
Akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit, Endi membantu Tuan Adi keluar dari dalam mobil.
"Endi, coba kamu cari tau apa di sini ada dokter saraf yang terbaik, aku ingin sekalian mencoba terapi di sini jika memang bisa"
"Mas juga mau berobat?" Talita sangat senang jika suaminya mau menjalankan terapinya lagi.
"Iya sayang, nanti sekitar seminggu di sini, berarti bisa 2 kali berobat"
"Alhamdulillah, aku senang mas"
"Do'akan mas sembuh ya,?"
"Iya mas, selalu. Aku selalu akan mendo'akan dan mendukungmu"
"Trima kasih sayang" ucap Tuan Adi mencium tangan Talita yang sedang di gengamnya.
Mereka langsung bergegas menuju ruang poli kebidanan. terlihat ada 3 pasangan yang sedang mengantri juga.
Endi segera ke ruang informasi, dia ingin bertanya tentang dokter syaraf yang ada di kota Gorontalo ini.
Talita pun mendaftarkan namanya dan mengambil nomor antrian.
"Mas tak masalah kita menunggu?" tanya Talita.
"Nggak apa-apa sayang, lagian aku kan tak kerja"
"Baiklah, kita tunggu di sini saja"
Talita dan Adi duduk di bangku panjang yang tak jauh dari perawat
Menunggu selama setengah jam akhirnya nama mereka di panggil juga.
"Nyonya Adi"
"Iya suster," jawab Talita.
"Silahkan masuk bu"
Talita pun masuk ke dalam ruangan bersama Tuan Adi menjalankan kursi rodanya sendiri, dan di ikuti oleh Talita.
"Assalamu'alaikum, silahkan duduk Bapak dan Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Waalaikum salam dokter, kami hanya ingin memeriksakan kehamilan istri saya?"
"Oke baiklah, haid terakhir kapan bun"
Talita pun mengatakan jika dia lupa kapan terakhir kali haidnya.
"Baiklah, kita cek dulu lewat USG ya, suster mohon di bantu"
Talita pun langsung naik di atas bed pasien.
Suster pun mengoleskan gel ke atas perut bawah Talita
Dan Dokter pun menempelkan probe. Terlihat jelas kantong kehamilan dan janin Talita yang baru berkembang.
"Alhamdulillah janinnya sehat, untuk air ketubannya juga cukup"
"Alhamdulillah,"
"Jaga asupan gizi ya, nanti saya kasih resep vitamin saja"
"Iya Dokter terima kasih"
__ADS_1
Suster pun membersihkan sisa gel di atas perut Talita dan Talita turun dari bed pasien.
Dokter memberikan resep dan mereka segera keluar membayarnya di kasir rumah sakit sekaligus menebus resep yang di berikan dokter.
Setelah selesai di tebus resepnya mereka pun mencari warung terdekat untuk makan siang.
Di perjalanan tak hentinya Tuan Adi mencium tangannya Talita.
Di genggamnya erat sambil sesekali di kecup punggung tangannya Talita.
Endi tetap fokusnya ke jalanan raya sesekali melirik tingkah Tuannya, karena sedang membawa mobil.
Talita pun sangat bahagia. Suaminya sangat perhatian dan semakin mencintainya.
"Sayang, pokoknya kamu jangan terlalu lelah ya"
"Jangan kerja yang berat, jaga selalu kandunganmu" ucap Tuan Adi dengan posesifnya.
"Iya, mas. Makasih ya, sudah membuat hari-hariku bahagia, dibalik kesedihan masih ada berita kebahagianku saat ini"
"Sama-sayang, trima kasih juga telah hadir dan mau menjalani hari-hari denganku"
Talita menyandarkan kepalanya di lengan tangan sebelah kiri Tuan Adi.
Dia begitu ngantuk, mungkin bawaan bayi.
Hoaaammm
"Sayang, tidurlah kalau kau masih ngantuk."
Talita hanya mengangguk dan tak lama terdengar dengkuran halus dari bibir Talita.
"Endi, lebih baik singgah beli makan, di bungkus saja. kasian Talita sepertinya sangat nyenyak tidurnya"
*****
Ketika Talita terbangun, nampaklah telah sampai di ruko mereka.
"Ya Allah, sampe ketiduran" ucap Talita sambil mengucek matanya.
