
Pov Adi.
Aku terbangun ketika aku merasakan sakit yang luar biasa di tengkuk leherku.
"Astagfirullah, jadi duri dalam hidupku ternyata ada di dekatku"
Tuan Adi sadar ternyata Endi yang menolongnya pada saat kecelakaan ternyata hanya mempunyai niat terselubung.
Tapi apa motifnya, pertanyaan itu menari-nari di pikiranku.
Aku tak bisa melihat sekeliling karena ruangan ini pengap dan gelap, aroma debu sangat tercium jelas.
Aku rasa sedang berada di gudang yang tak terpakai.
Aku mencoba menggeser tubuhku, dengan menggunakan kekuatan tanganku aku menyentuh seseorang.
"Ya Allah, lindungilah anak dan istriku" bathinku karena aku tau pasti yang berada di sampingku ini adalah istriku.
"Sayang, bangun"
Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, aku berusaha agar istriku bisa terbangun.
"Sayang, Talita!, sayang,bangun, bangunlah!"
Aku masih berusaha membangunkannya, tapi tak ada pergerakan sama sekali dari istriku.
Aku mencoba meraba-raba, aku ingin memastikan Istriku masih hidup.
Tab tab tab.
Akhirnya aku menemukan tangannya, namun sepertinya tangan istriku terikat.
"Astagfirullah, kejam sekali kamu Endi, semoga kamu akan mendapatkan ganjaran setimpal"
Aku mencoba melepaskan ikatan tangan istriku. Akhir dari perjuanganku membuahkan hasil, ikatan di tangan istriku terbuka.
Aku langsung meraih pergelangan tangannya.
Tik tik tik.
"Alhamdulillah, detak nadinya masih bisa kurasakan"
"Ya Rabby, lindungilah anakku dan istriku, jika ingin mengambil mereka, lebih baik kau ambil nyawaku saja" rintihku karena aku tak ingin sesuatu terjadi dengan dua orang yang sangat aku sayangi.
Ceklek!
Pintu terbuka lebar, aku tak bisa melihat siapa yang masuk, namun dari postur tubuhnya aku tau itu si Endi.
"Endi, lepaskan kami, kamu ingin apa!"
"Kamu ingin hartaku, ambillah, tapi lepaskan aku dan istriku.
Tek!
Lampu ruangan di nyalakan, mataku menjadi silau, namun perlahan-lahan aku melihat sosok pria kejam yang tak punya hati.
"Endi, mengapa kau lakukan ini kepada kami, kalau kau ingin hartaku silahkan ambil saja"
__ADS_1
Hahahahaha....
Suara tawa Endi menggelegar di ruang ini, aku bergidik ngeri, seperti bukan Endi yang kukenal yang ada di hadapanku.
"Kamu itu berlagak punya uang, padahal aslinya kere! kalau bukan Ambar menyuruhku membiarkanmu hidup, sudah lama aku telah menghabisimu, Hah!!"
"Kenapa kau tak lakukan saja, asal anak dan istriku selamat, aku ikhlas"
"Ambar masih saja tergila-gila denganmu" tatapan sinis Endi tajam kepadaku.
Ambar masuk ke dalam ruangan, senyum manisnya di suguhkan untukku.
Jijik, itulah yang kurasakan.
"Dan sepertinya aku hanya perlu tanda tanganmu untuk sebagai saksi penyerahan seluruh harta Talita kepada kami berdua" ucap Ambar lembut namun bagiku itu seperti suara mak lampir.
"Aku ingin menandatanganinya, asal kau lepaskan anak dan istriku!" teriakku memohon agar melepaskan istriku, kulihat istriku masih terbaring lemah.
"Kau masih saja peduli dengan jjaalang ini, jjjalanggg ini yang sudah menyebabkan kamu lumpuh! hah"
"Diam kamu Ambar, kau lebih dari padanya. Kau bagai iblisss!!" teriakku lagi karena aku tak ingin istriku di sebut jalangg.
"Wanita itu, wanita itu memang benar jalangg, bukannya kau memungutnya dari tempat sampah, sadar Adiiii, entah berapa banyak pria yang sudah menikmati tubuhnya." matanya Ambar nyalang kepadaku.
