
Sedangkan di tempat lain.
Dokter masih berusaha menghentikan pendarahan di otak Nenek Saroh.
Tapi Takdir berkata lain, Nenek Saroh menghembuskan nafas terakhirnya.
"Innalillahi wainnailahi ro'jiun" ucap sang Dokter.
Dokter Doni yang menangani Nenek Saroh harus pasrah dengan takdir sang Khalik.
Dokter Doni pun keluar dari ruang ICU.
"Keluarga pasien?" tanya Dokter.
"Kami berdua Dokter, ada keluarga dekatnya tapi lagi sementara terbaring di ruang pasien"
"Kami harus mengatakan, jika pasien yang bernama Saroh atau Nenek Saroh telah meninggal pada pukul 15:30 wita saat ini."
"Innalillahi wainnailahi roji'un"
"Keluarga bisa mengambil jenazah setelah di mandikan"
"Trima kasih Dokter"
"Sama-sama Pak"
Setelah itu Dokter meninggalkan Endi dan Agung yang sedang merenung, bagaimana caranya menyampaikan tentang berita kematian ini kepada Talita.
"Keluarga pasien Talita?" panggil suster.
"Iya, suster. Pasien sudah siuman. silahkan di temani di dalam ruangan"
"Trima kasih suster"
"Agung kamu temani Talita, aku mengurus jenazah Nenek Saroh"
"Baiklah"
"Ingat, jangan dulu beritahukan kepada Talita jika Nenek Saroh sudah meninggal"
"Iya, aku tau"
Mereka pun berpisah dan Agung langsung menuju ke ruang rawat Talita.
"Kamu siapa? Mana Nenek Saroh? bagaimana keadaannya?" tanya Talita bertubi-tubi.
"Kamu tenang dulu, aku tetangga kalian di ruko, mengenai Nenek Saroh masih di tangani dokter, kami berdo'a saja jika keadaan Nenek Saroh baik-baik saja" ujar Agung menenangkan Talita.
"Bawa aku ke tempat Nenek Saroh"
"Kamu jangan banyak bergerak dahulu, kandunganmu cukup lemah. Lebih baik tenangkan diri dulu. Jika sudah agak mendingan, akan aku bawa kamu ke ruangan Nenek Saroh"
"Ya Allah, Nenek. Sembuhkanlah Nenek Saroh ya Allah" tangis pilu Talita.
Agung membiarkan Talita yang sedang menangis. Agung berharap tangisannya bisa meredakan kegundahan hati Talita.
Sementara itu.
Endi segera membayar dan mengurus kepulangan Nenek Saroh.
Tak lupa dia menelpon Setno untuk mengatakan apa yang terjadi di Gorontalo saat ini.
__ADS_1
"Hallo Bos"
"Iya, ada apa Endi. Bagaimana keadaan Nyonya Talita,"
"Nyonya sudah siuman tapi...."
"Tapi Apa Endi, ada yang mengkhawatirkan?" tanya Setno.
Tuan Adi pun langsung merebut handphone Setno.
"Endi, bagaimana keadaan istriku!" cecar Tuan Adi.
"Nyonya Talita baik-baik saja, hanya saja... "
"Hanya apa, kandungannya baik-baik saja kan" Ucap Tuan Adi memotong perkataan Endi.
"Kandungannya baik-baik saja Tuan, Kasian Nenek Saroh sudah berpulang menghadap sang Illahi"
"Innalillahi Wainnailahi Roji'un, kamu urus Nenek Saroh. Aku akan segera ke sana. Pasti Istriku akan sangat terpukul kehilangan sosok Nenek yang membantunya selama ini"
"Baik, Tuan."
Setelah berbicara dengan Tuan Adi, Endi pun segera mengurus kepulangannya jenazah Nenek Saroh.
***
"Aku ingin melihat Nenek Saroh, kenapa kamu melarangku melihat Nenek Saroh.Aku sudah baik-baik saja, sudah 1 jam kamu tak mengizinkan aku melihat Nenek Saroh padahal tadi dokter mengatakan aku baik-baik saja" teriak Talita kepada Agung.
Agung pun bingung harus berkata apa, mana Endi tak kunjung datang lagi.
"Kami dengar tidak? kalau kau tak mau mengantarkan aku pakai kursi roda, lebih baik aku jalan sendiri saja" ucap Talita sambil beranjak dari tempat tidurnya.
"Tunggu Nona, aku akan mengambilkan kursi roda. Ingat! kandungan nona harus di jaga dengan baik"
Perasaan takut, sedih berbaur menjadi satu.
