Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Kebaikan pemilik toko


__ADS_3

Hari ini seperti biasa aktifitas Talita bekerja di toko bunga. dia sudah bersiap-siap menuju ke toko.


Sebelum ke toko dia singgah di warung makan. seperti biasa dia akan sarapan lontong sayur, hari ini Talita tidak memasak sarapan karena dia ingin sarapan lontong sayur.


"Bude, lontong sayurnya satu ya. minumnya teh hangat saja"


"Baik Neng"


Tak lama pesanan Talita datang dan dia pun segera menyantap lontong sayur.


Jam baru menunjukkan pukul 7 pagi, artinya masih ada 30 menit waktunya untuk sarapan.


Setelah selesai dia pun menyerahkan uang 20rb kepada Bude Darmi .


"Trima kasih bude Darmi"


"Sama-sama Neng"


Talita menuju ke toko bunga. Di tengah perjalanan dia bertemu Ibu Ramlah pemilik toko bunganya.


"Nak Ita, naiklah. Kita sama-sama ke toko" teriak Bu Ramlah.


"Trima kasih bu, Ita biar jalan kaki saja. tokonya juga sudah dekat"


"Biar cepat sampai Nak, Ayo naiklah"


Karena tak enak hati akhirnya Talita naik di mobil Bu Ramlah dan segera menuju ke toko bunga.


Setelah di dalam mobil


"Nak, apa setiap hari kamu berjalan kaki pulang pergi"


"Iya Bu, lagian juga toko bunga dan rumah kos saya tidak begitu jauh"


"Jarak begini kamu bilang tidak jauh Nak?"


"Ita sudah terbiasa Bu, yah anggap saja lagi berolahraga"


"Jika sudah malam pulangnya, sebaiknya naik ojek aja Nak. Di sini begitu rawan kejahatan"


"Iya bu"


Sebenarnya Talita hanya menenangkan bosnya. Baginya walau pulang malam hari, jalanan masih ramai.


15 menit kemudian mereka sampai ke toko bunganya.


"Trima kasih bu, sudah memberi tumpangan"


"Sama-sama Nak, lagian kita kan menuju ke tempat yang sama"


Karyawan yang lain melihat Talita turun dari mobil pemilik toko, ada salah satu karyawan timbul rasa iri di dalam hatinya. baru saja 2 minggu bekerja tapi Talita sudah sangat akrab dengan Ibu Ramlah.


Sedangkan dia yang sudah bertahun-tahun kerja dengan Bu Ramlah tidak pernah, jangankan dekat naik mobil bersama Bu Ramlah tak pernah.


Bu Ramlah sangat menyayangi Talita, karena Talita rajin dan Bu Ramlah sudah tahu kalau Talita anak yatim piatu.


Bu Ramlah ingin sekali mengangkatnya menjadi anak angkatnya, tapi Talita tak mau. Dia trauma tinggal bersama orang lain.


Lebih baik Talita memilih tinggal sendiri di bandingkan harus tinggal bersama orang lain.


Talita segera membersihkan toko, menyiram bunga dan seperti biasa dia akan berdiri di dekat jalan raya dan berteriak menawarkan bunga.


"Bunga!, bunga!, bunga!"


"Murah meriah, murah meriah" teriak Talita.

__ADS_1


Tak lama ada pelanggan yang mendekat.


"Bunga setangkai berapa dek?"


"Murah pak, setangkai 10ribu jika mau di rangkai harganya hanya 15 ribu"


"Aku mau yang di rangkai dek"


"Baiklah pak, silahkan masuk"


Mereka pun masuk ke dalam toko. Talita melayaninya dengan ramah.


"Silahkan di pilih bunganya Pak"


"Hmm.. mawar merah saja nak"


"Baiklah Pak, tunggu sebentar 10 menit saja. Bapak ingin menulis sesuatu di kertas?"


"Iya baiklah"


Pelanggan itu mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu di kertas itu.


Talita merangkai bunga dengan sangat cantik. pelanggan pun nampak sangat puas.


Tak lama bunga rangkaian Talita selesai dan dia menyerahkan pada pelanggannya.


Pelanggan itu sangat senang dan membayarnya, dia menyerahkan uang 20 ribu.


"Ambil saja kembaliannya Nak"


"Trima kasih Pak, jika perlu bunga lagi silahkan Bapak datang lagi ya Pak?!"