"Kau pasti tidak mendapatkan perawannya kan, hahahahahaha. Jadi apa kata yang pantas aku sebut untuk wanita ini. hah!!" teriaknya kepadaku.
"Memang benar aku mendapatkannya di tempat yang tak baik, namun ketahuilah Talita bagai berlian yang terkubur di tumpukan jerami. Dia sudah bertobat, dia seperti itu juga bukan karena kemauannya. kau Paham!!"
"Aku tak percaya jika wanita ini tidak menikmatinya, pada saat bertemu denganmu pasti dia sudah siap melayanimu, sadar kau Adi"
"Lepaskan kami berdua, atau biarkan istriku keluar dari sini, kasihanilah anakku yang belum lahir" aku menghiba, aku ingin mereka melepaskan Talita.
"Kalian akan ke neraka bersama-sama nanti" ucap Endi dengan senyum simrik yang mengembang di sudut bibirnya.
"Tunggulah saatnya" ucap Ambar lagi dengan senyum yang sama.
Mereka pun mematikan lampu gudang dan mengunci ruangan. Aku mendengar langkah, mereka meninggalkan menjauhi gudang.
Aku berusaha memperbaiki geseran ke arah Talita.
"Ya Allah, apa aku dan Talita tak pantas bahagia?? Dari kecil kami selalu teraniaya, sekarang sudah menikah, kami hanya ingin bahagia" Tangisku meledak juga.
"Aku yang lumpuh tak bisa berbuat apa-apa" sesalku
Kakiku seolah mati rasa, rasanya ingin berjalan menyalakan kembali sakelar lampunya, namun apa daya aku tak sanggup.
"Aku harus bisa berdiri dan meraihnya" tekadku didalam hati.
Kusandarkan punggungku ke tembok, kedua tanganku bertumpu di sudut dinding. Kedua lenganku menahan beban beratku.
"Wahai kakiku, kuatlah engkau" teriakku di dalam hati.
Ah....
Aku terduduk kembali.
Aku tak bisa menyerah begitu saja.
__ADS_1
Aku mencoba kembali.
auuwww...
Kakiku menjadi sakit, namun aku menahannya.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, aku putus asa"
Aku terduduk kembali.
"Ya Allah, kirimkan siapapun yang mau membantu kami" tangisku menjadi-jadi.
Ku pijat kaki, berharap ada keajaiban dari sang penguasa alam.
****
Pov Author.
"Apa ada info yang dari petugas sekitarnya" tanya Setno kepada Polisi yang ada di ruangan kantor.
Setno saat ini ada di kantor polisi, setelah GPS tak bisa terlacak terpaksa mereka kembali ke kantor lagi.
"Belum pak, kami akan berusaha lagi"
"Aku tak bisa menunggu lama, aku takut jika telat sedikit, nyawa tuan dan nyonya bisa bahaya"
"Sabarlah pak, kami masih melacak keberadaan mobil yang membawa sandera"
Karena sudah menunggu beberapa jam tak ada info atau kabar yang baik, terpaksa setno kembali ke perusahaan.
Drerrtt..
Handphone Setno berbunyi.
Di lihatnya ada panggilan dari anak buahnya.
"Bagaimana, kalian sudah mendapatkan beritanya" tanya Setno yang penasaran.
"Belum bos" jawab dari seberang.
"Jika belum ada kabar, untuk apa menelponku Bodohhh!!!!" bentak Setno tak tertahan.
"Kami ingin mengatakan, jika kemungkinan mereka membawa Tuan Adi ke luar kota"
"Kau tau mereka ke luar kota, mengapa tak menyusulnya dan melacaknya"
"Tapi bos, kami meminta izin untuk akses ke sana, karena ternyata kota itu hanya bisa di masukki jika orang itu mendapat akses dari perusahaan bapak Adi sebelumnya"
"Ya ampuuunn, Astagfirullah, aku baru sadar, gudang tempat barang rongsokan yang ada di desa sebrang ya, kenapa aku tak berfikir jika Tuan akan di bawa ke sana"
"Kamu tunggun di sana, aku akan segera menyusul kalian ke sana, tetap standbay di tempat, Paham!!!"
"Paham Bos"
Setno pun langsung memutar kembali mobil yang di bawanya. Dia pun menelpon kantor polisi dan mengarahkan mereka ke sana.
TBC....
__ADS_1