Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 55


__ADS_3

Dokter Danu sejenak memikirkan bagaimana caranya menyampaikan agar pasiennya bisa tenang. Dia pun menampilkan senyuman.


"Bapak jangan tegang atau khawatir, ini hanya traumatik sementara. Mungkin jika bapak waktu itu mendengarkan dokter agar dilakukan operasi dan terapi jalan, pasti saat ini bapak sudah bisa beraktifitas seperti dulu namun belum bisa bekerja atau berjalan terlalu lama"


"Barusan saja ketika saya memberi rangsangan dengan memberi pukulan lembut, bapak bisa merasakan sehingga ada gerakan sedikit. Jika kita lakukan operasi, dan terapi jalan mudah-mudahan tiga bulan ke depan bapak sudah bisa berjalan seperti sebelumnya"


"Alhamdulillah" batin Talita mengucapkan syukur setelah mendengar perkataan Dokter Danu.


"Dokter, saya sebenarnya bukan tinggal di sini, namun saya tinggalnya di surabaya. Apa boleh saya lakukan di surabaya atau mungkin saya bisa dapat rekomendasi dari Dokter, agar langsung bisa di lakukan ditempat tinggal saya"


"Boleh, nanti saya akan buat surat rekomendasi. Di Surabaya juga alat-alatnya sudah lengkap sama seperti yang di sini"


"Trima kasih, Dokter"


"Sayang, lebih baik kamu berobat di sini,sekalian nunggu 40 hari Alm. Nenek Saroh. Bagaimana?" usul Talita kepada Tuan Adi.


"Bener, juga ya?"


"Oh, Dokter tak perlu buat surat lagi. Kira-kira kapan bisa di lakukan operasi?" tanya Tuan Adi.


"Kita lakukan beberapa pemeriksaan dahulu, jika telah selesai boleh langsung kita lakukan operasi"


"Baiklah Dokter, kira-kira kapan di mulai pemeriksaan"


"Hari ini juga boleh, kita ronsen dahulu dan CT-scan setelah hasilnya keluar nanti baru bisa kita atur jadwal untuk operasi"


"Sayang, Bagaimana?" tanya Tuan Adi kepada Talita.


"Saya setuju saja mas, lebih cepat kan lebih baik. Untuk kita jalan-jalan boleh nanti setelah mas proses penyembuhan kan" jawab Talita.


"Trima kasih sayang, kamu sangat pengertian"


"Baiklah Dokter, hari ini saya mau di lakukan pemeriksaan"


"Baiklah,"


Dokter pun membuat surat untuk di bawa ke ruang ronsen.


Setelah selesai, mereka ke ruang radiologi. Setelah menyerahkan surat dari dokter. mereka langsung di perintahkan memasuki ruang ronsen.


Di bantu Agung Tuan Adi di baringkan di tempat tidur yang di sediakan.


"Maaf Bu, Ibu sepertinya lagi hamil. Untuk Ibu hamil sebaiknya menunggu di luar, radiasi dari foto ronsen bisa berpengaruh dengan kandungannya ibu. Jadi saya mohon Ibu bisa menunggu di luar, biar sodaranya yang mendampingi suaminya"


"Oh, iya Pak Mantri. Trima kasih"


"Sayang, aku tunggu di luar ya"


"Iya sayang"


Talita pun keluar dari ruang ronsen dan menunggu di bangku tunggu. Sebenarnya berat rasanya meninggalkan suaminya terbaring di dalam. Namun memang harus di lakukan, mau tak mau harus di jalankan


Talita menunggu sekitar 20 menit, setelah itu dia melihat Tuan Adi bersama agung keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Besok katanya hasilnya, mending kita pulang saja"


"Iya sayang, aku juga sudah lapar, padahal tadi sarapan"


"Itu artinya calon anakku yang lapar,"


"Ayo Gung kita ke Endi, setelah itu kita singgah di rumah makan"


Setelah Talita menyelesaikan pembayaran di kasir Rumah Sakit, mereka menuju ke tempat parkir dimana Endi sedang menunggu.


Endi dan Agung segera membantu Tuan Adi menaiki mobil.


"Endi, cari rumah makan khas kota ini ya"


"Siap Tuan"


Endi yang tak tau rumah makan di daerah Gorontalo, segera bertanya kepada Agung.


"Agung, kamu tau nggak tempat rumah makan yang enak di sini"


"Coba di rumah makan pujisera, aku dengar semua makanannya enak-enak"


"Baiklah,"


Endi pun mencari titik lokasi rumah makan pujisera melalui GPS.


