Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 71


__ADS_3

Masih POV Talita.


Semuanya langsung kaget.


"Nak apa yang kau lakukan di sini" ujar Ibuku.


"Di sini bukan tempatmu nak" Ayahku membelai rambutku.


"Iya nduk, kamu harus bangkit lagi, kami telah bahagia di sini" ujar Nenek Saroh lagi.


"Aku ingin ikut kalian, aku pun ingin bahagia dengan kalian" lirihku pada mereka.


"Sayang, lebih baik kamu pulanglah, rawat anak kita dengan baik" saran suamiku.


"Aku ingin kita berdua yang membesarkannya mas"


"Kamu sudah berjanji akan menemaniku dan menjagaku, ingat mas, kau sudah berjanji kepadaku" tangisku pecah ketika mendapat pulukan dari suamiku.


"Tapi sayang, aku ingin mengenal kedua orang tuamu yang sudah melahirkanmu, aku ingin berada di sini" ucap suamiku sambil membelai rambutku.


Aku memeluknya erat, aku tak ingin terpisah lagi.


"Adi, sekarang kamu sudah menemui kami, kami sangat bahagia jika anakku juga bahagia, kamu pergilah bersama anakku, yang terpenting kita sudah bertemu" ucap Ayahku yang membuatku bahagia.


"Iya Nak, ibu ingin ada yang menjaga Talita lebih baik dari kami yang menjaganya" ucap Ibuku membujuknya, agar suamiku ikut denganku lagi.


"Ayo mas, itu ada cahaya, kita sama-sama membesarkan anak ini"


"Sayang"


"Cepatlah mas, cahaya itu akan segers hilang"


Aku dan suamiku memeluk mereka semua dan pamit.


Mereka menciumku dan aku menangis terharu.


"Ayo, mas"


Seketika aku tersadar.


"Mas Adiiii...!!! " Teriakku lantang.


Aku melihat sekeling.


Aku melihat sekretarisnya Setno, Eci yang mendampingiku kaget terbangun juga.


Air mataku luruh.


"Eciii, di mana suamiku, hiks"


"Suami Nyonya.." Eci tak melanjutkan perkataannya membuatku semakin sedih.


"Nyonya, kan baru sadar. sabar aku panggilkan dokter dulu ya"


"Tidak perlu Eci, bawa aku ke tempat suamiku saja, dia butuh aku di sampingnya"


"Nyonya tenang, nyonya ingatlah, nyonya lagi hamil, nanti setelah dokter periksa dan berkata nyonya tak apa-apa, nanti aku akan mengantarkan nyonya di tempatnya suami nyonya"


"Mas...aku harap kau tak meninggalkanku" lirihku pelan.


Eci segera keluar memanggil dokter.


Setelah beberapa saat, dokter masuk keruanganku dan memeriksaku.


"Alhamdulillah, Ibu sudah lebih baik"


"Berarti aku sudah bisa melihat suamiku dokter" tanyaku sambil menghapus air mataku.

__ADS_1


Aku ingin terlihat tegar, padahal sejujurnya bathinku rapuh.


Ujian dari umur 15 sampai sekarang belum usai juga.


Sejak umur 15 tahun aku kehilangan sosok Ayah, dan sekarang aku tak sanggup jika harus kehilangan sosok suami.


"Boleh, saat ini suami Ibu lagi menjalankan operasi pengangkatan peluru yang ada di perutnya. Semoga suami Ibu baik-baik saja"


"Aamiin"


Dokter pun meninggalkan kami berdua.


Aku menyuruh Eci mengambik kursi roda.Kakiku masih lemas.


Eci pun mencari kursi roda.


Tak berapa lama, Eci mendorong kursi roda ke arahku.


Aku pun langsung bergerak ke arah kursi roda dan menaikinya.


Eci mendorongku hingga depan ke kamar mayat.


"Eci mengapa kau mendorongku sampai ke sini, apa yang terjadi dengan suamiku"


Debar jantungku berdegub cukup kencang.


"Nyonya kamar oprasi Tuan di sebelahnya, kita berdo'a saja agar Suami Nyonya selamat"


"Alhamdulillah, kau ini, mengapa berhenti di sini juga"


Heranku padanya, sudah tau aku sedang cemas malah berhenti di kamar mayat.


"Itu lagi ada pasien yang mau di dorong ke sini Nyonya, makanya saya berhenti"


Aku pun menatap ke depan, Ya Allah karena aku cemas sekali sampai tak memperhatikan sekitarnya.


Aku pun hanya tersenyum kecut.