"Oiya Nak, trima kasih juga"


***


Talita pun melanjutkan berjualan di depan jalan raya.


Peluh lelahnya menetes di dahinya tapi itu tak menyurutkan Talita tetap berjualan.


"Bunga Hias"


"Bunga! Bunga! Bunga!"


Seseorang melihat Talita di depan jalan raya. Dia pun mencocokkan foto yang di pegangnya.


Senyum merekah di bibirnya, sebentar lagi dia akan kaya raya.


Dia pun menghubungi seseorang.


"Bos, target sepertinya cocok dengan foto yang di kirim"


"Benarkah, coba di foto ulang targetnya. jika benar, terus awasi jangan sampai kita kecolongan lagi"


"Siap, Bos. Perintah di laksanakan, bos jangan lupa upahnya ya"


"Tenang saja, itu pasti akan di kirim, jika target sudah di tangkap"


"Oke Bos"


Setelah memutuskan teleponnya, dia pun segera memotret Talita dengan handponenya.


Talita tak sadar jika seseorang mengawasinya dan memotretnya.


Talita tak menyangka Tante Ira menyebarkan fotonya di seluruh anak buahnya di Indonesia.

__ADS_1


Gembong ger*mo itu memang jaringannya cukup luas, mau di mana saja pasti akan di bekuknya.


Tanpa harus menyuruh detektif karena anak buahnya cukup banyak.


"Akhirnya aku akan kaya raya"


"Kamu mesin uangku"


Guman seseorang sambil mencium foto Talita.


*****


Sementara itu.


"Tolong!, tengkorak! tengkorak!," teriak seorang pencari cacing di sungai.


Dia kaget ada tengkorak manusia yang sudah membusuk mengapung ketika batu besar di singkirkan.


Tengkorak itu sudah tak bisa di kenali lagi. semua orang berkumpul di sungai.


Tak lama polisi datang dan mengevakuasi tengkoraknya Om Felix tapi tak ada satu pun yang mengenalnya.


Wajahnya hanya tinggal tengkorak, karena sebulan lebih terendam di dasar sungai.


Apalagi tangan dan kakinya terikat kencang dengan seutas tali. Semua bertanya-tanya ini tengkorak siapa.


Polisi sudah mengisi tengkoraknya di kantong jenazah dan membawanya ke bagian forensik fisik agar bisa di autopsi.


"Ya Allah, ngeri kali pembunuhan kali ini"


"Iya, benar"


Semuanya mencari tau siapa gerangan yang sudah di bunuh dan di biarkan di dalam air sampai membusuk hingga tinggal tengkorak


Bu Mey sepertinya mengenali baju yang di kenakan orang itu. dan sudah sebulan lebih ini juga Felix tak pernah muncul lagi.


Bu Mey mendekati salah seorang polisi yang membawa tengkorak itu.


"Pak, sepertinya saya mengenali baju yang di pakai orang itu"


"Benerkah Bu, jika ibu berkenan, ibu bisa hadir di ruang laporan dan kami akan pastikan membantu sekaligus mencocokkan orang tersebut dengan info yang ibu berikan?"


"Baik Pak, apa besok bisa saya ke kantor polisi ya pak, karena hari ini saya mau pergi ke dokter untuk mengontrol keadaan suami saya yang sedang lumpuh sampai saat ini . "


"Oh, iya bu. Tidak ada masalah, lagian jenazahnya juga masih mau di autopsi dulu"


"Trima kasih pak, ini nomor handpone saya pak, jika bapak ada keperluan tentang jenazah ini, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya"


"Baik, Pak"


Ibu Mey pun kembali ke rumahnya dengan rasa was-was. Dia sudah yakin jika itu Om Felix yang jahat.


Besok tinggal menemui bagian penanganan jenazah. Dan dia harus meyakinkan jika yang meninggal adalah Felix ayah tirinya Talita.


Bu Mey pun mengatakan kepada suaminya Pak Sobry.


"Alhamdulillah, Felix sudah dapat ganjarannya"


"Bener 'pak, mengerikan sekali. Meninggal dengan cara mengenaskan"


"Itulah balasan orang-orang yang zholim"


"Bener itu pak"


TBC...

__ADS_1


__ADS_2