Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 64


__ADS_3

Setno yang telah selesai mengerjakan pekerjaannya, menuju ke ruangan Tuan Adi.


Cleck....


Namun pintunya terkunci.


Setno hanya geleng-geleng kepala.


"Ya sudah, nungguin saja, kalau gitu saya mau makan dulu"


Akhirnya Setno melangkah ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah dari tadi ingin di isi.


Sesampainya di kantin, ternyata ada Endi juga yang sedang menyeruput kopi pesanannya.


"Endi, bagaimana kabarmu"


"Baik bos. Eh, yang kemarin orangnya sudah datang ke sini?"


"Iya sudah, sekarang juga orangnya lagi kerja"


Endi hanya mengangguk, akhirnya pesanannya Setno datang juga.


***


"Hoaammm"


Talita terbangun dari tidurnya. Ketika ingin bangun namun ada tangan melingkar di perutnya.


Di tatapnya wajah suaminya tercinta, entahlah bawaan bayi atau apa, Talita makin agresif.


Percintaan yang barusan terjadi membuatnya bahagia, wajahnya menatap sang suami yang tertidur lelap.


Trauma tentang masa lalunya sudah tak ada lagi, waktunya sekarang merajut asa bersama suaminya.


"Sayang, bangun. Sepertinya sudah sore"


"Hmmm" hanya denguman yang di dengar Talita.


"Sayang, bukannya tadi mas mau bicara sama Setno"


Perlahan-lahan mata Tuan Adi terbuka.


"Udah jam berapa nih"


"Sepertinya sudah jam 4 sore, ingin melihat handphone tapi tangan mas berat banget"


Tuan Adi malah mengelus perut Talita dan dia pun langsung melabuhkan kecupan di perut Talita yang tak memakai baju sehelai benang pun.


Ingin rasanya dia mengulang kembali, namun dia sadar Talita sedang berbadan dua yang otomatis harus berhati-hati dalam menggarap lahannya.


Talita membantu membersihkan badan Tuan Adi, setelah itu dia juga membersihkan badannya.


Tuan Adi menelpon Setno.


"No, kamu di mana"


"Saya ada di kantin Tuan bersama Endi"


"Datanglah ke ruanganku dan ajak Endi bersamamu juga" ucapnya datr


"Iya Tuan, tadi saya sudah ke situ namun pintunya terkunci"


"Ya, tadi ada jadwal teknis yang harus di kerjakan, segera datang ke sini, secepatnya"


Setno hanya tersenyum.


"Anak SMP juga tau, jika berduaan di ruangan tertutup pasti ada sesuatu" bathin Setno di dalam hati.


"Iya Tuan" Diapun hanya mengiyakan saja, walau sebenarnya dia tau Tuan Adi lagi memadu kasih.


Setno pun memutuskan sambungan telepon dan langsung mengajak Endi.


"Ayo Endi, kita di suruh tuan ke ruangannya"

__ADS_1


"Ada apa?"


"Sepertinya penting, ayo cepat, nanti Tuan Adi marah"


"Iya-iya"


Mereka pun berjalan beriringan.


Pada saat yang sama Sekretaris Setno juga mau ke ruangannya.


"Hai Eci" sapa Setno.


"Hai juga, mau ke ruang atas juga" tanya Eci ramah.


"Iya nih, di panggil Tuan Adi"


Setno nampak acuh, dia pun membiarkan Sekretarisnya berjalan beriringan dengan Setno.


"Huh, dasar genit, selalu saja cari perhatian" gerutunya di dalam hati.


Endi yang melihat ekspresi wajah setno menjadi paham, jika bosnya ini lagi sensitiv.


"Eci, minta nomor hpmu dong"


"Maaf ya Endi, bukannya aku tak mau. Namun aku tak mau di ganggu jika telah di rumah. Handpone ini aku matikan jika sudah sampai di rumah"


"Yah, ngak papa, aku tak akan mengganggumu di rumah. nanti jika aku ajak makan siang kan bisa aku menelponmu"


Eci pun berfikir sambil melirik bosnya, Setno pun hanya memasang muka tembok tanpa ekspresi apa-apa.


"Baiklah, aku ambilkan kartu namaku, kebetulan aku tak bawa"


Ting!


Akhirnya mereka sampai di lantai 13.