Aku memperhatikan sekitarnya, tak aku temukan Setno.


"Setno lagi di mana Eci?" tanyaku padanya padahal aku tau pasti dia pun tak tau kemana Setno pergi.


"Aku telpon dia dulu, Nyonya"


Eci pun menelpon Setno.


Tut.... tut.... tut...


Beberapa kali Eci menelpon namun tak ada jawaban.


"Yah, sudah, mungkin dia lagi sibuk mengurus di kantor polisi"


Tak lama Handphone Eci bergetar.


Drerrrttt....


"Ini Setno menelponku, Nyonya"


"Angkatlah, jangan lupa nyalakan speaker"


Eci pun mengangkatnya.


"Hallo sayang, ada apa" suara aku dengar dari seberang.


Aku hanya tersenyum, semoga mereka berjodoh, bathinku di dalam hati.


"Ada di mana sekarang, kok tidak tungguin Tuan Adi"

__ADS_1


Aku lihat bibirnya Eci mengerucut.


"Lagi ngurus donor darah sayang, kebetulan stok darah di Rumah Sakit lagi kosong, makanya aku ke PMI tanpa menunggu lama, ternyata di sini juga darah golongan AB+ kosong"


"Astagfirullah, darah golongan AB+ biasanya sangat langka, Ya Allah, Bagaimana ini" Air mataku langsung luruh juga.


Aku langsung berteriak.


"Setno, kau buat aja pengumuman, setiap katong darah akan di bayar 100 jt/orang, aku ingin secepatnya mendapat darah yang aku butuhkan"


"Baik Nyonya"


"Yah sudah, kami menunggumu di sini"


"Keluarga Tuan Adi," tanya Dokter yang keluar dari ruangan.


"Dokter Adam" Aku terkejut dengan kehadiran dokter yang dulu menangani Ibuku.


"Hmmm... sepertinya dokter udah lupa sama saya, dulu Dokter membayar pengobatan Ibuku, Ibu Anna Marwah" jelasku kepada dokter.


"Oh, iya Dokter ingat, anak belia yang merawat ibunya yang sedang stroke"


"Benar dokter, saya Talita, sekarang saya sedang menunggu suami saya Tuan Adi, saya mohon dokter selamatkan suamiku"


"Tenang Talita, suamimu sudah melewati masa kritis, kami ingin mengeluarkan peluru yang hampir mengenai jantungnya, namun karena pendarahan yang hebat, maka harus di lakukan transfusi darah secepatnya, agar bisa melanjutkan oprasinya. Untuk pendarahan telah bisa kami atasi, namun harus secepatnya di keluarkan pelurunya. Bagaimana apa sudah ketemu pendonornya"


Aku menggeleng "Asisten suamiku sudah ke PMI namun stok darah AB+ kosong, Dokter"


"Kami hanya bisa menunggu setengah jam saja, tolong usahakan secepatnya"


"Iya Dokter, aku akan berusaha mendapatkannya" ucapku sedih.


Dari raut wajah Dokter Adam aku melihat kekhawatiran yang cukup serius.


"Baiklah Talita, aku akan berusaha juga, agar suamimu selamat"


"Trima kasih Dokter"


Tiba-tiba Pingkan datang menghampiriku.


"Aku sudah mendengar segalanya, aku kebetulan golongan darahnya AB+, tapi itu tidak gratis, Talita" ujarnya kepadaku.


"Ya Allah, aku masih punya harapan" Aku langsung menghapus air mataku.


"Aku akan memberikan berapapun yang kau mau, katakan berapa yang kau inginkan Pingkan, aku siap memberikannya"


"Aku tak butuh uang, aku hanya ingin.... "


Pingkan pun belum mengutarakan keinginannya.


"Katakan apa maumu, Pingkan, jika aku sanggup memberikannya, akan aku berikan"


"Jadikanlah aku istri kedua Tuan Adi"


Deg...


Cobaan apa lagi ini Ya Tuhan.


Aku mengira, Pingkan udah berubah dan mau menolongku setulus hati.


Namun apa yang dia minta ini, istri kedua. Aku tak sanggup berbagi kasih dengannya.


Apa yang harus aku lakukan, hanya 20 menit lagi waktu untuk kami mencari pendonor yang cocok dengan suamiku.


Aku tertunduk lesu.


Aku harus bagaimana...

__ADS_1


"Apa sebegitu dahsyatnya cobaanmu Ya Rabby" Aku langsung menangis karena harus memilih Di duakan atau menyelamatkan suamiku.


TBC....


__ADS_2