Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 38


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Talita masuk ke dalam kamarnya di ikuti dengan Tuan Adi.


Tuan Adi langsung duduk di sofa yang berada di ruang kamar mereka.


"Ada apa mas, sepertinya mas ada yang di pikirkan"


Tuan Adi pun langsung menarik Talita, sehingga jatuh ke pangkuannya.


"Ada a apa" gugup Talita.


"Aku hanya minta sama kamu, jangan pernah ninggalin aku walau apapun yang terjadi"


"I iya" Talita berusaha menghilangkan kegugupannya.


Tuan Adi langsung mendorong Atika.


"Bohoongg, semua wanita sama saja" geram Tuan Adi.


Talita yang tersungkur langsung menangis. Tak menyangka Tuan Adi bisa bersikap seperti itu.


"Aku sudah berjanjiii, dari awal jika aku ingin pergi, aku sudah meninggalkanmu pada malam pertama kita. Hiks" Tangis Talita pecah.


Tuan Adi mendekat Talita, di remasnya mulut Talita.


"Mulut ini mau membohongiku"


"Saakiit mas, hiks"


Bak buk bak buk.


Jeritan Talita tak ada yang bisa menahannya.


Ketika di sakiti, bukan saja di sakiti badannya tapi lahiriyahnya pun di hantam ombak nikmat.


Ternyata Tuan Adi tak bisa mengendalikan dirinya.


Semakin Talita berteriak semakin menggebu hasratnya Tuan Adi.


Berulang kali Talita memohon agar Tuan Adi bisa bersabar namun semuanya sia-sia.


***


Setelah puas Tuan Adi tertidur di sampingnya Talita.


Talita menagis tersedu-sedu, tubuhnya bak remuk redam.


Luka yang hampir mengering kini terbuka lagi.


"Aku rapuh, Tuhan. Aku rapuh. Aku tak sanggup untuk hidup lagi" hibah Talita dalam tangisnya.


Talita pun berjalan tertatih-tatih.


Apa aku harus bertahan?


Talita pun melihat wajahnya di cermin kamar mandi.


Hitam membekas di seluruh tubuhnya.


"Aku harus bagaimana Tuhan" batin Talita. Air matanya deras membasahi pipi kelopak matanya tak berhenti meneteskan air mata.


Talita bagaikan keluar dari kandang macan, masuk ke dalam kandang buaya.


Talita menjadi makanan lezat buat sang pemangsa.


Talita segera mengambil tas dan di isi hanya 1 stel pakaian. Cincin yang di berikan Tuan Adi di Mall dan blackcard punyanya Tuan Adi di letakkan di samping nakas.


"Aku tak ingin mati sia-sia" gumam Talita.


Dia pun berencana meninggalkan suaminya.


Toh Talita masih ada cek yang di berikan Tuan Fadly dan Kakek Arya.


Hari ini dia harus pergi dari neraka ini. semula dia mengira Tuan Adi bisa sadar, dan setelah terapi pasti bisa sembuh.

__ADS_1


Talita melihat sekeliling.


Tak tampak satu orang pun di ruang tamu. "Mungkin sedang istrahat." batin Talita.


Talita keluar dari rumah Tuan Adi. Dia pun berkata kepada satpam untuk membeli pembalut, kebetulan pembalutnya sudah kosong.


Satpam pun tak merasa curiga, dan mengizinkan Talita pergi.


Tak ada yang curiga karena Talita memakai baju besar dan bercadar.


Talita bersyukur bisa terbebas dari siapapun.


Hari ini awal kehidupan Talita.


Talita berharap kehidupannya akan mendukungnya nanti.


Walau Talita tak tau harus kemana, Talita tetap menaiki mobil yang menuju ke stasiun.


"Aku harus kemana?"


Talita pun berencana untuk meninggalkan kota jawa.


Talita ingin hidup di pedesaan.


Satu kata terlintas di benaknya.


Aku akan ke sulawesi.


Talita mencari suasana baru, Hingga tak ada yang mengenalnya nanti.


"Ya Allah, ridhoi langkahku" Batin Talita sambil meneteskan air mata.


Cadarnya telah basah dengan air matanya.


***


Sedangkan Di kediaman Tuan Adi.