"Endi, kamu ke ruangan Tuan Adi dulu, Eci bawa berkas yang tadi akan saya tanda tangani"


Endi pun hanya tersenyum, dia tau jika Setno sedang mode cemburu namun Endi bersikap biasa saja.


Tok! tok! tok!


Endi mengetuk pintu di ruangan Tuan Adi dan Tuan Adi pun menyuruhnya masuk.


"Endi, mana Setno"


"Setno masih di ruangannya Tuan, sepertinya ada berkas yang harus di tanda tangani"


"Baiklah duduklah, aku hanya ingin membahas acara 4 bulanan Istriku"


Endi pun menganggukkan kepalanya


***


"Ini Bos, berkasnya"


"Sepertinya ini salah, perbaiki lagi"


Eci pun heran, masalahnya berkasnya sudah di periksa ulang-ulang namun tak ada yang aneh bahkan tak ada yang salah.


"Yang mana Bos, aku sudah memeriksanya sudah 3 kali, mohon di koreksi yang mana"


"Aku bilang salah ya, salah. Setelah aku dari ruang Tuan Adi, berkas ini harus sudah selesai" ucapnya sambil meninggalkan Eci yang terperangah dengan sikap Bosnya itu.


"Ish, harus perbaiki yang mana lagi nih"


Eci mengambil map itu lagi, dan dia langsung ke ruangannya untuk memeriksa apayang sudah di buatnya.


***


Tok! tok! tok!


"Masuk"

__ADS_1


"Sore Tuan"


"Sore, duduklah, aku hanya ingin membicarakan soal acara 4 bulanan istriku"


"Baiklah Tuan"


"Apa ada ide dari kalian berdu'a?" tanya Tuan Adi.


"Aku tak punya pengalaman di acara seperti itu Tuan, namun alangkah baiknya, undanglah anak yatim piatu agar mereka mendo'akan keselamatam buat istri dan anak Tuan nanti"


"Sepertinya idemu boleh juga Endi" sanggah Talita.


"Aku setuju dengan Endi mas" Talita menyetujui usul Endi.


"Baiklah, Endi. Acaranya dengan mengajak anak-anak yatim piatu saja"


"Dan kamu Setno,apa idemu"


Setno yang hanya melamun tak memberi respon apa-apa, pikirannya masih tertuju ke sekretarisnya.


"Setno..... Setno!" bentak Tuan Adi.


"Ah, iya Tuan, berkasnya sudah siap"


"Berkas apa, kamu ini, saya tidak membicarakan berkas"


Endi pun hanya menahan tawa dengan sikap Setno.


"Makanya jangan melamun bos, berkasnya lagi di tangani Eci, tenang saja bos,hehehe" canda Endi.


Setno pun wajahnya menjadi bak kepiting rebus, ternyata dia hanya sedang melamun.


"Ish, ada apa denganku" bathinnya di dalam hati.


"Aku bertanya, apa ada idemu dengan acara 4 bulanan istriku"


"Saat ini buntu Tuan"


"Kamu ini! biasanya kamu paling banyak idenya, ya sudah, kalau begitu aku ikut idenya Endi saja, kamu Setno, kamu persiapkan segala kebutuhan untuk acara nanti, jika perlu, kamu diskusikan dengan pihak WO lagi"


"Minggu depan acaranya akan saya adakan, paham" lanjut Tuan Adi lagi.


"Baiklah Tuan"


"Ya sudah, aku mau pulang dulu, kamu ingat berkas, ya sudah urus berkasmu dulu"


"Iy iya Tuan" jawab Setno terbata.


Akhirnya Tuan Adi dan Endi bergegas kembali ke rumahnya.


"Tuan, aku ke ruangan Eci dulu, ada yang ingin saya ambil"


"Iya, jangan lama-lama"


"Baik, Tuan"


Endi pun singgah ke ruangan Eci dan menemukan Eci sedang membaca berkas.


"Eci, mana kartu namamu"


"Oh, Iy iya, nih, kartu namaku"


Di saat yang sama tatapan tajam Setno mengarah ke Sekretarisnya.


Endi yang melihat Setno di depan pintu hanya tersenyum.


"Aku pergi dulu Ci"


"Setno, jangan galak-galak sama cewek, kamu tak maju, aku yang akan maju" bisik Endi.


Setno pun hanya menampilkan wajah tanpa ekspresi namun di dalam hatinya, ada yang tercubit dengan kata-kata Endi. Aku tak boleh kalah dengan Endi.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2