Agung pun meninggalkan Talita mencari kursi roda untuk di pakai Talita melihat Nenek Saroh.
"Hei, Agung. Mengapa kau meninggalkan Nyonya sendiri."
"Kamu kok lama sekali, itu.. Talita teriak terus dari tadi. Dia ingin melihat Nenek Saroh, makanya aku mencari kursi roda untuk membawa Nyonya Talita"
"Jangan dulu!, kita tunggu sampai suaminya datang kesini. Lebih baik kita tunggu suaminya dahulu, Aku takut jika nanti terjadi sesuatu dengan Nyonya malah kita berdua yang akan di salahkan"
"Terus bagaimana? Nyonya bersikeras harus melihat Nenek Saroh."
"Kamu pura-pura mencari kursi roda saja, biar aku yang menemani Nyonya"
"Baiklah, aku duduk di sini saja" ucap Agung sambil duduk di kursi dekat taman rumah sakit.
Endi pun segera ke ruangan Talita. Dia berfikir bagaimana caranya agar Nyonya Talita mau mendengarkannya.
Talita gelisah menunggu Agung, sudah 15 menit berlalu tapi orangnya tak datang-datang.
Endi pun segera masuk ke dalam kamar rawat inap Talita.
"Kamu... "
Talita kaget dengan kedatangan Endi, dia mengingat Endi adalah orang yang menyelamatkan Nenek Saroh dan dia juga yang membuat pingkan akhirnya ketauan dengan video yang di berikan.
"Iya Nyonya"
__ADS_1
"Nyonya? mengapa kamu memanggilku Nyonya! aku bukan majikanmu"
"Aku anak buah suamimu Nyonya,"
"Suamiku?"
Talita terperangah. Apa mungkin Tuan Adi sudah mengetahui keberadaannya.
Mulai rasa khawatir di dalam dada Talita.
"Mengapa temanmu lama sekali, apa memang tak ada kursi roda di rumah sakit ini?"
"Mungkin banyak pasien, sehingga kursi rodanya telah di pakai semuanya Nyonya" jawab nyeleneh Endi.
"Aku ingin jalan sendiri saja"
"Tunggulah suster datang Nyonya, tak mungkin saya yang bukan mahram Nyonya memapah anda." bujuk Endi.
"Kamu panggil suster dulu kalau begitu, cepatlah!. Aku ingin melihat Nenek Saroh, pasti Nenek Saroh mencariku nanti"
Talita membentak Endi, biarlah. Mungkin benar dia anak buah suami Talita. Perasaan Talita bercampur aduk.
"Baik, Nyonya"
Endi pun keluar dari ruang rawat inap, dia pun menghampiri Agung.
"Agung kamu masuklah, katakan tak ada kursi roda di rumah sakit ini"
"Tapi Endi, bagaimana jika dia bersikeras mau berjalan ke ruang Nenek Saroh" tanya Agung.
"Biarlah, aku akan mengelabui Nyonya.Aku pun akan tetap duduk di sini, Nyonya meminta aku memanggilkan suster, tapi aku tak mau menjalankannya. Nanti aku beralasan jika suster semuanya sibuk, sekarang kamu masuk saja. alihkan perhatian Nyonya" ujar Endi.
"Oke, baiklah"
Setelah itu Agung pun masuk lagi ke dalam ruangan Talita.
"Mana kursi rodanya?"
"Maaf, Nona. Aku sudah mencari di setiap sudut rumah sakit ini tapi tak menemukan satupun kursi roda yang tak terpakai"
"Masa' sih"
"Iya Nona, mungkin karena pasiennya banyak yang memakai kursi roda, makanya tak ada yang nganggur"
Talita pun terdiam, dia masih meneteskan air mata mengingat Nenek Saroh sampai saat ini tak di dekatnya.
***
"Setno, kita harus berangkat sekarang ke Gorontalo"
"Apa Tuan benar ingin ke sana?"
"Apa wajahku kelihatan bercanda? cepat kamu pesan penerbangan, jika tak ada, mending kamu sewa pesawat saja"
"Baiklah Tuan, semoga ada penerbangan ini malam"
"Aku maunya sekarang! Paham!" bentak Tuan Adi.
"Baiklah Tuan, aku akan menyewa pesawat saja"
"Iya, itu lebih bagus, lagian dokter untuk terapi aku jalan masih belum ada"
__ADS_1
Setno pun segera mencari pesawat yang bisa di sewakan ada sekarang juga. Mereka akan berangkat untuk menemui Talita.
TBC...