Tuan Adi mengerjapkan matanya, terlintas kejadian barusan terjadi.


"Talita sayang"


Dilihatnya di sampingnya sudah tak ada Talita. Tuan Adi mengambil handuk dan di lilitkan di tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun.


Tuan Adi melihat walk in closet, di perhatikan tak ada yang berubah di ruangan itu.


Tuan Adi berfikir pasti Talita sedang di bawah bersama Artnya.


Namun dia berfikir pasti tubuhnya lagi sakit setelah apa yang di lakukannya, jadi itu tak mungkin.


Tuan Adi pun keluar dari ruangan, dan dia melihat sesuatu tergeletak di samping nakas.


Cincin dan kartu.


Artinya....


"Talitttaaaaaaaaaaaaaaa" teriak Tuan Adi dengan penyesalan yang mendalam.


POV Adi


Aku kebingungan mencari istriku di setiap sudut rumahku.


Aku hanya berharap dia pindah di kamarnya.


Tapi Aku melihat kamarnya masih bersih seperti semula.


Di tengah kegetiran hatiku, aku mengumpulkan semua Art yang ada di rumahku.


"Nannyyyyy" teriakku lantang.


"Iya Tuan" Nanny dengan tergopoh-gopoh menghampiriku.


"Cepat kumpulkan semua Art yang di sini. Semuanya kerja tak becus"

__ADS_1


"Istriku kabur dari rumah tak satupun orang di rumah ini yang tau" gerutuku.


Darahku serasa mendidih.


"Maaf tuan, kami ada di bagian belakang, membersihkan kebun"


"Setno, cepat cari Talita, kerahkan anak buahku di sepanjang jalan, bandara, dan terminal"


"Baik, Tuan"


"Karena kalian lalai menjaga istriku, kalian saya potong gajinya" sarkasku.


"Cepat kalian pergi dari hadapanku" teriakku lantang.


Kecewa dan menyesal itu gemuruh didadaku.


Aku tak menyangka Talita akan pergi dari Kehidupanku.


Padahal bukan kesalahan mereka, aku hanya kecewa dan nggak tau harus berbuat apa.


Ujung-ujungnya aku lampiaskan kepada semua orang yang ada di rumah.


"Ya tuhan, jangan pernah pisahkan aku dengan Talita. Aku sangat menyayanginya" pintaku dalam hati.


Aku pun langsung mengambil kunci mobil, aku ingin Mencari Talita sendiri walau ada anak buahku yang mencarinya.


Aku berencana pergi ke club yang dulu Talita tinggal, walau tak mungkin Talita ada di sana namun siapa tau jika anak buahnya Tante Ira yang berencana mengambil Talita kembali.


Aku segera mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal.


Suasana sore hari walau tampak ramai tapi aku tetap mengendalikan mobil dengan hati-hati.


Hatiku sangat sakit sejak mengetahui kepergian wanita yang sangat aku sayangi.


Aku sadar tak bisa membahagiakannya dengan penyakitku ini.


Aku bertekad untuk berubah, walau itu cukup sulit.


Memang sejak lama aku sering konsultasi namun tetap saja aku tak bisa mengendalikan emosi bahkan nafsu birahiku jika sudah marah.


Alhasil..


Inilah yang harus aku alami, di tinggalkan oleh orang yang sangat aku cintai.


"Talita, jangan tinggalkan aku sayang" batinku dalam hati.


Air mataku menetes di pipiku, perih ketika harus di tinggalkan dalam keadaan rapuh seperti ini.


Ciiiiittt...


Brukkkk...


Buummmm..


Mobilku terpental jauh, tubuhku serasa melayang.


Aku mendengar keributan di sekitarnya, namun mataku tak bisa aku buka.


Tuhan...


Apa ini jalan kematianku..


Seketika menjadi gelap dan tak terdengar lagi.


Aku telah siap jika memang aku dipanggil sang kholik.


Aku pasrah.


Mungkin karena aku melamun sehingga aku tak sadar akan memasuki jurang.


Aku tersadar ketika mobilku menabrak pembatas jalan sehingga aku mengerem mendadak.


Karena kecepatan mobil yang di atas rata-rata sehingga walau aku mengerem tetap saja melaju kencang.

__ADS_1


Talita, maafkan aku.


TBC...


__ADS_2