Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 45.


__ADS_3

Endi pun kembali memantau Talita bersama Agung.


Tak ada yang berubah.


Beruntung hari ini nasi kuning buatan Nenek Saroh habis terjual.


"Alhamdulillah, nek. Semuanya habis"


"Iya nduk, beruntung tadi tak sempat mereka mengacak-ngacak jualan nenek"


"Iya nek, kita harus bersyukur. Tapi, ada yang membuatku heran nek. kok bisa laki-laki itu tau dan memvideo perbuatan Pingkan. Kalau hanya video kebetulan sih masih bisa di percaya. Ini, mulai dari Pingkan menangkap kecoa sampai Pingkan di warung juga dia merekamnya. Siapa ya laki-laki itu ya Nek?"tanya Talita kepada Nenek Saroh.


Talita penasaran dengan sosok laki-laki yanh menjadi penolong mereka.


"Mungkin itu laki-laki yang di kirim Allah untuk membantu kita nak"


"Aamiin." ucap Talita, biarlah dia melupakan sejenak siapa orang tersebut.


"Nduk, istirahatlah. Nenek akan pergi ke pasar dahulu, bahan-bahan untuk nasi kuning sudah mau habis"


"Iya nek, nenek hati-hati ya"


Talita pun segera naik ke lantai atas. Nenek Saroh mengambil tas belanjaannya setelah itu dia menutup ruko dan segera menunggu bentor yang lewat.


Tak lama ternyata ada sebuah truk remnya blong dan tak dapat di kendalikan


Endi yang melihat truk melaju kencang seraya berteriak.


"Nenek Awassss"


Mereka pun berlari tapi nahas Truk itu langsung menyerempet Nenek Saroh.


Bruumm...


Brukkk...


Ciitttt...


Talita yang mendengar suara riuh di depan langsung turun ke lantai bawah.


Endi dan Agung langsung menghampiri Nenek Saroh yang sudah bersimbah darah.


"Agung, cepat kamu bawa mobilku ke sini" teriak Endi.


Sopir truk itu juga langsung melihat Nenek Saroh.


"Ya Allah, maafkan aku, remku blong"


"Harusnya kamu membunyikan klakson terus"


"Aku sudah membunyikannya, tapi sepertinya Nenek ini tak mendengarkannya"


Talita yang keluar dari dalam ruko melihat orang-orang sudah berkumpul di depan ruko.


"Ada apa ini" ucap Talita menghampiri kerumunan.


Mereka pun memberikan jalan kepada Talita.


Talita kaget setelah melihat Nenek Saroh tak berdaya dan nampak darah keluar dari kepalanya.


"Nenek, banguuuuun, nek, Jangan tinggalkan Talita sendiri, Talita moohooonn"


"Nenekkkkk, ayo cepat! bawa Nenek ke rumah sakit. Nenek bertahanlah nek"


"Kenapa semuanya hanya diam!! tak ada yang bertindak"


"Neneeeekkkk, baaangunn Nekkkk" teriak Talita sambil berderai air matanya.


Dan seketika itu tubuh Talita ambruk. Dia pingsan.


Endi dan Agung segera menggendong Nenek Saroh dan Talita, mereka di baringkan di dalam mobil.


Orang-orang telah membawa sopir truk ke kepolisian terdekat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

__ADS_1


****


Dreeett.


"Bos, ada insiden kecelakaan Nenek yang bersama nyonya dan saat ini nyonya lagi pingsan." ucap Endi setelah panggilannya tersambung.


"Kamu tangani dengan baik di sana, aku akan mentransfer semua biayanya" ujar Setno.


"Baik, Bos. Ini saya dengan Agung lagi ke rumah sakit"


"Baiklah, kabari apapun berita yang kamu terima" imbuh Setno lagi.


" Siap Bos"


Endi langsung mematikan sambungannya.


"Endi, cepat!. Detak nadi Nenek Saroh melemah" ujar Agung.


Tak lama mereka sampai di Rumah Sakit Limboto.


Para perawat dan Dokter segera menangani Nenek Saroh dan Talita.


Talita belum juga siuman.


Tak lama perawat menghampiri Endi dan Agung.


"Suami Nona itu yang mana?" tanya Perawat


"Suaminya lagi di luar kota sus, saya keluarganya saja" jawab Endi.


"Kondisi kehamilannya baik-baik saja, mungkin hanya shock karena melihat neneknya yang terluka parah"


"Hamil?" gumam Endi.


