
Akhirnya Setno dan Tuan Adi sampailah di kota Serambi Madinah, Gorontalo.
Mereka pun langsung menghubungi Endi.
"Hallo Tuan"
"Sharelock lokasimu, kami akan kesana"
"Baik Tuan"
Endi pun langsung mengirimkan lokasinya di Rumah Sakit Limboto.
"Apa Tuan sudah siap bertemu dengan Nyonya Talita?"
"Aku sudah di sini buat apa? pertanyaanmu begitu aneh. Cepat! antar aku kesana"
Mereka yang sudah menyewa mobil untuk di pakai selama di Gorontalo langsung pergi ke Rumah Sakit.
Ternyata Endi telah menunggu mereka di koridor rumah sakit.
Tuan Adi pun turun di bantu Endi dan Setno. Tuan Adi yang masih menggunakan kursi roda mau tidak mau harus di bantu anak buahnya.
Endi pun menuntun kursi roda ke ruangan Talita.
Degub jantung Tuan Adi semakin kencang. ini kali pertama mereka akan bertemu setelah 4 bulan berpisah.
"Assalamu'alaikum"
Talita yang mendengarkan seseorang mengucapkan salam langsung melihat kearah suaranya.
Deg!
"Mas... Mas Adi!" seru Talita, Talita kaget dengan sosok yang datang ke ruangannya.
Talita pun melihat kondisi suaminya yang sedang duduk di kursi roda.
Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. apa sebenarnya terjadi setelah dia meninggalkan suami.
"Assalamu'alaikum sayang"
"Wa Waalaikum salam," jawab gugup Talita.
"Setno, Endi! tinggalkan kami berdua."
"Baik Tuan"
Endi, Setno di susul Agung pun meninggalkan Talita dan Tuan Adi.
Tuan Adi pun segera mendekatkan kursi rodanya di samping ranjang pasien Talita.
Tuan Adi segera mengambil jemari Talita. Talita yang diam terpaku sadar ketika Tuan Adi mengecup jari tangannya.
Deg! deg! deg!
Gemuruh di dadanya kian mendesak.
"Maafkan aku istriku, aku telah lalai menjadi suamimu" hiba Tuan Adi sambil menangis sesenggukan dan sambil mencium jemari Talita.
__ADS_1
Tesss!
Air mata Talita ikut menetes. matanya yang telah bengkak karena sedari tadi menangis ingin bertemu Nenek Saroh.
"Tak ada yang perlu di maafkan, aku pun punya salah kepada mas, aku sudah meninggalkan mas tanpa pamit"
"Aku pantas di tinggalkan sayang, aku sadar sikap dan perbuatanku sudah diluar batas kesabaranmu"
"Sudah, jangan menangis. Malu di lihat orang, aku sudah memaafkan mas, jauh-jauh hari sebelumnya."
"Trima kasih sayang, bagaimana keadaan kandunganmu, keadaan anak kita" tanya Tuan Adi sambil mengusap perut Talita yang sedikit menonjol.
Deg!
"Bagaimana dia bisa tahu tentang kandunganku? ah, aku lupa ada anak buahnya di sini" Batin Talita di dalam hati.
"Kata dokter semuanya baik-baik saja," imbuh Talita.
Talita pun melihat keadaan Tuan Adi yang sedang duduk di kursi roda.
"Mas, apa yang terjadi denganmu, mengapa kamu sekarang menggunakan kursi roda"
"Inilah karma yang harus aku terima, ini balasan atas perbuatanku padamu"
Tuan Adi pun menceritakan bagaimana sampai dia bisa duduk di kursi roda.
"Astagfirullah, kamu yang sabar ya mas. Maaf, harusnya aku tetap merawat dirimu, tapi aku takut jika kamu akan terus berbuat seperti malam itu kepadaku, untuk itu, aku memilih pergi meninggalkan kamu Mas" ujar Talita sambil menggenggam tangan Suaminya.
"Kembalilah di sampingku, sayang. kita membangun rumah tangga yang utuh kembali"
"Ada apa, kamu keberatan untuk bersamaku kembali?"
"Bukan seperti itu Mas, aku sekarang tinggal bersama Nenek Saroh. Aku hanya ingin tinggal bersama Nenek Saroh jika Nenek Saroh dapat tinggal bersama kita Juga"
"Apapun permintaanmu akan aku penuhi, aku ingin kamu bahagia sekarang, seperti janjiku padamu"
"Iya Mas, jika mas mau mengajak Nenek Saroh. aku akan ikut bersamamu"
"Trima kasih sayang," ucap Tuan Adi sambil mencium tangan istrinya.
