Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 62


__ADS_3

Di ruang ranap kasuari, seorang laki-laki paruh bayah terbaring lemah. Perlahan-lahan Pak Jamal membuka matanya.


"Nak, Talita" ucapnya lirih.


"Iya Pak, semoga cepat sembuh ya"


"Trima kasih nduk, Nenek Saroh gimana kabarnya" tanya Pak Jamal, walau bagaimanapun dia masih sangat mencintai Nenek Saroh.


"Nenek, Nenek Saroh sudah meninggal seminggu yang lalu karena kecelakaan pak" ucap Talita dengan terbata.


"Innalillahi wainnailahi roji'un" matanya pun langsung berkaca-kaca, wanita yang di cintainya telah pergi dan tak akan kembali.


"Ini anak ganteng siapa nak?" tanya Pak Jamal melihat Tuan Adi.


"Aku suaminya Talita pak," ucap Tuan Adi datar tanpa ekspresi, ingatannya masih ke masa lalu seorang bapak tua tega ingin mengusir istrinya.


Pingkan pun hanya memperhatikan sikap Tuan Adi, ada rasa kagum kepada Tuan Adi. Bagi Pingkan, walau dia bersikap dingin namun perhatian kepada Talita menandakan dia begitu penyayang. Walau Talita meninggalkan Tuan Adi, tak ada rasa marah di hati Tuan Adi. Pingkan merindukan sosok suami seperti Tuan Adi.


"Aku mau jadi istri kedua, asal semua kehidupanku di jamin" Pingkan membatin sendiri sambil menatap Tuan Adi.


Sebenarnya Tuan Adi tau jika Pingkan memperhatikannya terus, sehingga dia pun langsung mengajak Talita pulang karena merasa risih.


"Apa bener orang ini telah sadar, aku sepertinya meragukannya" batin Tuan Adi di dalam hatinya.


Di lihatnya Pingkan di sampingnya, Pingkan melemparkan senyum termanisnya.


Namun Tuan Adi tetap berekspresi datar bahkan tersenyum pun tidak.


"Sayang, ayo kita pulang, kamu belum makan siang, kasian calon anak kita kelaparan nanti" bujuk Tuan Adi yang membuat Pingkan terperangah.


"Talita, hamil?" gumamnya.


"Enak banget ya Talita, hidupnya sudah sempurna" batinnya lagi.


"Iya mas, dari sini kita singgah di warung pecel ya, aku pengen makan nasi Pecel"


"Iya sayang,"


"Pingkan, Pak Jamal, saya pergi dulu ya, jika sempat saya akan kesini lagi"


"Iya Talita, aku antar kalian ke depan" usaha Pingkan agar dekat Tuan Adi.

__ADS_1


"Nggak apa-apa, aku bisa ke parkiran bersama suamiku"


"Kamu kan lagi hamil, kasian jika mendorong kursi rodanya. Biar aku antar kalian ke depan ya"


"Baiklah"


Karena tak ingin berdebat, akhirnya Talita mengalah.


Kursi rodanya Tuan Adi telah di dorong Pingkan, sekali-kali Pingkan mengusap pundak Tuan Adi.


"Dasar nenek peot, tangan kotornya di sentuhkan kepadaku"


Tuan Adi pun langsung mengirim pesan kepada Endi, agar segera datang ke ranap kasuari.


Tak lama Endi pun datang di ranap kasuari.


"Eh, Endi, ini Tuan Adi dan Talita sudah mau kembali"


"Maaf tuan saya datang terlambat"


"Nggak apa-apa, kamu dorong kursiku saja"


"Ish, aku harus berusaha bagaimana caranya agar bisa dekat dengan Talita" sorot matanya menampilkan kekecewaan, dia pun menyusun rencana agar Tuan Adi bisa dekat dengannya.


Setelah sampai di lobi Rumah Sakit, ternyata Talita dan Tuan Adi bertemu dengan seseorang yang harusnya tak pernah bertemu mereka lagi.


"Adi" sapanya.


"Ambar" Tuan Adi terperangah.


Talita hanya tersenyum.


"Kamu mengapa sampai duduk di kursi roda seperti ini?" tanyanya mendekati Tuan Adi.