"Kira-kira umur kehamilannya sudah berapa bulan suster?" tanya Endi agar dia bisa memberi info kepada bos Setno.


"Kalau itu, boleh tanyakan kepada dokter langsung.Itu ruangan Dokter Nuni yang menangani pasien atas Nama Talita."


"Baiklah suster, terima kasih."


"Agung, kamu tunggu di Sini, pantau info tentang Nenek Saroh"


"Baiklah Endi"


Endi pun mendatangi Dokter Nuni.


"Assalamu'alaikum Dokter"


"Waalaikum salam, masuklah"


"Duduklah, ada yang bisa saya bantu" tanya Dokter.


"Begini dokter, saya sepupunya pasien atas nama Talita. saya hanya ingin menanyakan perihal kehamilan sepupu saya, kira-kira sudah berapa usia kandungannya dokter. Soalnya setahu saya sepupunya sudah berpisah dengan suaminya 4 bulan yang lalu"


Endi berpura-pura menjadi sepupunya Talita. agar Dokter tidak mencurigainya.


" Dari melihat kondisi janinnya memang usia kandungannya sudah 4 bulan. Artinya sebelum di tinggalkan suaminya Nyonya Talita telah hamil"


"Oh, begitu ya dokter. Bagaimana kondisi janinnya saat ini"


"Alhamdulillah sehat, dan beratnya juga cukup"


"Tapi kok perutnya tidak kelihatan ya dokter. Makanya kami keluarganya tak tau kalau saudari Talita hamil"


"Kondisi setiap orang itu beda-beda,karena otot-otot perut Nyonya Talita masih kencang dan belum pernah melebar sebelumnya, sehingga Nyonya Talita memiliki perut yang cenderung lebih kecil dibanding usia kehamilannya"


"Oh, trima kasih infonya dokter. Kalau begitu saya mau nungguin Nenek Saroh dan Talita lagi"


"Sama-sama pak, tak perlu khawatir. Mungkin sebentar lagi Nyonya Talita akan siuman"


"Iya Dokter. Permisi"


Dokterpun hanya mengangguk.

__ADS_1


Endi pun mengambil handphonenya untuk menelpon Bosnya.


Dreeett..


"Ada apa Endi, bagaimana kabar mereka"


"Nenek Saroh masih di UGD, kalau Nyonya Talita belum sadar juga"


"Apa ada masalah dengan Nyonya Talita?" tanya Setno lagi.


"Sebenarnya tak ada masalah bos, hanya aku harus menyampaikan kabar ini kepada bos"


"Ada apa"


"Ternyata Nyonya Talita lagi mengandung anak Tuan Adi"


"Maksudmu, Nyonyat Talita Hamil?"


"Iya Bos, saat ini kehamilan Nyonya Talita sudah memasuki 4 bulan kata dokter"


"Baiklah Endi, kamu terus awasi di sana"


"Siap Bos"


Endi pun meletakkan handphonenya di saku celananya.


"Ya Allah, tak menyangka kalau Tuan Adi sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Semoga ini akan menjadi penyemangatnya untuk sembuh"


Setno pun mengambil kunci mobil dan segera menuju kerumahnya Tuan Adi.


15 menit kemudian sampailah Setno di rumahnya Tuan Adi.


Satpam pun membukakan gerbang dan mempersilahkan Setno masuk ke dalam halaman rumah.


Dia memarkirkan mobilnya dan segera turun dari mobil.


"Nanny, Tuan Adinya di dalam ya"


"Iya Den, seperti biasa Tuan Adi di dalam kamar"


"Baiklah Nanny, aku ke dalam dulu"


Setno langsung menuju ke kamarnya Tuan Adi yang berada di lantai 3.


Ting.


Bunyi suara lift menandakan sudah berada di lantai 3.


Setno pun membuka pintu kamar Tuan Adi.


kreeett.


"Mau sampai kapan Tuan seperti ini,"


"Ish, Setno. Kamu ini membuatku kaget"


"Tuan, Tuan harus sembuh."


Setno pun menceritakan apa yang di alami Talita.


Tess


Air mata kebahagiaan langsung mengalir di pipi Tuan Adi.


"Apa benar yang kamu bilang itu Setno, jadi istriku sedang hamil dan berarti sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah"


"Benar Tuan, untuk itu Tuan harus semangat untuk sembuh"


"Baiklah Setno. Antarkan aku terapi jalan hari ini"


"Siap bos"


Setno pun semangat mengantarkan Tuan Adi ke tempat terapi jalan.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2