Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Seperti yang dulu


__ADS_3

Sudah seminggu ini Talita tetap bekerja membersihkan toilet dan kamar mandi setiap kamar di club cinta.


Terkadang dia di suruh teman-temannya membersihkan kamar mereka.


Semua di lakukan dengan sabar.


Wajah dan badannya lebam dan memar mulai menipis.


Madam Ira yang melihatnya tersenyum simpul.


"Talita, malam ini ada seseorang yang ingin kamu layani"


"Madam, saya mohon, biarkan saya bekerja seperti ini saja"


"Heh! Kamu mau mengaturku?,"


"Bukan begitu Madam, aku sudah nyaman bekerja seperti ini," alasan Talita.


"Aku tak mau tahu, persiapkan tubuhmu malam ini"


"Hiks..." Talita menangis, dia tak ingin melayani para hidung belang.


"Jangan menangis!" bentak Madam Ira.


"Hapus air matamu itu, jangan sampe saya akan mencam*bukmu jika kamu tak menuruti keinginanku"


Talita segera menyeka air matanya.


Dia tak ingin tubuhnya lebam lagi.


Hanya batinnya yang menangis.


"Mulai malam ini, semua pelanggan yang mau padamu, harus kamu layani. Paham!"


"Paham Madam" ucap Talita.


"Ya Allah, mengapa terjadi seperti dulu, tubuhku di penuhi kemaksiatan lagi," batin Talita dan tak terasa setetes air matanya luruh juga di pelupuk matanya.


"Cepatlah bebersih, 1 jam lagi pelangganmu akan datang"

__ADS_1


"Ingat, layani orang itu dengan baik"


Talita hanya mengangguk, dia tak ingin terlihat baik-baik.


Jam menunjukkan pukul 7 malam.


Seperti info Madam Ira, jika pelanggannya akan datang.


Talita telah terlihat cantik, walau lebam masih terlihat memudar.


Tok! tok! tok!


Pintu di ketuk dari luar kamar.


Talita membuka pintunya, terlihat laki-laki dewasa mungkin seumuran Om Felix.


"Wow, masih ranum sepertinya" ucap pelanggan itu.


"Pokoknya masih pucuk, walau bukan perawan" ucap Madam Ira yang berdiri di sampingnya.


"Tak masalah, asal masih belia aku suka"


"Oh, jelas" jawab pelanggan itu.


"Masuklah, Talita layani Om Bayu dengan servismu yang terbaik. Jangan lupa!" sarkas Madam Ira sambil melotot memperingati Talita.


Talita hanya diam saja tanpa mengangguk atau mengiyakan.


Pelanggan itu masuk ke dalam kamar Talita. Madam Ira segera meninggalkan kamar Talita.


Om Bayu itu mendekat terlebih dahulu kepada Talita.


"Umurmu berapa cantik?," Tanya Om Bayu.


"14 tahun Om" jawab Talita.


"Luar biasa sudah bekerja di sini" heran Om Bayu.


"Aku di jual Papa tiriku, Om,"

__ADS_1


"Pasti Om kamu terlilit hutang, makanya sampai hati dia menjualmu"


"Kalau soal itu aku tak tau" jawab Talita.


Perlahan-lahan wajah Om Bayu menyusuri mencium rambut Talita.


"Hmmm... wanginya"


Talita menutup matanya tak ingin melihat apa yang di lakukan Om Bayu. Talita hanya ingin merasakannya saja.


Perlahan-lahan jemari Om Bayu mulai menyentuhnya.


Malam kelam itu terjadi lagi.


"Ah... sakit, ahh.. "


Keringat mengucur deras di wajah Talita. Antara sakit dan nikmat bisa di rasakan Talita.


Malam itu terjadi lagi, Om Bayu seakan tak pernah puas dengan tubuh Talita.


Sepanjang malam Om Bayu mengerayangi tubuh Talita. Walau berteriak sakit, tidak pernah di perdulikannya bahkan Om Bayu malah terlihat senang jika Talita Meneriaki sakit.


Entah berapa kali Om Bayu melenguh melepaskan calon anaknya di belahan dada Talita.


Mungkin Om Bayu sudah tau, dia tak ingin Talita akan hamil anaknya.


Talita hanya bisa menikmati dan pasrah apa yang di perintahkan Om Bayu.


Kadang Talita yang bekerja terkadang Talita hanya siap di pacu.


"Euuggghhh" lenguhan panjang terdengar.


Om Bayu terkapar tak berdaya.


Talita pun tak sanggup untuk bergerak.


Setelah semua ritual yang di lakukan Om Bayu. Talita mencoba menggerakkan kakinya untuk segera membersihkan tubuhnya yang penuh dengan keringat dan bau pandan hasil Om Bayu.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2