
Setelah Talita pergi dan Tuan Adi. Ambar terduduk diam di lobi Rumah Sakit.
Perasaannya campur aduk, di dalam hatinya telah tertanam dendam yang tak kunjung usai.
Perusahaan yang di berikan Tuan Adi sebentar lagi akan di jual, karena Ambar tak pandai mengelola perusahaan sehingga dia mendapat proyek fiktif hingga harus menjual rumah dan perusaahaan yang di berikan Tuan Adi.
Saat ini perusahaan yang di bangun Tuan Adi, sedang berkembang dengan pesat. Kepercayaan klien terhadap kinerja Tuan Adi membuatnya bisa berdiri tegak lagi setelah melepas perusahaannya.
"Aku harus merencanakan sesuatu dengan Pingkan, hanya itu jalan satu-satunya agar mereka tak akan bahagia" gumam Ambar di dalam hati.
Ambar pun segera masuk ke dalam Rumah Sakit menemui Pingkan di Ranap Kasuari.
***
"Endi, singgah di warung pecel lele ya"
"Baik Tuan"
Mereka pun singgah di warung pecel lele yabg terletak di tengah kota. Warung sederhana namun kelihatan bersih dan nyaman.
"Bu, pecel lelenya tiga, minumnya teh hangat 1 dan 2 es teh"
Semenjak hamil, Tuan Adi tau jika istrinya tak minum air es lagi, sehingga dia memesan teh hangat.
"Sayang, lupakan kejadian barusan ya, jangan menjadi pikiranmu"
"Tidak mas, aku sudah melupakannya, aku hanya menyesali mengapa mbak ambar tak pernah puas dengan Pemberianmu"
"Dia memang orangnya sangat loyal dan boros, tak heran jika dia tak akan puas dengan apa yang di dapatkan"
"Semoga saja mbak Ambar bisa sadar"
"Aamiin, aku akan mengirim orang untuk memata-matainya"
Tuan Adi pun menelpon Setno.
"Hallo Setno, kamu sudah mengirim mata-mata kepada Ambar" tanya Tuan Adi kepada Setno.
"Sudah bos,"
"Good, setelah dari warung, kami akan ke perusahaan Setno"
"Baiklah Tuan, aku akan menunggu kedatangan kalian"
"Ya sudah, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Tak lama pesanan mereka pun datang, mereka melahap pecel lele dengan nikmat.
"Sayang, apa kamu siap jika kita lakukan acara 4 bulanan" tanya Tuan Adi sambil mengusap perut Talita yang sedikit menonjol.
"Aku siap kapan saja, namun mas kan lagi lakukan terapy" jawab Talita yang mengingatkan Tuan Adi dengan terapy yang di jalankan.
"Seminggu ini Endi Dan Setno bisa mengurusnya, Dan kita berdua tetap melakukan Terapy untuk seminggu ini"
"Baiklah mas, jika itu yang terbaik, aku siap"
__ADS_1
Tuan Adi pun mengecup tangan Talita lagi, entah sudah berapa kali Tuan Adi selalu mengecup tangannya.
Talita pun membalas mencium tangan suaminya, dalam islam mencium tangan suami pahalanya sama dengan mencium hajar aswad.
Setelah itu di balas dengan kecupan di dahi Talita yang tertutup hijab.
Pemandangan itu membuat hati jomblo Endi meronta-ronta.
"Tuan Adi ini bucin juga dengan Nyonya Talita, entah di mobil atau di luar ngak melihat sekeliling dulu, apalagi ini tempat umum" gumam Endi yang hanya di dengar olehnya.
Setelah selesai makan. Tuan Adi menyuruh Endi ke perusahaannya dahulu.
Setelah menempuh perjalanan 45 menit, akhirnya mereka berdiri di gedung yang menjulang tinggi.
CV. Talita Corp.
Talita menutup mulutnya, tak menyangka namanya di gunakan Tuan Adi di perusahaan.
"Mas, mengapa mas menamai perusahaan ini Talita Corp." tanya Talita.
"Iya sayang, agar aku setiap ke sini pasti mengingatkan aku dengan sosok yang menjadi sebagai semangatku sayang, setelah kamu meninggalkan aku, aku sadar jika aku harus berubah lebih baik lagi"
"Apa itu artinya perusahaan ini milikku juga?"
