Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 75


__ADS_3

Akhirnya oprasi berhasil di lakukan. operasi ini di pimpin oleh dokter ahli bedah yakni Dokter Adam. Selain itu pula di bantu petugas anestesi, perawat dan dokter operator.


Dokter Adam mengatakan jika suami Talita telah selamat dari maut, proyektil yang bersarang di dadanya berhasil diambil, hanya tinggal menunggu dia tersadar dan pulih lagi.


Suami Talita juga sudah di pindahkan ke Ranap VVIP. Talita menunggu suaminya dengan perasaan cemas.


"Jangan khawatir Nyonya, percayalah Tuan Adi itu orang yang kuat." Setno menguatkan Talita.


Sony dan Eci pun begitu.


"Terima kasih, kalian orang yang baik dan selalu menemaniku" lirih Talita.


"Sama-sama Nyonya, aku pergi dulu, aku akan membelikan Nyonya dan kalian makan" pamit Setno.


"Nyonya mau pesan makan, apa?" tanya Setno lagi.


"Terserah, aku sebenarnya tak ingin makan apa-apa"


"Jangan begitu Ita, kasian bayi yang ada di kandunganmu, jika suamimu tau kamu tak ingin makan, pasti dia akan sedih" ungkap Sony.


Talita hanya menganggukkan kepalanya, dia pun teringat bagaimana suaminya memaksa dirinya untuk makan walau sedang sedih atas kepergian Nenek Saroh.


"Aku boleh ikut denganmu" tanya Sony kepada Setno. Dia tak ingin melihat sosok Talita yang rapuh. Ingin rasanya dia memeluk dan memberikan Talita kekuatan, namun dia sadar siapa dirinya, Talita pun sudah tak sendiri lagi.Untuk itu, dia memilih mengikuti Setno saja.


"Boleh, ayo kita pergi" ajak Setno.


"Kamu jangan kemana-mana sayang, temani Nyonya" peringati Setno.


"Iya, lagian juga dari tadi saya tidak kemana-mana" sanggah Eci.


Setno pun tersenyum kecut.


Sebenarnya dia tau jika Eci tak akan kemana-mana, namun karena dari tadi Eci memperhatikan Sony, makanya dia menyebutkan sayang agar Sony tau, Eci adalah pacarnya.


"Oh, Eci pacar kamu No" tanya Sony.


"Iya, kami akan segera menikah" jawabnya sambil tersenyum.


"Wah, banyak-banyak selamat ya"


Eci balik tersenyum kecut menjadi salah tingkah, namun di dalam lubuk hatinya dia bahagia karena Setno bisa cemburu dengannya seperti yang di lakukan Endi dan sekarang di lakukan di hadapan Sony.

__ADS_1


Hmmm...


Bicara Endi, tak ada satu pun keluarga yang mau mengambilnya bahkan begitu juga dengan Ambar, padahal Setno sudah menghubungi dan polisi juga sudah mengatakan kepada keluarganya, namun keluarganya masa bodoh.


Akhirnya mereka melakukan pemakaman tanpa ada sanak saudara bahkan hanya di kubur biasa saja.


Setno tak ambil pusing, itulah azab orang yang tamak, tak bersyukur jika di berikan hidup dekat dengan orang-orang yang baik, namun di khianati.


Bagi Setno, jika orang itu baik, maka dia akan lebih baik lagi.


Setelah membeli makan, Setno membawakan nasi padang untuk semua orang.


Ketika sampai di ruangan Tuan Adi, ternyata Tuan Adi telah siuman.


Kebetulan Dokter sedang memeriksa Tuan Adi.


"Sejauh ini cukup bagus, jaga jahitannya bisa terlepas, jaga luka agar tetap kering, boleh pakai perban yang anti air, jaga jangan sampai infeksi sampai luka bekas tertembak benar-benar kering dan sembuh. Perawatan luka besar yang kurang tepat dapat memicu terjadi Infeksi. Ketika luka operasi mengalami infeksi, Anda mungkin akan merasakan beberapa gejala yang mungkin muncul, antara lain: demam, luka terasa lembek, luka terlihat kemerahan, luka menjadi terasa lebih menyakitkan, luka mengalami peradangan atau bengkak, luka menimbulkan aroma yang tidak sedap, seperti muncul cairan, nanah, atau darah. Pada luka Infeksi umumnya akan muncul 2 atau 3 hari setelah Anda menjalani operasi. Dalam beberapa kasus, gejala infeksi mungkin baru muncul dalam hitungan minggu atau bulan pasca operasi. Jika Anda merasakan adanya gejala infeksi pada luka, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau boleh simpan nomor handphoneku agar kalian bisa langsung menemuiku" jelas Dokter Adam.


