Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 61


__ADS_3

Hari ini Tuan Adi dan Talita pergi ke rumah sakit untuk bertemu dengan Dokter di poli neurologi.


"Selamat pagi, dokter. Saya Adi dan ini istri saya, kemarin asisten saya sudah buat janji dengan dokter"


"Oh, iya. Saya Dokter Ariawan. boleh di panggil Dokter Ari"


"Ini surat dari Gorontalo, kebetulan saya pernah periksa di sana dan karena saya sudah pindah di surabaya, makanya saya berencana untuk fisioterapy di sini dokter" Tuan Adi memberi penjelasan dan di simak oleh dokter Ari.


Dokter Ari pun mengambil kertas yang di bawa Tuan Adi dan mulai memperhatikan dan mempelajarinya.


"Baiklah, hari ini kita mulai fisioterapynya. Mungkin awal mula akan terasa sakit, tapi lama kelamaan akan terbiasa"


"Saya sudah siap Dokter"


Tuan Adi pun memulai terapi berjalannya.


"Jangan di paksakan, rilex, seperti anak bayi yang sedang belajar berjalan" Dokter Ari menuntun Tuan Adi dengan di bantu dua buah besi penyangga.


"Sebaiknya belikan tongkat yang berbentuk segi 4, agar Pak Adi sudah terbiasa berjalan"


"Baiklah, Dokter. Nanti sebentar kami akan membelinya"


"Sshh, aww" Tuan Adi pun menghentikan pergerakannya.


"Tak apa, coba lagi, dan coba lagi sampai bisa"


Talita yang melihat suaminya kesakitan menjadi iba.


"Sayang, tak usah di paksakan. Sudah setengah jam ini, kamu istirahat dulu. Nanti di coba lagi"


"Tidak sayang, hari ini aku pasti bisa" Dengan mata berapi-api Tuan Adi tetap optimis akan bisa berdiri saat ini.


"uhhh... " tetap saja kakinya tak bisa menopang tubuhnya.


"Besok lagi pak, jangan di paksakan" ujar Dokter Ari.


"Tidak dokter, ini baru setengah jam belum bisa di simpulkan aku tak bisa, aku pasti bisa" jawab Tuan Adi lantang.


"Bismillah...... " teriak Tuan Adi.


Tuan Adi bisa berdiri, namun kakinya gemetar.


"Alhamdulillah, sayang. Kamu sudah bisa berdiri"


Tap tap tap.


Tangan Tuan Adi menopang tubuhnya, namun kakinya masih gemetar. Akhirnya Tuan Adi pun terduduk kembali.


Tuan Adi tetap tidak putus asa, dia pun mencoba lagi.


"Alihkan rasa gemetar di kaki Pak, coba bayangkan anda sedang menuju ke tempat istri anda, Bu Tolong berdiri di ujung sana" Dokter Ari mengarahkan Talita berdiri di ujung tempat berjalan.

__ADS_1


"Ayo, mas. kamu pasti bisa"


Keringat deras mengucur di dahi Tuan Adi, dia harus bisa menapaki titian berjalan agar sampai di ujung tempat istrinya berada.


Hap.


Satu kakinya melangkah.


Hap.


Talita yang melihat kesungguhan Tuan Adi Berdo'a agar Tuan Adi kuat menjalani terapi ini. Dari raut Tuan Adi, dapat di lihat dia menahan kesakitan yang amat sangat.


Tangannya pun gemetar.


Talita langsung menghampiri suaminya yang hampi jatuh.


Tetes air mata Talita tak dapat di tahannya.


"Sayang, jangan di paksakan. Besok kita terapi lagi" bujuk Talita.


Tuan Adi yang melihat istrinya sedih, terpaksa mengiyakan keinginan istrinya.


"Iya Pak, besok lagi kita akan mencobanya. hari ini sekali melangkah, besok kita coba lagi, usahakan di rumah di latih juga. namun harus ada pengawasan orang lain ya pak. Takutnya anda jatuh dan bisa berakibat fatal"


"Baiklah, dokter"


"Saya akan beri resep, obat untuk pembentukan tulang akibat habis cedera"


Dokter pun menuju ke tempat duduknya dan membuatkan resep untuk Tuan Adi.


Ketika menyerahkan resep obat itu, tak ayal sepasang matanya menatap seseorang yang sepertinya dia mengenalnya.


"Pingkan?" netranya menatap melihat sosok yang pernah mengganggunya.


"Talita" Pingkan pun tak kalah terkejut.


"Kamu sedang apa di rumah sakit ini, siapa yang sedang sakit?" tanya Talita.


"Ayah, ayahku Talita" jawab Pingkan dengan tangisan.


