
POV Talita
Aku mengerjapkan matanya, samar-samar cahaya lampu menyilaukan mataku, Aku langsung melihat di sekelilingnya.
"Astagfirullah mas"
Talita berusaha mendekati suaminya yang tergeletak di samping pintu.
Apa yang terjadi?
Pertanyaan itu langsung bersarang di pikiranku.
"Mas, bangun mas"
Aku berusaha menggoyang-goyangkan badan suamiku.
Tak lama suamiku mengerjapkan matanya.
Dia langsung memelukku.
"Alhamdulillah,kamu sudah sadar"
"Aku tadi pingsan karena menahan sakit di tungkai kakiku, tapi sekarang sudah tidak begitu sakit"
"Apa Endi yang menyakitimu?" tanyaku penasaran.
"Tidak sayang, aku hanya berusaha menyalakan sakelar lampu ini, akhirnya aku berhasil namun kakiku terasa sakit sekali"
Aku segera memijit pelan kaki suamiku, memang jika suamiku berusaha memaksakan kakinya pasti akan terasa sakit.
"Mas, aku bantu kamu menyingkir dari pintu ini"
"Biarlah aku menahan pintu ini sayang, biar Ambar dan Endi tak bisa masuk" ucap suamiku menolak untuk pindah.
"Tapi jika mereka punya senjata tajam, malah akan membuatmu terluka nanti" Aku takut jika suamiku akan terluka, aku akan memaksanya.
"Baiklah"
Perlahan-lahan suamiku menggeserkan badannya, aku pun membantunya.
Ckleekkk...
Pintu terbuka lebar.
Tatapan sangar Endi menghunus kepada kami.
"Wah, sayang. Kamu sudah bangun ya"
Cuihh...
Hatiku tak sudi dia memanggilku sayang. Aku pun menatapnya penuh amarah.
"Wow, tatapanmu membuatku makin semangat agar bisa melayaniku"
"Jangan pernah dekati istriku Endi, aku tak akan memaafkanmu!" teriak suamiku.
"Heh! Pria lumpuh. Kamu itu sudah tak bisa apa-apa, tapi masih saja belagu" geram Endi kepada suamiku dan membuatku sedih, aku tak rela ada yang menghina suamiku.
"Kamu itu bukan Bosku lagi, jadi aku di sini yang berkuasa"
Perlahan-lahan Endi mendekatiku.
Aku semakin takut dan memeluk suamiku.
"Berhenti! Jangan dekati Istriku" teriak suamiku, namun Endi malah semakin mendekatiku.
Endi menarik rambutku sekalian hijabku.
"Ayoo, sini, temani aku malam ini saja" ucapnya sambil menarik rambutku.
Suamiku berusaha mendorong kakinya Endi namun malah suamiku tersungkur di kakinya.
"Aku mohon Endi, jangan sakiti istriku, katakan, katakan apa yang kau inginkan"
"Jelas, aku menginginkan harta kalian dan ingin memiliki istrimu, hahahaha" tawanya menggelegar membuat bulu kudukku merinding, Endi bagaikan iblis yang menyerupai manusia.
"Ayo! kita akan bersenang-senang sebentar saja, lakukan seperti yang kau lakukan kepasa suamimu" senyum simrik mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Aku tak sudi, aku lebih baik mati dari pada melayanimu"
"Aku tak akan membiarkan dirimu mati sayang, ayolah, sebentar saja"
"Awww, lepaskan rambutku" jeritku tak tertahan.
"Ohhh, atau kau ingin di saksikan suamimu jika aku mengerayangimu, begitu,?"
Wajahnya di dekatkan kepadaku, aku pun meludahinya.
Cuuuiiihhh.
"Breengggseekkk"
Plakkkk.
Perih, itu yang di rasakan Talita.
"Endiiiii, beraninya kau menyentuh istriku" teriak geram suamiku, aku melihat nafasnya naik turun menandakan emosinya tak tertahan.
Endi pun makin menyeretku, aku tak ingin calon anakku terjadi apa-apa. Mau tak mau aku mengikuti langkahnya sambil menarik rambut dan hijabku.
"Endiiiiiii, jangan bawa istrikuuuu, Endiii"
Aku melihat suamiku menangis tak tertahan.
Ketika sampai di ruangan sebelah, aku di hempaskan di kasur yang sangat usang.
Aku memundurkan badanku.
Aku tak sudi untuk melayaninya.
"Ya Tuhan, tolonglah hambamu ini" jeritku di dalam hati.
Bayangan masa lalu di perkosa oleh ayah tiri masih terekam jelas di pikiranku.