Kruuk kruuk kriuk.
Bunyi perut Talita menandakan calon anaknya kelaparan.
"Mas Adi kok tidak singgah makan siang, ya?" Tanya Talita.
"Endi sudah membelinya sayang,aku menyuruhnya membungkus makanannya saja, biar kita makan bersama saja, kasian liat kamu pulas tidurnya, mas tidak tega membangunkan kamu sayang"
"Iya, tidak apa-apa mas"
"Endi pun menggendong Tuan Adi, dan Agung menurunkan kursi roda dan Endi mendudukkan Tuan Adi kembali ke kursi rodanya.
"Tuan, tadi sy sudah tanya di bagian custumer servis rumah sakit, katanya di sana tak ada dokter syaraf yang bagus. Alangkah baiknya ke Rumah Sakit besar saja yang ada di kota"
"Baiklah, jika begitu besok kamu antar aku ke sana"
"Oke, siap Tuan"
"Apa aku boleh ikut?" tanya Talita.
"Sayang bukan aku tak ingin kamu ikut, aku takut kamu kecapean"
"Mas, tadi kan dokter bilang janinku sehat dan aku ini hamil mas, bukan sakit atau penyakitan yang tak boleh beraktifitas seperti biasa"
__ADS_1
"Baiklah, kita sekalian jalan-jalan kalau kamu mau"
"Aku mau mas, aku ingin melihat suasana di Kota Gorontalo ini"
"Baiklah, besok kita ke rumah sakit dan langsung jalan-jalan"
"Asek" wajah Talita menampilkan senyum dan tawa bahagia.
Tuan Adi pun tersenyum, bibirnya melengkung sedikit namun terlihat dia sangat bahagia juga.
"Ayo mas, aku bantu dorong kursimu"
"Iya sayang"
Mereka pun masuk ke dalam ruko. Endi menyiapkan wadah untuk mereka makan siang di bantu oleh Agung.
"Tuan, semuanya telah saya sediakan. Nyonya dan Tuan bisa makan siang"
"Kita makan bersama, aku ingin kita bukan seperti bos dan anak buah. Aku ingin kita seperti keluarga" ungkap Tuan Adi.
Endi bersyukur kelakuan Tuan Adi tidak seperti dulu, bahkan terlihat berubah 180 derajat.
Mereka pun langsung makan siang bersama sambil Tuan Adi bertanya-tanya destinasi atau tempat wisata yang bagus di Gorontalo.
Agung pun menyarankan agar mereka pergi di pantai botutonuo.
"Baiklah, bawa kami berdua jalan-jalan ke sana setelah aku selesai dari dokter syaraf"
"Siap Tuan"
Setelah selesai makan siang, Endi dan Agung segera membantu Tuan Adi naik ke lantai dua.
Tuan Adi dan Talita segera melaksanakan kewajiban mereka untuk sholat berjamaah.
"Sayang, jangan lupa minum vitaminnya" Tuan Adi mengingatkan Talita agar meminum obatnya rutin.
"Astagfirullah, kok sampai lupa. saya minum obatnya dulu"
"Itu ada air minum di nakas"
"Iya mas"
Talita pun segera meminum vitamin yang tadi baru di tebus di apotik. kebahagiaan terpancar dari sorot mata Talita.
Dia tak sabar untuk jalan-jalan bersama Tuan Adi di pantai yang di sebutkan Agung.
Begitu juga dengan Tuan Adi, walau dia belum bisa jalan tapi dia ingin sekali melihat istrinya bahagia.
Mungkin di sinilah mereka akan saling mengenal satu sama lain, karena sebelumnya mereka belum terlalu dekat seperti sekarang ini.
"Sayang, istirahat lagi. Kamu jaga selalu kondisimu ya"
"Iya mas, mas juga harus seperti itu"
"Iya sayang"
Talita pun menyuruh Endi membantu Tuan Adi untuk naik ke atas ranjang.
Setelah Endi pergi, mereka berdua langsung tidur mengistirahatkan tubuh mereka yang seharian ini pergi ke tempat pemakaman dan ke Rumah Sakit.
Tak lama suara dengkur pun terdengar menandakan dua pasangan ini telah tertidur nyenyak.
TBC...
__ADS_1