tangis Tante Ira.


Mobil pemadam kebakaran tak kunjung datang. Apalagi di lantai 3 ada gudangnya miras, otomatis menambah dahsyatnya kebakaran di club itu.


Setelah satu jam berlalu, mobil pemadam baru datang dan mulai melakukan pemadaman.


Setelah di teliti dan di lakukan investigasi ternyata penyebab kebakaran akibat arus pendek yang ada di lantai 3 di samping gudang penyimpanan miras.


Banyak korban meninggal, sekitar 12 orang terjebak dan hangus di dalam club cinta tersebut dan keluarga-keluarga korban menuntut Tante Ira.


Sejak saat itu, Tante Ira menjadi orang tak waras. Mungkin akibat tekanan dari keluarga korban sehingga Tante Ira menjadi stress dan hilang ingatan.


Tante Ira sering berteriak, kadang daun yang di pegangnya di katakan uangnya dan mau di bayarkan ke keluarga korban.


Pingkan yang tak tau harus kemana terpaksa harus balik pulang kampung.


Dengan bekal uang seadanya, dia akhirnya bisa kembali ke kampung halamannya.


Flashback Off.


Pingkan pun membaringkan tubuhnya di kasur mengistirahatkan badannya. Besok dia akan melancarkan apa yang di katakan oleh Ayahnya.


***


Keesokan harinya.


"Jangan terlalu capek nduk, kasian jabang bayimu" ucap Nenek Saroh sambil mengelus punggung Talita.


"Aku nggak apa-apa Nek, sepertinya anakku pekerja keras"


"Aamiin,"


"Kapan kamu akan memeriksakannya ke dokter nak, ini sudah 4 bulannya" lanjut Nenek Saroh.


"Hari ini Nek, mudah-mudahan hari ini cepat laris manis" imbuh Talita.


"Nggak apa-apa nak, pergilah ke puskes sekarang saja. Biar di sini Nenek saja sendiri"


"Tapi... " ragu Talita.


"Bersiap-siap saja sekarang nak, Nenek sudah biasa menghendel semua sendiri, apa kamu lupa?" ujar Nenek Saroh.


"Kesehatanmu lebih penting, apalagi ada jabang bayi yang harus kamu jaga"


"Baiklah Nek, aku siap-siap dahulu"


Talita pun beranjak ke lantai 2 di ruko. saat ini tempat tinggal mereka ada di lantai 2.


Tak lama Talita sudah memakai pakaian syar'inya.


"Nek, aku pergi dulu, assalamu'alaikum" pamit Talita.


"Hati-hati ya nak, waalaikum salam warohmatullahi wabarakatuh" balas Nenek Saroh.

__ADS_1


Talita pun bergegas pergi ke puskes terdekat dengan tempat tinggalnya dengan menggunakan bentor.


30 menit setelah Talita pergi.


Terlihat pingkan yang sedang tersenyum.


"Bagus, pucuk di cinta ulam pun tiba. Bisa kebetulan ya Talita sedang pergi, harus nunggu ramai dahulu deh" gumam Pingkan sambil melihat sesuatu yang di bawanya.


Seperti biasa jika sudah jam stengah 8 pagi, pasti banyak pelanggan Nenek Saroh untuk datang ke warungnya.


Setelah di rasa cukup, Pingkan pun menghampiri warung Nenek Saroh.


"Tumben tak ada Talita nek?!" tanya Pingkan.


"Talita lagi ke puskes, kamu mau makan?" jawab Nenek Saroh dan sekaligus bertanya kepada Pingkan.


"Iya nek, jangan pedes ya" jawab Pingkan.


Setelah di rasa aman, pingkan pun menuangkan sesuatu di makanan sebelahnya.


Setelah itu dia menyantap makanan yang di hidangkan Nenek Saroh.


Tiba-tiba saja yang di sebelahnya berteriak.


"Astagfirullah, ada kecoa nek di nasi kuningku"


Semuanya nampak kaget dengan teriakan pelanggan Nenek Saroh. Begitu juga dengan Nenek Saroh.


"Uweeekk, ada kecoa" teriak Pingkan.


"Nih, kecoaknya, ih mana udah masak lagi" ujar pelanggan sambil bermimik jijik.


"Uwekk"


"Uwekk"


Semua pelanggan Nenek Saroh memuntahkan nasi yang di makannya.


"Demi Allah, saya masak nasinya higienis bahkan tak ada kecoa yang di sini"


"Tapi ini ada buktinya nek," ucap pingkan memanas-manasin.


"Nenek kok jorok banget sih" ucap pelanggan yang satunya.


Tak lama terlihat Talita turun dari bentor dan memberikan upah ke pengendaranya.


Talita heran melihat pingkan di ruko Nenek Saroh.


"Semoga pingkan tidak berbuat ulah ya Allah" gumam Talita.


Ketika Talita masuk sudah nampak ramai dan menghujat Nenek Saroh.


Terlihat Nenek Saroh menangis sambil menutupi wajahnya.


"Aku bersumpah, aku memasak nasinya dengan baik, tak ada kecoa di sekitarku" hiba Nenek Saroh menjelaskan.


Talita menghampiri Nenek Saroh dan melihat sekeliling pelanggan nasi kuning.


"Ada apa ini" tanya Talita kepada semuanya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2