"Kan aku sudah katakan, semua surat-surat atas namamu sayang, aku sebenarnya sudah tak punya apa-apa lagi"
"Ya Allah, mas. Trima kasih kamu sudah mempercayakan aku dengan harta sebegini banyak. Mas, apa aku boleh mempunyai yayasan anak yatim piatu. Aku tak ingin kejadianku akan terulang lagi kepada orang lain"
"Boleh sayang, asal uang itu di gunakan yang positif aku malah lebih bahagia lagi"
"Trima kasih mas" tanpa sadar Talita mencium pipi Tuan Adi. Mereka yang sedang melewati lobi perusahaan tetap cuek dengan keadaan sekitarnya.
Talita yang di goda suaminya membuat wajahnya merah merona dan menambah kecantikannya.
Ting!
Akhirnya lift sampai di lantai 10 tempatnya Setno bekerja.
"Bos, ada Tuan Adi" ucap sekretaris Setno.
"Suruh masuk aja, ci"
"Silahkan Tuan, Tuan sudah di tunggu Bos Setno dari tadi"
Sekretaris Eci mempersilakan mereka ke ruangan Setno.
"Senang Tuan bisa jalan-jalan ke sini lagi"
"Iya, semenjak setelah di resmikan, nanti sekarang aku bisa ke sini lagi"
"Semua tak ada yang berubah Tuan, Di sebelah tetap menjadi ruang Tuan"
"Baiklah, aku ke ruanganku dulu, jika pekerjaanmu telah selesai, segera ke ruanganku"
"Baik, Tuan, sedikit lagi akan selesai"
"Baiklah,"
__ADS_1
Tuan Adi dan Talita ke ruangannya. Di ruangan itu Talita terperanjat lagi.
Foto pernikahannya dengan Mas Adi Terpampang nyata di depan meja kerja Tuan Adi.
Ruangan itu masih tetap bersih karena setiap hari dibersihkan oleh OB walau tak di tempati.
"Nanti setelah aku sembuh, aku akan bekerja di sini lagi sayang"
"Iya mas, aku akan mendukungmu sampai kapanpun, asal kita saling terbuka dan saling jujur, mudah-mudahan rumah tangga kita tetap awet"
"Aamiin"
hoaamm.
Karena bawaan bayi sehingga Talita gampang ngantuk saat ini.
"Sayang, tidurlah di ruangan istrahatku, nanti jika kita akan kembali, aku akan membangunkan kamu"
"Baiklah"
Sebelum pergi Talita melum*mat bibir Tuan Adi, bukannya Tuan Adi mengizinkan dia pergi, malah di kuncinya pintu ruangannya dengan remot yang di sediakan.
"Tanggung jawab, kamu sudah membangunkan paku yang tertidur"
Akhirnya mereka pun masuk ke dalam ruang istrahat Tuan Adi.
Tuan Adi menopang badannya naik ke atas tempat tidur yang tidak begitu tinggi sehingga memudahkannya untuk naik dan bergeser ke atas.
Talita yang piawai memanjakan Tuan Adi seperti biasa dia yang harus bekerja mengobrak ngabrik bunga dengan paku yang sedang menjulang tinggi.
Tuan Adi hanya bisa terbang tinggi dengan pelakuan Talita. mungkin karena hormonnya Talita lebih aggreeesiff.
Paku yang sebelumnya bengkok di mainkan di daerah sekitar indra perasa Talita, dan itu sangat membuat Tuan Adi terbuai.
Ahhhh sayaangg...
Talita yang sadar akan kehamilannya membuatnya harus extra hati-hati. Apalagi ketika berada di atas, namun Tuan Adi pun membantunya dengan tenaga tangannya agar Talita bisa bergerak perlahan-lahan.
Sudah beberapakali mereka memainkan perannya di ranjanggg, biasanya mereka akan bermain di tempat mandi.
Talita bergerak cepat memainkan paku yang sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Ahh.. maaas
"Hati-hati sayangggg, aku juga sudah tak tahaan"
Permainan semakin gerah, namun Tuan Adi masih belum melepaskan Talita.
Hingga akhirnya Tuan Adi pasrah, mereka pun meluapkan kesenangan mereka serentak.
Ughhhh..
Akhirnya mereka saling mendekap, Tuan Adi mengusap perut Talita.
Semoga anakku baik-baik saja.
Tuan Adi takut jika kandungan Talita akan bermasalah, karena selama ini Talita yang sering memimpin permainannya.
__ADS_1
TBC...