
Keesokan harinya.
"Tuan, hari ini kita akan ke dokter lagi" tanya Endi.
"Iya, aku sebenarnya ingin sendiri saja, namun Talita ingin ikut juga" Tuan Adi menarik nafas panjang.
"Tapi sebaiknya Tuan sendiri saja, takutnya kejadian kemarin terulang lagi" desak Endi.
"Aku sudah berkata seperti itu, namun... "
"Mas, aku sudah siap" perkataan Tuan Adi tercegat di tenggorokan.
Firasatnya semakin menjadi.
"Mas, ayok nanti kita terlambat ke dokter"
"Baiklah, ayo Endi kita ke Dokter sekarang"
Endi pun harus memutar otaknya agar Tuan Adi pergi sendiri, dia tak ingin Talita ikut dengan Tuan Adi.
"Nyonya sebaiknya Nyonya tak ikut dengan Tuan, percayalah aku akan menjaga Tuan dengan baik"
"Aku ingin selalu melihat perkembangan kesembuhan Suamiku Endi, ayo! siapkan mobil, aku tak ingin Suamiku terlambat untuk terapy"
"Baiklah Nyonya"
Mereka pun bergegas ke Rumah Sakit, namun di tengah perjalanan, ban mobilnya kempes.
"Tuan, bannya kempes, dan saya lupa membawa ban serepnya" modus Endi.
"Astagfirullah, Endi, bagaimana bisa ban serep mobilnya kamu tak bawa, terus bagaimana" tanya Talita.
"Tenang aja Nyonya sebentar saya telpon teman saya untuk menjemput kita"
"Baiklah"
"Maafkan saya Nyonya, harusnya kamu tenang saja di rumah. Namun karena kamu mau tetap ikut, yah sudah. Satu tepukan, dua lalat ke jebak juga, hahaha" Batinnya Endi berkata sambil senyum simrik terbit juga di bibirnya.
"Tak usah Endi, aku sudah menelpon Setno nih"
"Itu mobilnya Tuan, kebetulan rumah teman saya dekat sini"
Terpaksa Tuan Adi mematikan sambungan telpon dengan Setno.
Endi pun membantu Tuan Adi keluar dari mobil dan Talita mengikutinya.
"Endi cepat ke Rumah Sakit, kita sudah terlambat" desak Talita.
"Iya Nyonya tenang saja, kita akan melintasi jalan pintas" jawab Endi dengan senyum sinis.
"Baiklah" Tak ada kecurigaan di dalam hati Talita.
Mobil pun berputar arah.
"Endi, Rumah Sakitnya ke arah sana, mengapa kamu memutar arah"
__ADS_1
"Kan saya sudah katakan Nyonya, kalau kita akan lewat jalan pintas"
Talita hanya mengangguk namun di dalam hatinya sudah ada firasat tak enak.
15 menit kemudian.
"Endi, mengapa kita tak sampai-sampai ke rumah sakit, jika ikut jalan sebelumnya sudah tentu Rumah Sakit sudah dekat karena ini sudah 15 menit" Tegas Tuan Adi.
"Banyak bacoottt, Bugghhh" Endi yang berada di belakang Tuan Adi memberikan pukulan di leher Tuan Adi.
"Endi, apa yang kamu lakukan!" Talita.
"Diaaaam!!!"
Endi mengeluarkan sebuah pistol dari dalam bajunya.
Talita sadar, ternyata Endi dalang dari kejadian kemarin.
Air matanya menetes.
"Katakan, katakan Endi, mengapa kamu lakukan ini kepada kami" ucap Talita dengan deraian air matanya.
"Aku mengira kamu begitu baik selama ini, menolong Nenek Saroh dan aku, katakan apa sebenarnya yang kamu mau"
"Hahahahaha, hapus air matamu itu bodoh, aku lakukan semuanya agar kalian mempercayai aku, Oh, maaf. Nenekmu itu memang pantas mati" kilatan amarah ada di mata Endi.
"Hiks, apa salah Nenek Saroh, Astagfirullah, berarti kamu juga yang membuat suamiku kecelakaan? Katakan"
"Yaaaa... tebakanmu emang benar, aku yang melakukannya dan aku juga di anggap pahlawan untuk Suamimu dan Nenek Saroh. Hahaha"
Tawa Endi membuat bulu kuduk Talita merinding, ada apa sebenarnya.
