
Tamu-tamu sudah berdatangan, semuanya mengucapkan selamat kepada Tuan Adi dan Talita.
Saat ini Tuan Adi sudah hampir pulih, bahkan dia tak menggunakan kursi roda lagi. Tak lupa Setno dan Eci pun turut membantu Talita.
Luka tembak juga sudah hampir kering. Tuan Adi meminum obat kapsul binahong biasanya di jual di toko obat china, biasanya orang yang luka setelah oprasi mereka meminum obat itu sehingga luka akibat di oprasi akan cepat kering.
Bukan hanya tamu, kerabat dan klien di undang menghadiri acara empat bulanan Talita, namun Bu Mey, Pak Sobry, Mantri Dani, Bu Lasmi, Keluarga Pak Fadly pun turut hadir.
Pak Fadly bersyukur kehidupan Talita bisa berubah 180 derajat. Pak Fadly menyembunyikan identitas Talita yang pernah bekerja di club malam, bagi Tuan Fadly dia hanya menjalankan perintah Allah SWT, jika kita menyembunyikan aib seseorang maka Allah akan menutup aib kita juga.
Tuan Adi pun menyambut mereka dengan baik, karena dari cerita istrinya jika yang di undang dari tempatnya itu Orang-orang yang pernah berjasa selama dia tinggal di daerah tempat tinggalnya yang dulu.
"Silahkan mengambil makan sendiri, anggap aja rumah sendiri" ucap Tuan Adi ramah.
'Alhamdulillah, Talita mendapat suami yang tepat' batin Pak Fadly.
Cerita mereka pernah bertemu di club tidak pernah di ceritakan kepada istrinya. Dia mengatakan jika Talita kerja di toko dan sempat bertemu dengan dengannya.
Tak lama Sony dan rombongan anak yatim piatu datang ke rumah Talita.
Talita menyambutnya dengan senang hati.
Saat ini Sony di percayakan mengelola Yayasan Yatim Piatu Bunda Talita. Talita berharap Yayasannya akan bermanfaat oleh orang banyak.
Talita tak ingin anak yatim akan mendapat pengalaman buruk sepertinya, untuk itu setiap menemukan Anal kecil di emperan toko atau ngamen di jalanan pasti akan di ajak ke yayasannya.
Walau rintangan besar di hadapi Talita, Talita tak pernah putus asa.
Flashback On.
"Serahkan anak kecil itu atau kalian bayar 10 juta/ anak" ucap preman itu lantang.
"Setno, kau urus saja. Heh! kalian berhubungan dengan Asisten Suami saya. jika ada kalian masih mengganggu anak-anak ini, kami akan laporkan Anda ke kantor polisi" geram Talita.
"You tenang aja, itu pasti beres" ucap Preman.
Yah.. begitulah yang terjadi kepada anak-anak jalanan.
Talita rela merogoh koceh yang tak sedikit.
Namun bagi Talita itu tak masalah.
Flashback off.
Akhirnya pengajian tujuh bulanan selesai, dan Tuan Adi menyerahkan beberapa bingkisan untuk anak yatim piatu dan tamu undangan lainnya.
Pak Fadly dan rombongan juga pamit kepada Talita dan Tuan Adi. mereka pun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Talita memberikan bingkisan untuk semuanya tanpa terkecuali..
"Nak, jaga Talita dengan baik, anak ini sangat berbakti kepada orang tuanya" ucap Bu Mey, Talita memeluk Bu Mey.
"Iya Bu, aku janji tak akan menyia-nyiakan Talita" janji Tuan Adi.
Talita ingat Bu Mey sangat berjasa kepadanya. Untuk itu, Tuan Adi menyerahkan kunci angkot untuk Pak Sobry. Pak Sobry sangat bahagia, sekarang dia bisa membawa angkot kembali setelah dua tahun tak pernah bekerja lagi.
Saat ini Pak Sobry telah bisa berjalan seperti biasa. Hanya memang sudah tak bisa terlalu kecapean.
"Baiklah, kami pergi dulu. Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" ucap Tuan Adi dan Talita.
__ADS_1
Akhirnya Pak Fadly dan yang lainnya meninggalkan rumah Talita.
Sony dan rombongan anak yatim pun ikut pamit karena acara telah selesai.
"Sony, aku percayakan Yayasan itu kepadamu, jika ada waktu aku akan sekali-kali berkunjung ke sana"
"Baik, Nyonya"
Mereka pun menjauh dari rumah Talita, mereka saat ini menyewa sebuah bis yang sudah di bayar Talita.
Sony sangat bahagia mengelola Yayasan karena itu juga cita-citanya dari dulu, ingin mempunyai rumah singgah untuk anak yang tidak mampu.
Saat ini hanya tinggal Setno dan Eci yang ada menemani Tuan Adi.