"Setno, tolong simpan nomor handphone Dokter Adam" perintah Tuan Adi.


"Iya Tuan, berapa nomor handphonenya Dokter"


Dokter pun menyebutkan nomor handphonenya "08219499xxxx"


"Terima kasih Dokter atas penjelasannya, kira-kira apakah aku boleh berhubungan dengan istriku" tanya Tuan Adi tanpa basa basi.


Talita membelalak matanya, bisa-bisa suaminya bertanya seperti itu, padahal hampir saja menjemput maut. Talita menggelengkan kepalanya.


Refleks Talita memberi pukulan ringan.


"Aww..sakit sayang, nanti jahitannya terbuka." jerit Tuan Adi.


"Maaf!" lirih Talita.


"Mas ini, belum juga sembuh sudah bertanya seperti itu" Talita mengerucutkan bibirnya.


Semua orang tertawa melihat tingkah Tuan Adi termasuk Dokter Adam.


"Yakin bisa lakukan?" goda Dokter Adam.


"Kan, biar istriku yang kerja, aku tinggal menikmatinya" ceplos Tuan Adi.

__ADS_1


Talita pun refleks memberi pukulan lagi di lengan Tuan Adi.


"Awww..sakit sayang" jerit Tuan Adi lagi, padahal dia tak bener-benar kesakitan, malah menaik turunkan alisnya menatap istrinya.


"Mas ini, membuat malu aku saja." ucap Talita sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Dokter tersenyum lagi.


"Usahakan nanti sudah benar-benar kering lukanya ya, karena seperti yang saya katakan tadi, perlu menjaga bagian lukanya jahitannya tidak terbuka, salah bergerak atau Anda melakukan aktifitas berat bisa memicu jahitannya akan terbuka lagi, jika terbuka sangat sulit untuk melakukan jahitan karena bekas jahitan tak bisa di jahit seperti awal lagi bahkan dari jahitan terbuka akan memicu timbulnya infeksi" jelas Dokter Adam.


"Nah, dengar kan tak bo leh, nunggu kering dulu" cela Talita dengan sumringah, dan itu membuat semua tersenyum namun tidak dengan Tuan Adi, wajahnya menjadi murung.


Dokter yang tersenyum langsung berkata "Tenang saja, jika luka Anda sudah benar-benar kering, boleh dan tanpa ada batasan untuk melakukan aktivitas menyiram bunga istri anda."


Dan itu berhasil membuat Tuan Adi tersenyum dan berharap lukanya agar segera sembuh dan kering.


"Nah, kalau begini, aku jadi semangat untuk sembuh" kelakar Tuan Adi.


"Ingat, harus sampai sembuh Tuan" goda Setno lagi.


"Oh, kalau itu jelas, biar aku bisa menggarap lahan sampai tak ada sisa, iya kan sayang." canda Tuan Adi sambil melirik istrinya.


Talita yang di goda hanya mengerucutkan bibirnya, ingin rasanya Tuan Adi mencium bibir istrinya itu, namun karena banyak orang di ruangan jadi di urungkan.


"Baiklah, Saya pamit dulu, jika ada keperluan atau butuh sesuatu boleh tekan tombol hijau ini, tombol ini terhubung di ruangan suster, nanti suster akan memeriksanya nanti" pesan Dokter Adam.


"Baiklah Dokter, teriman kasih sebelumnya." ucap Talita sambil mendekapkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai ucapan terima kasih.


"Sama-sama Talita"


Dokter pun keluar dari ruangan.


Setelah Dokter pergi, Talita mengambil bubur untuk di suapkan kepada suaminya, dengan telaten Talita menyuap bubur kepada Tuan Adi.


Tuan Adi mengucapkan syukur bisa selamat dari maut yang di berikan Ambar untuknya, sedangkan Setno, Sony dan Eci makan juga di dalam ruangan itu.


Talita melihat sekelilingnya menatap Setno, Sony dan Eci, dia akan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang membantunya.


Dia tak ingin kejadian Endi terulang lagi, karena iri dengan temannya Agung hingga membuat keluarganya hampir menjemput maut.


TBC...

__ADS_1


Jangan Lupa Vote ya.. biar Author semangat Up lagi... πŸ™πŸ™πŸ˜ƒπŸ˜


__ADS_2