
3 Bulan kemudian.
Hari ini waktunya Tuan Adi dan Talita akan Babymoon ke Gorontalo lagi, niatnya Talita sekalian ziarah kuburannya Nenek Saroh.
Sudah sejak lama di rencanakan namun karena kondisi Tuan Adi belum benar pulih, terpaksa harus di undur.
Saat ini usia kandungan Talita memasuki 7 bulan, dan ketika di USG ternyata Talita mengandung anak laki-laki.
Tuan Adi sangat bahagia setelah mengetahui jika anak yang di kandung Talita bisa menjadi penerusnya nanti. Dia berharap Talita dan anaknya akan selalu sehat dan anaknya bisa lahir dengan selamat.
Tibalah mereka di Bandara, sekarang Tuan Adi dan Talita sedang meninggalkan Bandara Jalaludin dan menuju pulau cinta tepatnya di Kabupaten Boalemo Kota Gorontako yang telah di pesan Romy.
Babymoon kali ini sengaja di pilih Talita karena di Gorontalo dia dan Tuan Adi bersatu.
Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Cinta, Talita dan Tuan Adi merasa takjub dengan pemandangan yang tersaji. Air lautnya yang bening banget, sampai mereka dapat melihat terumbu karang dan penghuni laut lainnya dengan jelas.
Jika di lihat dari atas, jembatan-jembatan tersebut saling berkaitan dan membentuk lambang love.
Mereka lanjutkan dengan mengelilingi resortnya yang saling terhubung satu sama lain dengan menggunakan jembatan sederhana.
Semua cottage yang ada berada di atas laut, sehingga Talita dan Tuan Adi menikmati indahnya lautan langsung dari kamar.
Talita terperangah ketika memasuki kamar yang telah di pesan Romy, sederhana namun suasana romantis menyelimuti hatinya.
Suasana romantis semakin terasa ketika malam tiba, di mana Talita dan Tuan Adi dapat melihat bintang-bintang yang bersinar di langit Pulau Cinta.
"Sayang, kau suka tempatnya?" tanya Tuan Adi yang sedang menyandarkan kepalanya di perpotongan leher Talita dan kedua tangannya mengelus perut Talita yang sudah membuncit yang berisi calon buah hatinya.
"Sangat suka yang, bahkan aku tak menyangka tempatnya seindah ini"
Senyum merekah di bibir cerry Talita, dan itu membuat Tuan Adi ingin men****nya.
"Aku kira kamu ingin ke luar negeri, Sayang"
"Pulau cinta ini juga maldives Indonesia, apalagi Gorontalo ini awal tempat kita untuk memulai hidup baru, Mas. Aku hanya ingin menambah kesan yang indah buat kita kenang nanti"
Talita memutar tubuhnya hingga 180 derajat. Walau terhalang perut Talita yang sudah membuncit tak mengurangi kesan romantis keduanya.
Tangan Talita yang merangkul di leher Tuan Adi dan Tuan Adi berusaha menahan pinggang istrinya.
"Istriku semakin hari semakin cantik" puji Tuan Adi.
"Apa aku dulu tak cantik, hmm" tanya Talita sambil mengedipkan matanya seakan penasaran dengan jawaban Tuan Adi.
"Cantik, sangat cantik dan sekarang istriku lebih cantik lagi"
__ADS_1
Bak tomat yang matang pipi Talita merekah, dadanya yang berdegub kencang hingga muncul riak-riak kecil yang tak bisa di gambarkan oleh Talita.
Tuan Adi memajukan bibirnya hingga kelopak mata Talita melebar, dadanya kian bergemuruh panas penuh degub, dengan perlahan-lahan Tuan Adi me***** lembut benda berwarna cerry nan merah jambu itu. Bulu kuduknya merinnding saat menahan sen- sasi yang di beri Tuan Adi. Cekatan pa- nas terasa saat tangan Tuan Adi membelai lembut daerah punggungnya.
Sebuah sen- sasi menegangkan menyeluruk di dalam hati Talita dengan menyelaminya di pejamkan kedua matanya.
Tuan Adi melihat Talita yang memejamkan mata, bibirnya melengkung, sehingga dia pun memperdalam ci*****nya. Oksigen keduanya mulai menipis namun mereka belum mau mengakhirinya, dari yang sebelumnya perlahan kini menjadi semakin intens.
Tuan Adi menarik l***n dari Talita.
"Sayang, apa boleh?" tanya Tuan Adi perlahan di bisikkan ke telinga Talita, hingga aroma mint menyeruak.
Talita hanya bisa mengangguk.