"Sudah, bukan urusanmu lagi. Semenjak kita buat surat perjanjian di situ jelas tertulis, kita tak boleh mencampuri urusan masing-masing"


"Wanita ini hanya buat kamu sial Adi, lihatlah kamu sekarang"


"Stop Ambar, aku malah beruntung memiliki istri seperti Talita, dari pada kamu hanya inginkan hartaku"


"Kurang apalagi, aku telah memberikanmu perusahaan dan rumah tinggalku bahkan sebelumnya aku telah membagi sahamku padamu, masih kurang apalagi"

__ADS_1


"Aku ingin kita kembali lagi,"


"Bulshitt, aku tahu perusahaan yang aku berikan sudah gulung tikar kan? bahkan rumahmu akan segera di lelang, untuk itu kamu mau mendekati aku lagi"


"Aku sudah katakan, tak ada lagi yang mau menikahiku semenjak kau meninggalkan jejak pilu di tubuhku ini,hah!"


"Aku sudah menikah dengan orang lain, tapi orang itu mencampakkan aku setelah melihat tubuhku ini, aku minta pertanggung jawabanmu" desaknya Ambar.


"Saat ini aku sudah bahagia dengan Talita, apalagi Talita saat ini sedang mengandung buah hatiku, Pergilah! jangan pernah dekat denganku lagi"


"Wow, wanita ini hamil setelah meninggalkan kamu? trus kamu katakan itu anakmu? hahaha...laki-laki bodoh kamu Adi" cela Ambar.


"Terserah, aku lebih bodoh lagi jika menikah denganmu lagi, ayo Endi, tinggalkan saja wanita stress ini"


"Breessekk, kamu yang stress Adi, lihatlah kamu tak bisa berdiri akibat karma yang harus kamu rasakan"


Talita yang mendengar mantan istrinya mengumpat suaminya tak tinggal diam.


"Mbak Ambar, sebenarnya aku tak ingin mencampuri urusan kamu dan suamiku. namun karena mbak sudah mengatakan karma untuk suamiku jadi aku ingin menegaskan kepada mbak Ambar"


"Karma tidak ada dalam Islam, yang ada hanya pada agama Hindu Budha, dalam Islam tidak ada karma. Jangan biasakan menggunakan kalimat karma, karena itu bukan istilah dalam agama kita"


"Kita tidak punya urusan dengan karma, tapi yang kita yakini adalah setiap yang kita lakukan kita harus pertanggung jawabkan dan ada balasanya dari Allah"


"Kalau itu kebaikan maka akan di balas kebaikan, kalau itu keburukan maka akan mendapat balasan dari Allah"


"Mbak Ambar sendiri tanpa sadar telah berbuat dzalim kepada mantan suami mbak, mbak sudah memenjarakannya, iya wajar, karna dulu perbuatannya memang harus mendapat hukuman, tapi mbak sadar tidak, jika itu di lakukan Mas Adi tanpa sadar karena penyakitnya. Beruntung sekarang penyakitnya sudah sembuh. Dan mbak sadar tidak, jika sudah meminta haknya dan sudah di berikan suamimu. Ingat! kalau seseorang berbuat dzalim pada seseorang, dosanya di hadapan Allah tetap di perhitungkan. Jadi tolong jangan asal menyumpahi suamiku"


"Aku wanita, mbak juga wanita, aku paham bagaimana rasanya di campakkan seseorang, namun janganlah dendam kepada Mas Adi saja. lebih baik mbak instrospeksi, lebih mendekatkan diri kepada Allah, suatu saat akan mendapat jodoh yang tepat yang dapat menuntun kita ke surganya Allah"


"Ingat mbak, saat ini aku dan mas Adi adalah sepasang suami istri. RASUŁULLAH SAW BERSABDA..barang siapa yg merusak hubungan seorang wanita dengan suami nya maka dia bukan bagian dari kami, hadits HR.AHMAD SHAHIH, apa mbak mau merusak hubungan saya dan Mas Adi?"


Ambar terdiam, dia masih belum rela jika Tuan Adi bahagia dengan pilihannya. Egonya masih meronta-ronta. Ucapan Talita tertohok di otaknya. Walau Talita lebih muda darinya namun sikap dewasanya membuat Ambar sadar, mengapa Mas Adi tetap bertahan dengan Talita.


"Kami pergi dulu, assalamu'alaikum"


Tuan Adi menggenggam tangan Talita dan di ciumnya, seorang gadis cantik dan muda namun bisa membimbingnya ke arah lebih baik, sabar menjalani cobaan yang datang silih berganti.


Dalam hati Tuan Adi tak akan pernah menyia-nyiakan seorang Talita lagi.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2