"Tidak semudah itu ferguso, hahaha, aku ingin suamimu menderita dan dirimu juga" masih terlihat jelas amarah di wajah Endi.
"Katakan apa salah kami kepadamu, apa salah Nenek Saroh"
"Salahnya Nenek Saroh sudah membantumu,"
"Astagfirullah, nenek, hiks" derai air mata Talita semakin deras.
"Apa memang orang yang baik kepadaku pantas mendapat nasip buruk" rintih Talita.
Mulai terbayang wajah Ibunya, Bu Mey, Pak Sobri, Nenek Saroh, dan sekarang Suaminya.
"Lalu kenapa kamu membenciku dan suamiku, katakanlah, apa yang harus kami lakukan jika kamu mau melepaskan kami"
"Kalian berdua orang yang pelit padaku, Agung yang baru kalian kenal sudah kalian kasih Ruko, sedangkan Aku? Hanya uang 1 M saja belum cukup untukku"
"Sedangkan ruko yang sama Agung saja 1 M, belum lagi uang di beri Setno, aku rasa kalian perhitungan denganku" bohong Endi. Sebenarnya itu juga alasannya namun alasan sebenarnya adalah dia hanya ingin menguasai harta Tuan Adi dan Talita.
Endi sebenarnya hanya ingin membunuh Tuan Adi, namun karena harta seluruhnya sudah di limpahkan untuk Talita, mau tak mau Talita juga harus andil dalam pembalasan dendam untuk kekasihnya.
"Ayo ikat mulutmu itu, aku tak ingin kamu banyak baacoot"
"Ayo ikaatt!!!" teriak Endi lagi.
__ADS_1
Talita pun menuruti perkataan Endi, Talita pasrah, hanya pertolonagan Allah saja yang mereka harapkan.
"Bos, sepertinya kita di Ikuti" ucap sang sopir.
"Brenggseek, pasti kerjaan Setno. Aku akan suruh Bento mengelabui mereka"
"Iya bos"
"Berarti semalam team kemo gagal melumpuhkan Setno, kuraaangg aajjar" teriak Endi lagi.
"Mereka sempat kabur bos, beruntung mereka tidak tertangkap"
"Bagus, aku akan menyuruh Kemo dan Bento stanbay di tempat" gumam Endi.
"Hallo"
"Jalankan rencana B"
****
"Jangan sampai kehilangan jejak, ikuti terus mobilnya" Setno berbicara di telepon dengan seseorang.
"Kami sudah memberi alat pelacak di mobil itu bos, kami akan kirimkan titik pelacak di handphone Bos"
"Baiklah, setelah meeting aku akan menyusul, ingat jangan sampai lengah."
"Jika saja hari ini tak ada pertemuan klien, aku akan selalu bisa memantau Tuan Adi" gumam setno di dalam hati.
Setelah selesai bertemu klien, Setno langsung menuju ke kantor Polisi untuk memberi bukti CCTV yang berisi pertemuan Endi dan Ambar di dekat rumah sakit.
Setelah itu Setno dan Polisi mengikuti alat pelacak yang ada di layar monitor Handphone
Setno.
***
Endi yang curiga mobil mereka tak diikuti lagi langsung menyuruh berhenti.
"Periksa mobil ini, mungkin ada sesuatu"
Talita ingin mengambil kesempatan untuk kabur, namun melihat suaminya tak berdaya sehingga mau tak mau dia tetap mengikuti kemana pun suaminya di bawa oleh Endi.
****
"Pak, kita kehilangan alat pelacaknya, sepertinya alatnya telah di rusak"
"Tenang aja pak Setno, kami akan berusaha mencari Tuan Adi dan istrinya"
"Tiger 1, Tiger 1 monitor, alat pelacak sudah rusak, jangan sampai buruan kabur, nomor polis B 7193 Al jangan sampai lolos"
"Tiger 1 siap monitor, kami sudah siap di tempat terakhir alat pelacak berada. Dan kami telah mendapatkan bukti arah mobil mereka"
"Siap laksanakan"
"Yaa Allah, Lidungilah Tuanku di manapun berada, aku takut terjadi sesuatu dengan Tuan dan Nyonya, apalagi Nyonya lagi hamil, ku mohon lindungila mereka Ya Allah" Batin Setno di dalam hatinya.
__ADS_1
Baru kali ini Setno begitu tak berdaya.
TBC....