Setelah 20 menit akhirnya mereka sampai di rumah makan yang di inginkan Tuan Adi.


Netra matanya mengawasi di sekitarnya melihat posisi yang enak untuk Tuan Adi dan istrinya.


Mereka memilih tempat di sudut ruangan.


Setelah mereka duduk, datanglah seorang pelayan.


"Silahkan Tuan, Nyonya"


Pelayan itu menyerahkan daftar pesanan kepada mereka berempat.


Tuan Adi yang bingung dengan daftar karena tak ada satupun makanan yang dia ketahui.


"Agung, pesanlah yang sesuai seleramu"


"bindhe biluhuta 4, ilabulo 8, minumnya Es Jeruk 4 ya"


"Makanan apa itu Agung, apa enak?" Tuan Adi menatap Agung dengan keraguan akan pesanannya.


"Sayang, aku sudah pernah mencobanya, enak kok" ujar Talita menyakinkan Tuan Adi.


"Okelah, jika anakku menyukainya. Akupun akan mencobanya"


Tak lama pesanan mereka datang.


Pesanannya mereka di letakkan di atas meja.

__ADS_1


"Silahkan Tuan dan Nyonya, Semoga saja menyukai masakan kami" ungkap Pelayan dengan ramah.


"Trima kasih dek" balas Talita.


"Sama-sama Nyonya"


Tuan Adi pun hanya mengaduk-ngaduk makanannya.


Baginya terasa aneh, ada makanan yang di dalamnya ada serutan kelapa.


"Cobain sayang" Talita menyuapkan milu siram atau di sebut bindhe biluhuta.


"Wow, enak juga sayang"


Dengan Antusias Tuan Adi menyantap makanannya, Talita hanya tersenyum.


"Dulu Nenek Saroh kadang membuatkannya untukku, namun sekarang aku hanya bisa menikmati di sini saja" Raut wajah Talita menjadi muram mengingat kebersamaannya dengan Nenek Saroh.


"Sayang, ikhlaskan kepergian Nenek Saroh, biar beliau tenang di alam sana" Tuan Adi mengingatkan Talita.


"Maafkan aku sayang, aku janji ini yang terakhir aku bersedih. trima kasih ya, kamu selalu ada mengingatkan aku" lirih Talita sambil memandang wajah tampan Tuan Adi.


"Iya sayang, makanlah, kalau memang masih kurang, kamu tinggal pesan lagi saja"


Talita menganggukkan kepalanya dan melanjutkan menikmati makanan yang ada di atas meja.


"Agung, Endi pesan lagi apa yang kalian sukai," tawar Tuan Adi.


Tuan Adi telah menganggap mereka berdua saudaranya, karena meraka sangat baik melayani dirinya bahkan mau menggendongnya sampai di lantai dua.


"Agung, Endi, sepertinya ruko itu harus kita ubah. Jika di buatkan lift, membutuhkan waktu yang lama, bagaimana jika kamarku dan Istriku di buatkan di bagian lantai bawah dan di bagian lantai atas kamarnya kalian" usul Tuan Adi, Tuan Adi prihatin jika mereka berdua sering menggendongnya sampai ke lantai dasar.


"Aku setuju mas, biar mereka tak kecapean menggendongmu" Talita sepakat dengan usul Tuan Adi.


"Kalau saya, terserah Tuan, jika mau hari ini kami akan kerjakan" balas Endi.


"Oke, kalau begitu aku dan Talita sementara menginap di hotel, Kamu cari saja orang yang bisa di percaya, orang yang cepat mengerjakan pekerjaan itu, kamu tetap harus selalu membantuku ya" ujar Tuan Adi.


"Siap, Tuan. Biar Agung yang mengawasi pekerjaan di ruko dan saya tetap di membantu Tuan"


"Bagaimana Agung, apa kamu keberatan?"


"Tidak Tuan, aku setuju dengan usul Endi"


"Berarti setelah dari sini kamu cari hotel dekat rumah sakit saja, Endi"


"Baik, Tuan"


Setelah selesai makan, Talita menyelesaikan pembayaran di kasir. Tak lupa Talita menyerahkan Tips untuk pelayan di Rumah Makan itu. Mereka pun sangat bahagia dan mendo'akan kebahagiaan Talita.


Setelah itu mereka pun mencari hotel terdekat dengan Rumah Sakit.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2