"Mas, aku ingin bertemu seseorang yang sudah berjasa selama ini untukku. Izinkan aku bertemu sekarang dengannya" pinta Talita kepada Tuan Adi, dia tak ingin menunggu lama untuk bertemu Nenek Saroh.
"Besok kita akan bertemu dengannya. Setno sudah mengurus semuanya, sekarang pulihkan dulu keadaanmu. Sepertinya kamu belum makan sayang, kasian dedeknya kita pasti sudah lapar" bujuk Tuan Adi.
"Tapi Mas, apa kondisi Nenek baik-baik saja? aku takut sekali. Aku hanya ingin melihat keadaannya. Jika kondisinya baik-baik saja, maka aku tenang di sini"
Tuan Adi yang tau kondisi Nenek Saroh berfikir keras, bagaimana caranya agar Talita tidak memaksanya lagi.
"Aku janji, besok kita akan bertemu beliau. Kamu jangan khawatir Nenek Saroh sudah bahagia dengan melihatmu menjaga jabang bayimu" bujuk lagi Tuan Adi.
"Baiklah, asal Mas janji, besok kita akan bertemu Nenek Saroh"
"Iya aku janji, sekarang makanlah dulu. Aku suapin ya"
Talita hanya mengangguk, pikirannya masih kepada Nenek Saroh, dia begitu khawatir.
Tuan Adi pun menggerakkan kursi rodanya di samping Nakas.
__ADS_1
Dia pun mengambil bubur yang ada di piring pasien.
Dia lalu mengambil handphonenya dan memberi pesan kepada Setno.
📨 "Setno, masuklah. Aku butuh bantuanmu"
📩 "Baik, Tuan"
Tak lama Setno masuk kedalam rawat inap Talita.
"Setno, angkat aku ke samping ranjang Talita. Aku ingin menyuapi Istriku"
"Baik Tuan"
Talita pun menggeserkan tubuhnya ke samping agar Tuan Adi bisa duduk di sampingnya.
Setelah Tuan Adi duduk di samping Talita. Setno kembali keluar ruangan, dia membiarkan majikannya bisa berduaan di kamar tersebut.
Setelah itu Tuan Adi menyuapi Talita perlahan-lahan.
Talita begitu bahagia dengan perhatian suaminya. Dia pun tersenyum mesra ke arah Tuan Adi.
"Jangan lihat seperti itu, makanlah yang banyak, agar calon anak kita sehat selalu"
"Iya Mas, aku akan selalu menjaga calon buah hati kita"
"Baik-bail di sana ya nak, maafkan ayah baru kali ini bisa berkumpul dengan kalian."
Seketika hatinya Talita begitu tersentuh, mungkin dialah yang salah, tega meninggalkan suaminya, hingga terjadi kecelakaan dengan suaminya.
Tapi di balik itu, Talita bersyukur, Tuan Adi bisa berubah.
"Bagaimana keadaan mantan istri Mas"
Tuan Adi Tau, hati wanita begitu sensitif, dia tak mudah melupakan apa yang pernah di rasakan.
"Dia baik-baik saja, semua Asetku telah aku serahkan padanya. Sekarang aku mulai dari nol. syukur semuanya begitu cepat maju berkat Setno yang selalu setia"
"Mantan Istriku juga telah berjanji tak akan menggangguku, kami sudah buat surat di hadapan kantor polisi dan satu lagi, Aku telah sembuh dari penyakit sodimastokis"
"Alhamdulillah, mas tetap pergi terapi setelah aku pergi?" tanya Talita lagi.
"Iya, aku bertekad untuk sembuh. dan Sekarang ini mas akan fokus untuk terapi jalan sayang, bantu mas untuk semangat untuk sembuh ya"
"Iya Mas, kita mulai dari awal lagi, kita saling instrospeksi, saling mendukung ya"
"Itu sudah pasti sayang, aku sudah berjanji kita akan mulai dari awal lagi"
Talita pun mencium tangan suaminya, ingin rasanya dia memeluk sang suami tapi sikon tak memungkinkan.
"Trima kasih sayang" ucap Talita.
"Sama-sama sayangku" balas Tuan Adi.
TBC...
Apa kehidupan Talita Akan selalu Bahagia..yuck ikuti terus ceritanya🙏
__ADS_1