"Subhannallah, sakit apa ayahmu, apa aku boleh menjenguknya?" tanya Talita. Dia yang sudah mengenal pak Jamal, mau tak mau ingin Menjenguknya.


"Iya boleh, jika kamu ingin berkenan. Aku akan mengantarkan kamu ke ruang rawat inap Ayahku. Trima kasih Talita kamu masih mau dekat denganku"


"Aku tak punya dendam kepada kalian, bagiku masa lalu itu hanya salah paham saja, aku bersama suamiku, kebetulan suamiku juga berobat di sini. Nanti aku kenalkan kalian kepada suamiku"


"Tuan Jamal" suara suster memanggil.


"Iya sus, ini minumnya rutin 3 kali satu setelah makan. semuanya lima ratus tujuh puluh ribu" imbuh Suster yang ada di apotik.


"Suster, bayarnya sekalian resep Pak Adi ya" jawab Talita dengan sedikit mengeraskan suaranya, karena Apotiknya terhalang dinding kaca.

__ADS_1


"Trima kasih Talita, kamu memang sangat baik sekali"


"Sama-sama, anggaplah ini awal baik hubungan kita, jangan ada lagi permusuhan. Aku ingin Nenek bahagia menyaksikan kita saling memaafkan"


"Nenek Saroh? mana Nenek Saroh, apa dia datang bersamamu?" tanya Pingkan dengan Antusias, dia juga belum meminta maaf kepada Nenek Saroh.


"Nenek Saroh sudah bahagia di syurga" ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Setiap membicarakan Nenek Saroh, pasti Talita akan bersedih.


"Nenek Saroh sudah di syurga, itu artinya Nenek Saroh sudah meninggal?" jantungnya Pingkan berdetak dengan cepat, dia pun ikut meneteskan air mata. Di dalam lubuk hatinya tersimpam rasa bersalahnya, pasalnya semenjak kejadian di warung, Pingkan tidak sekali pun meminta maaf setelah kejadian itu.


"Iya! Nenek Saroh kecelakaan sehingga nyawanya tak terslamatkan,hiks"


"Innalillahi wainnailahi rojiun, semoga Nenek Saroh tenang di alam kubur"


Tak lama terdengar suster memanggil nama Pak Adi.


"Berapa semua suster"


"Ini tujuh ratus lima puluh di tambah yang tadi lima ratus tujuh puluh ribu menjadi satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah Bu"


"Ini Suster, kembaliannya di ambil saja" Talita memberikan uang satu juta lima ratus ribu rupiah.


Setelah mengambil obat, Talita dan Pingkan berjalan menuju lobi rumah sakit.


"Itu suamiku," tunjuk Talita, dan perlahan-lahan mendekati Tuan Adi.


Tuan Adi yang melihat pingkan, cukup geram. Memang Tuan Adi hanya melihat pingkan dari foto yang di berikan Setno, namun mendengar penuturan Setno, jika Pingkan pernah menghasut masyarakat agar mengusir Talita dari Desa Isimu tempat Talita tinggal, sehingga Tuan Adi menjadi membencinya.


"Mas, aku di apotik ketemu Pingkan. Kenalkan Sahabatku"


Pingkan terperangah mendengar Talita menyebutnya sahabat.


"Ya Allah Talita, hatimu terbuat dari apa, padahal aku jelas-jelas orang yang berulang kali menyakitimu. namun kamu tak pernah ada dendam sedikitpun terhadapku" bathin Pingkan di dalam hati, akibatnya dia pun sangat malu mengingat perbuatannya yang dulu.


"Aku mengenalnya Talita, lebih baik kamu tak berteman dengannya" geram Tuan Adi.


"Mas, kita ini hanya manusia, manusia itu tempat salah dan dosa. Jika aku membenci Pingkan, apa bedanya aku dengannya yang dulu, aku sudah memaafkannya. Aku harap mas juga akan memaafkannya"


Tuan Adi terdiam, perlahan-lahan dia pun menyadari kesalahannya.


"Baiklah, aku memaafkanmu, aku harap kamu bisa berubah"


"Iya Pak"


"Mas, aku ingin menengok Ayahnya Pingkan. Apa boleh?" Tanya Talita.


"Baiklah, mumpung kita ada di Rumah Sakit, ayo kita jenguk Ayahnya Pingkan"


"Trima kasih mas, muaacch"


Tak sadar Talita mencium pipi Tuan Adi, wajahnya Tuan Adi nampak merah merona menampakkan kebahagiaan di perlakukan Talita seperti Tadi.

__ADS_1


Mereka akhirnya menuju ke ruangan Ranap Penyakit dalam.


TBC....


__ADS_2