"Kita ke dalam, di sini anginnya sangat kencang, angin laut malam tak baik untuk kesehatanmu" ucap Tuan Adi sambil menaik turunkan Alisnya.
Talita yang tahu keinginan suami hanya bisa pasrah dan mengikuti derap langkah suami yang sedang menggenggam tangannya mengajaknya masuk ke dalam penginapan di pulau cinta.
Tuan Adi merebahkan perlahan tubuh Talita, kemudian, ia menyentuh tubuh Talita di bagian titik-titik yang membuat Talita merasakan seperti menggapai riak-riak remang dengan jari-jari lihainya. meneliti dari puncak kepala hingga ke ujung kaki. Hal itu jelas membuat Talita merasa sangat senang hingga bagai terssengat listrikk yang membuatnya mere_ mang tak tertahan.
Tuan Adi pun tersenyum bahagia ketika Talita mulai menikmatinya.
Tuan Adi mengingat bagaimana malam sebelum Talita pergi dari sisinya, bahkan hanya teriakan pilu Talita terdengar, dia tak ingin itu terjadi lagi.
Sudut matanya mulai basah, Talita yang melihat suaminya yang hampir menangis pun tau bagaimana perasaan suaminya.
Talita segera men****kan bibirnya dan menga_ lungkan kedua tangannya di leher Tuan Adi.
Mendapat serangan mendadak, Tuan Adi tak ingin membuang kesempatan, dia pun membalas dengan lembut, hingga keduanya sama-sama melepaskan rasa karena oksigen mulai menipis.
Tuan Adi mulai bermain intens di tempat favoritnya.
Ahhhh.... Mas.
Suara rintik hujan menambah gerah dua insan yang di mabuk asmara. .
Sebelum di ra_suki lebih dalam, Tuan Adi meng gesek - ges_ ekkan sesuatu yang mengeras agar bisa penuh dengan sempurna
Reaksi berbeda di rasakan Talita hingga dia menge_ rang nik_ mat.
"Sayang, aku sudah tak ta..... Ahhhhh"
perkataannya bagai melayang di udara karena kaget dengan apa yang di lakukan Tuan Adi.
Jet tempur menancap sempurna, bunga yang indah membuat tombak dengan semangat mengobrak abrik benteng yang sudah empat bulan belum pernah di sentuhnya.
"Ahhh... ahh.. "
Tuan Adi bertambah semangat merusak bunga yang mekar, pakunya di buat menusuk lebih dalam lagi, lebih dalam lagi hingga berulang-ulang
__ADS_1
"Aahhh.. Say... aku tak nnn"
"Jangan di tahhan sayang, aku sudah berjanji akan membahagiakanmu, semula kau yang membahagiakanku, namun sekarang kau cukup menikmatinya" Ucapnya sambil menghen_ takkan paku hingga lebih dalam lagi.
Kini tempat yang semula rapi, kini tak berbentuk lagi.
Ahh.... Mas...
Tuan Adi yang belum kalah dalam peperangan masih terlihat segar, namun Talita yang memang senang bermain di bagian a_tas meminta dia yang memimpin pertempuran.
Tuan Adi pun hanya pasrah dan melen- tangkan badannya, kepalanya di sandarkan di bagian dipan tempat tidur.
Talita pun mangambil kemudi.
Ahhhh sayaangg...
Talita yang sadar akan kehamilannya membuatnya harus extra hati-hati. Apalagi ketika berada di atas, namun Tuan Adi pun membantunya dengan tenaga tan_gannya agar Talita bisa bergerak perlahan-lahan.
Sudah beberapa kali mereka memainkan perannya di ranjanggg, keringat mengucur deras namun belum ada yang mau tum_bang.
Talita bergerak cepat memainkan paku yang sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Ahh.. maaas
"Hati-hati sayangggg, aku juga sudah tak tahaan"
Permainan semakin gerah, namun Tuan Adi masih belum melepaskan Talita.
Hingga akhirnya Tuan Adi pasrah, mereka pun meluapkan kesenangan mereka serentak.
Ugghhhh..!!!
Talita melepas sesuatu mengganjal yang memenuhi miliknya.
Ahh....
Dia pun membari_ ngkan badannya di sebelah Tuan Adi.
"Makasih sayang" kecupan mendapat di dahi Talita.
Talita hanya mengangguk dan menutup matanya.
Akhirnya mereka saling mende_ kap, Tuan Adi mengusap perut buncit Talita.
Semoga anakku baik-baik saja.
Tuan Adi takut jika kandungan Talita akan bermasalah, jika Talita selalu yang memimpin permainannya.
TBC...
Jangan lupa beri Vote dan komentar..
__ADS_1
maaf lama karena di tolak terus...