
Setelah seminggu kemudian
Talita dan Nenek Saroh sudah pindah ke ruko dekat dengan Bandara.
Hari ini di mulai, Talita akan membantu nenek Saroh berjualan Nasi kuning di ruko.
Sebelum pindah Nenek Saroh sudah mengatakan kepada pelanggannya akan pindah ke ruko yang hanya berjarak dekat dengan Bandara.
Nenek Saroh mulai menata tempat nasi kuning dan tempat duduk di dalam ruko.
Dari kejauhan ada seseorang yang nampak tak senang apa yang di lakukan Nenek Saroh dan Talita.
Seseorang itu berencana jahat kepada Talita dan Nenek Saroh. Dia menunggu waktu yang tepat.
Syukur tak berapa lama pelanggan Nenek Saroh mulai memadati warung makan Nenek Saroh.
"3 bungkus Nasi kuningnya Nek" ucap pelanggan Nenek Saroh.
"Pedis semua ya"
"Iya nek"
"Aku 2 Nek, makannya di sini saja" ujar pelanggan ke 2
Talita pun menghampiri pelanggan Nenek Saroh.
"Minumnya apa Mas" tanya Talita.
"Air es saja"
"Oke, ditunggu ya"
Banyak orang mulai memadati warung makan Nenek Saroh.
Tak lama Pingkan langsung datang.
"Oh, bagus ya. Uang hasil jual diri ternyata berfungsi juga"
Talita yang kaget akan kedatangan Pingkan langsung menghampiri Pingkan.
"Stop mulut busukmu di sini, Pingkan. Sebenarnya apa salahku kepadamu sehingga kamu tak pernah berhenti mencari gara-gara kepadaku?" Tanya Talita dengan kilat marah di wajahnya.
Hari ini dia tak akan tinggal diam dengan perlakuan Pingkan.
"Asal kamu tau, tak pernah sepeserpun uang aku terima dari club Cinta. Kamu harusnya senang aku sudah tak ada di sana, mengapa kamu tak menetap di sana saja"
"Pergi dari warung ini, warung ini bukan tempat bergosip" ucap Talita sambil menyeret tangan Pingkan.
Semua pelanggan menatap mereka berdua.
"Jangan ganggu jualan Nenek Saroh" bentak Talita.
"Aku tak akan pergi sebelum membuatmu malu seperti kau lakukan kemarin kepadaku"
"Kamu di buat malu oleh kelakuanmu sendiri Pingkan" bentak Nenek.
"Jika saja Talita tidak membawa buku nikahnya mungkin dia yang akan malu akibat perbuatanmu. Jadi jangan pernah mencari gara-gara di sini" lanjut Nenek Saroh.
__ADS_1
"Eh, Nenek miskin, ini urusanku dengan Talita. Kamu diam saja" balas Pingkan dengan Bentakan.
"Eh, Kami mau makan. Kalau kamu tak mau membeli nasi kuning mending pergi saja"
**(Sebenarnya Mereka pakai bahasa Gorontalo ya, tapi karna banyak yang tak paham jadi saya buat dialognya seperti Biasa) ππ
"Huuhhuuhhh mengganggu orang makan saja" ucap pelanggan yang lain.
"Asal kalian semua tau ya, uang jadi modal ini hasil jual diri, mending kalian bubar saja" teriak Pingkan lagi.
"Aku sudah bilang, aku tak pernah terima upah di club. kalau kamu masih kurang percaya, sebaiknya kamu tanya Tante Ira saja." Ujar Talita lagi.
Airmatanya sudah mau menetes tapi Talita berusaha menahannya dan berusaha menjadi orang yanh kuat, karna apa yang di tuduhkan padanya hanya fitnah semata.
"Uang membeli ruko dan uang modal Nenek Saroh itu adalah hakku yang aku dapatkan dari mahar nikahku. Kalau di club aku tak pernah di beri upah Tante Ira. kau mengerti? sebaiknya pergi dari sini"
"Sudah di jelaskan malah tak percaya, padahal dia sendiri juga jual diri di club" ucap pelanggan Nenek Saroh.
Karena malu akhirnya Pingkan meninggalkan warung Nenek Saroh dengan hati dongkol.
"Huh, liat saja. akan aku buat kalian menderita"
"Kenapa sih kehidupan Talita bagus banget dibandingkan aku" batin Pingkan di dalam hati sambil melihat Talita yang sedang melayani pelanggan dengan membawa minuman yang di pesannya.