Endi membuka ikat pingganggnya.
Dia pun menurunkan celananya.
Aku menutup wajahku, aku tak ingin melihatnya lagi.
Akhhhhhhh....
Endi mengerang kesakitan, perlahan-lahan aku melepas tanganku yang menutupi wajahku.
"Breenggsekkk, itu pantas yang kau dapatkan, aku mengajakmu bersenang-senang, malah kau menolaknya, ternyata rupanya kau ingin bersenang-senang dengan ****** ini"
"Am_barrr, a apa ya ng ka ka kau lakukan" suara Endi terbata menahan sakit.
Aku melihat darah segar mengucur dari balik punggungnya.
Endi tergeletak tak berdaya.
"Kau pantas mati, Endi. Kau kira obat tidur yang kau kasih padaku mempan untukku, satu butir itu tak akan membuatku nyenyak, bodohhhh!!" umpat Ambar kepada Endi.
"Kau lebih baik mati, kalian berdua pantas mati di tanganku, agar aku bisa bersatu dengan Mas Adi,hahahaha" tawa Ambar mengelegar di ruangan ini.
Aku melihat Endi tak bergerak lagi.
Aku bergidik ngeri ketika pistol itu di arahkan kepadaku.
******
Sementar Setno dan Polisi telah melumpuhkan anak buah Bento dan anak buah kemo kaki tangannya Endi. Mereka telah tertangkap, Setno dan beberapa polisi mengeledah gudang penyimpanan.
Nihil.
"Mereka ada di mana?!" bathin Setno.
"Pak, ikuti saya, sepertinya mereka ada di gudang bawah tanah. namun hati-hati, karena bisa saja kita ketahuan dan membahayakan Tuan dan Nyonya saya"
"Bapak kasih tunjuk saja tempatnya, kami akan berhati-hati"
"Lewat sini pak."
Mereka menyusuri lorong sempit, hingga di ujung kamar terlihat seorang wanita mengacungkan pistolnya.
__ADS_1
"Angkat tangan!!, Lempar pistolnya sekarang juga"
Ambar kaget dan terperangah.
Dia pun mengangkat tangannya.
Setno langsung melihat Tuannya yang ada di ruangan sebelah.
"Tuan, Anda baik-baik saja" Setno mendekati Tuan Adi.
"Aku baik-baik saja Setno, istruku bagaimana?" tanya Tuan Adi.
"Alhamdulillah, istri Tuan selamat"
"Bawa aku ke sebelah"
Endi pun mau menggendong Tuan Adi, namun Tuan Adi menolak.
"Papah aku Setno, sekarang juga"
"Tuan, sudah bisa menopang tubuh sendiri?" ucap Setno tak percaya.
"Iya, aku sudah bisa menopang tubuhku. Ayo bantu aku ke sebelah"
Aku senang tak terkira, Aku melihat suamiku di papah Setno. Aku pun mendekati.
Ambar saat ini telah di borgol.
"Talita Awaassssss"
Aku terhenyak ke kasur
Dor
Dor
Akhhhh.....
Akhhhh...
Ternyata Ambar sempat mengambil pistol yang ada di saku polisi dan polisi langsung menembaknya bersamaan dia menembakku.
Namun Aku di selamatkan suamiku. Aku melihat Ambar dan suamiku tergeletak.
"Maaaaaas Adiiiiiiiiii" Aku mendekati suamiku yang berlumuran darah.
"Jangan... jangan tinggal kaan akuu mas, akuuu tak aku tak sangguup"
Air mataku jatuh tak tertahaannn.
"Sa sayyaaang, jangan menangis"
Suamiku menyapu air mataku dengan darah yang ada tangannya.
"Bertahanlah mas, Setno ayo bantu aku membawanya"
"Bukaa matamu mas, bukaaaa, jangan tinggalkan akuuu maas aku mohoonn" Teriakku bagai orang gila.
"Aku Rapuh, Tuhan.... Aku tak sanggup hidup" rintihku.
Akhirnya aku langsung pingsan, aku tak sadarkan diri lagi.
Polisi membawa jenazah Endi, jenazah Ambar dan Tuan Adi ke Rumah Sakit.
Aku melihat cahaya yang sangat terang.
"Ayah, ibu, suamiku, Nenek Saroh" mengapa mereka ada di sini.
Bathin ku tertahan.
Aku ada dimana sekarang.
Mengapa semuanya berwarna putih.
Apa aku juga telah meninggal atau ini hanya mimpiku.
Aku pun mendekati mereka semua dan langsung memeluk Ibuku dari belakang.
__ADS_1
TBC.....