"Tuan, aku ingin berbicara sebentar dengan Tuan"
"Katakan saja Setno, tak perlu ragu." Tuan Adi memeluk Talita di pinggang dengan posesifnya.
"Aku ingin melamar Eci kepada kedua orang Tuanya, aku hanya ingin Tuan yang melamarkan Eci untukku"
Tuan Adi tahu, Setno tak ada keluarga lagi untuk itu dia menganggukkan kepalanya.
"Kira-kira kapan acaranya?" tanya Tuan Adi.
"Kalau bisa sebulan lagi, agar sebulan ini saya gunakan untuk menyiapkan segalanya." imbuh Setno sambil menatap wajah cantik Eci.
"Oke baiklah, nanti aku dan suamiku akan pergi denganmu" ungkap Talita.
"Benarkah Nyonya, aku sangat bahagia" ucap Setno lagi.
Saat ini Eci tertunduk malu. Talita tersenyum melihat Eci.
"Terima kasih sudah membantuku, untuk gedung pernikahan biar aku yang mengurusnya" ungkap Tuan Adi.
"Terima kasih Tuan, aku berhutang budi kepada anda"
"Aku juga, yang lebih berhutang budi kepadamu Setno adikku"
Mereka pun saling berpelukan, suasana Haru menyeruak di hati masing-masing.
Setelah Setno melepaskan pelukan, dia pun pamit pulang berdua dengan Eci.
"Jaga anaknya orang." pesan Tuan Adi sambil tersenyum.
"Iya Tuan, itu sudah pasti"
"Oke, hati-hati di jalan"
"Iya Tuan, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Mereka berdua pun memasuki mobil dan pergi meninggalkan rumah Tuan Adi.
Setelah Setno dan Eci pergi, Tuan Adi mengajak Istrinya ke dalam rumah.
Tuan Adi merasa jika istrinya butuh istirahat yang Extra karena dari tadi tidak berhenti melayani tamu yang datang.
"Sayang, ayo kita masuk, kamu pasti kecapean"
"Iya mas, aku begitu lelah"
__ADS_1
"Aku pijit ya"
"Benarkah" Senyum Talita merekah.
"Benar dong" imbuh Tuan Adi dengan tatapan mesra.
Ingin rasanya Tuan Adi menggendong Talita, namun dia sadar lukanya belum benar-benar sembuh.
Mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan.
Nani yang melihat Tuannya begitu bersyukur, Tuannya sudah benar-benar berubah bahkan lebih hangat tak sama seperti dulu.
Ketika Talita sedang membersihkan dirinya di kamar mandi.
Tuan Adi masuk ke dalam kamar mandi dengan perlahan- lahan.
Talita tersentak ketika tangan kekar Tuan Adi melingkar di perutnya.
"Ahh.. mas, bikin kaget saja"
Tuan Adi malah terkekeh.
Perlahan-lahan Tuan Adi menyentuh lembut perut Talita yang sudah sedikit membuncit. Jemari Tuan Adi sedikit bermain di dua bukit bagian kesukaannya. Rintihan dan teriakan manja terdengar dari bibir Talita.
Hingga Talita sadar, bahwa Tuan Adi belum benar-benar sembuh.
"Sayang, kamu belum sembuh"
Tuan Adi pun bibirnya mengerucut, dan itu membuat Talita gemas.
"Baiklah, aku tau caranya agar kamu bisa menikmatinya" ucap Talita sambil menuntun Tuan Adi duduk di atas closed duduk.
Talita yang lihai mengambil barang milik Tuan Adi mengulum lembut barang kesukaannya itu.
"Aghh!! Talita, sa- aghh" Tuan Adi tidak melanjutkan perkataannya.
Talita tersenyum senang. Ia mulai menekan kembali barang kesayangannya hingga memenuhi mulutnya. Membuat Tuan Adi berteriak entah sudah keberapa kalinya.
"Ahhh.. Sayang!! Lakukan dengan perlah- ahhh"
"Nikmati saja sayang, kau hanya perlu nikmati saja saat ini" ujar Talita sambil semakin agresif memainkan barang kesukaannya.
Tuan Adi menekan lembut kepala Talita agar memasuki lebih dalam lagi.
Setelah beberapa menit, Tuan Adi memasang wajah geram, matanya seolah terbuka tertutup lembut.
"Sayang, sepertinya aku sudah di puncaknya"
Talita yang mendengar perkataan Tuan Adi, berganti dengan lihai memilin Paku besar kesayangannya hingga naik turun dengan cepat.
Aghh...... !!! Byurr...
Tuan Adi terkulai lemas. Tuan Adi sangat bahagia, sentuhan dan belaian Talita membuatnya seperti terbang ke surga dunia.
"Sayang. apa kamu juga butuh pelepasan?" tanya Tuan Adi.
"Aku bisa menahannya sayang, cepat sembuhlah dirimu"
Mendengar perkataan Talita membuat Tuan Adi tersenyum kecut.
TBC....
__ADS_1