Setelah Pingkan pergi, Nenek Saroh meminta maaf atas kejadian barusan.
"Maaf semuanya ya, silahkan makan Kembali"
ujar Nenek Saroh
"Trima kasih ya semuanya" ucap Talita.
****
Sementar di Kota Surabaya.
"Alhamdulillah, ternyata terapiku berhasil dan sudah membuatku benar-benar sembuh" ucap Tuan Adi.
Selama 4 bulan ini Tuan Adi berobat di psikiater untuk penyakit sodomatokisnya.
Dan hari ini Dokter mengatakan bahwa penyakitnya sudah benar-benar sembuh.
"Semangat bos, dan selamat ya bos. Tinggal terapi berjalan lagi"
Akibat kecelakaan mencari Talita, Tuan Adi mengalami kelumpuhan di kedua kakinya.
Ada syarafnya yang terjepit dan itu mengakibatkan kelumpuhan sementara di kedua kakinya.
Tuan Adi sepertinya malas untuk terapi, bagi Tuan Adi lumpuhnya dia akibat berdosa kepada istrinya Talita, sehingga dia tak ingin untuk sembuh.
"Bagaimana, apa sudah kamu kirim mata-mata di sekitar Istriku?"
"Sudah Tuan, barusan ada insiden di warung makannya tapi bisa di atasi oleh istrinya Tuan"
Setno pun menceritakan dengan apa yang di dapat dari seorang mata-mata suruhannya.
"Terus awasi, jangan pernah lengah. Dan satu lagi. Awasi cewek yang membenci istriku. Aku tak ingin sesuatu terjadi kepada istriku nanti"
__ADS_1
"Siap Tuan"
"Bagaimana dengan bisnisku, apa masih lancar"
"Sejauh ini bagus Tuan"
"Pulanglah ke perusahaan lagi, aku ingin istrahat"
"Tuan apa tidak sebaiknya hari ini tuan terapi berjalan lagi"
"Aku sudah membicarakannya Setno, aku tak ingin sembuh. Paham! pergilah!"
"Baiklah Tuan, aku pergi dulu"
"Hmmm"
Setelah Setno pergi, Tuan Adi menjalankan kursi rodanya ke dalam kamar.
Dia pun menuju nakas, dan menarik lacinya.
Tuan Adi mengambil foto Talita.
"Cantik, apa kamu masih ingin kembali kepadaku setelah kamu tau aku telah sembuh dan sudah cacat seperti Ini?" guman Tuan Adi.
"Pasti kami malah jijik kepadaku, maafkan aku"
"Maafkan aku yang telah menyakitimu, padahal aku telah berjanji untuk berubah"
"Sebelum kamu memaafkanku, aku tak ingin sembuh dari cacat ini"
"Talita, aku tetap akan melindungimu sampai kapanpun"
"Aku tetap mengisi uang di rekening khusus untukmu, kamu tetap istriku, sampai kapanpun aku tak akan menceraikanmu"
Air mata Tuan Adi terus menetes, penyesalan terus membayanginya sampai detik ini.
Tuan Adi merasa bersalah telah menyakiti istrinya, padahal Talita berulang kali memohon agar dia fokus dan tidak mengikuti emosinya, tetap saja dirinya tak berhenti menyiksa Talita.
Tak lama Nanny masuk ke dalam kamar setelah mendengar tombol yang di pencet Tuan Adi.
Tombol itu berfungsi jika Tuan Adi menekannya, jika itu berbunyi Artinya Tuan Adi membutuhkan pertolongan.
"Baringkan Aku Nanny, aku ingin tidur"
"Tuan tidak minum obat lagi,?" tanya Nanny.
"Buang semua obatku, aku tak ingin minum obat"
Nanny begitu iba melihat sikap Tuannya. Semenjak di tinggal Talita Tuan Adi berubah 180" derajat. Tak ada lagi gairahnya untuk hidup, bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar seperti sekarang ini.
Perusahaannya telah di serahkan kepada Setno, bahkan urusan dengan klien saja pasti Setno yang akan bertemu.
Nanny membantu Tuan Adi naik ke atas ranjang, setelah itu menutupi selimut sampai di batas perut Tuan Adi.
Tuan Adi segera memejamkan matanya di susul Nanny meninggalkan kamar majikannya.
TBC...
__ADS_1