Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 32


__ADS_3

Talita tertidur dalam tangisannya, tubuhnya masih terbaring di belakang pintunya.


Dia terbangun ingin melaksanakan sholat dzuhur. Dia segera membersihkan badannya dan mengambil air wudhu terlebih dahulu.


Talita tak berhenti berdo'a untuk keselamatannya dan memohon pengampunan dari sang khalik.


Mata Talita masih bengkak karena menangis.


Tok! tok! tok!


Talita segera melepas mukenanya dengan segera dan menyimpannya di dalam lemarinya.


Dia segera berlari membuka pintu kamarnya.


"Madam, silahkan masuk"


"Tak perlu, kamu siap-siap. Sebentar lagi pelanggan akan datang kepadamu"


"Baiklah Madam"


Madam Ira segera meninggalkan Talita dengan lemas, tubuhnya sebenarnya belum begitu siap untuk melayani tamu.


Namun apa daya, dia harus menuruti kata-kata Madam Ira.


Madam Ira menuju ke ruangannya.


"Aku tak akan beri kesempatan untuk Talita beristirahat"


"Rasakan akibatnya, karena telah menjauhkan aku dari mesin uangku" geram Madam Ira.


Talita hanya terdiam, tak ada pilihan lain lagi selain menuruti apa kata Madam Ira. Talita pun segera membersihkan dirinya.


Seperti biasa penampilannya hanya natural saja, tak ada make up tebal yang menempel di pipinya.


Ketika pintu di ketuk, Talita segera membukakan pintunya.


Talita melihat pemuda yang umurnya sudah sekitar 2 kali umurnya.


"Masuklah, silahkan bersenang-senang" ucap Madam Ira.


Talita pun segera mempersilahkan pelanggan itu masuk ke kamarnya.


Pemuda itu hanya sekilas melihat Talita, lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya Talita.


Pemuda itu langsung duduk di samping ranjang Talita.


Talita nampak kikuk atas tatapan dari pemuda itu.


"Siapa namamu?," tanya Pemuda itu.


"Namaku Talita Kusumaningrum"


"Nama yang cantik, seperti orangnya"


Talita ingin menanyakan nama pemuda itu, tapi entah mengapa bibirnya tak dapat mengeluarkan apa yang ingin di sampaikan.


Talita hanya terdiam, tak ada senyuman atau basa-basi yang keluar dari mulutnya.


"Perkenalkan namaku Adi Prakoso,"


"Apa aku bisa memanggilmu Mas Adi, atau Kak Adi"


"Panggil aku Mas Adi saja, umurmu sekarang berapa?"


"Mmm, duduklah di sampingku ini" ucap Mas Adi kepada Talita sambil menepuk sebelah tempat duduknya, karena melihat Talita hanya berdiri di depannya.


"Trima kasih, saat ini umurku sudah 16 tahun lebih"


"Sangat muda. Aku lihat matamu bengkak, apa kamu habis menangis?"


Talita hanya mengangguk.


"Mengapa? apa aku bisa tau alasannya"


Talita hanya menggeleng, dia tak ingin membagi deritanya.


Talita takut jika itu membuat Mas Adi tak datang lagi ke tempat ini, dan ujung-ujungnya pasti Madam Ira akan menyalahkannya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah lama di tempat ini?" tanya Mas Adi.


Talita mengangguk.


"Aku sudah hampir 2 tahun di tempat ini," ucapnya dengan lemah.


"Apa kamu tak ingin pergi dari sini?"


Talita kaget dengan pertanyaan Mas Adi. Talita menatap wajah Mas Adi.


Tampan.


Itulah kesan Talita awal pandangan.


Talita pun segera memutus tatapannya, dia segera melihat ke atas plafon.


"Kalau itu Mas Adi ingin tahu, sebenarnya aku ingin sekali keluar dari tempat ini, tapi apa dayaku"


"Aku sudah berulang kali kabur dari sini, tapi itu hanya sia-sia saja"


Seketika air matanya Talita menetes.


Mas Adi menghapus air matanya.


"Apa kamu beneran ingin keluar dari tempat ini?"


Mas Adi berjongkok memegangi tangan Talita.


Perlakuan Mas Adi membuat jantung Talita berdegub kencang.


Geduk... duk... duk...duk.


Talita berusaha menetralkan degub jantungnya.


Apakah ini sudah jalannya? apa Mas Adi adalah jawaban dari do'a-do'anya?


Talita mengangguk tersenyum.


"Apa Mas Adi mau mengeluarkan aku di tempat ini? Aku akan berterima kasih sekali jika itu Mas Adi akan lakukan"


"Tapi aku punya satu syarat"


"Tapi......., aku wanita kotor, aku bekas pemuas nafsu orang-orang" ucap Talita sedih.


"Aku tak keberatan kamu datang dari mana asalnya, pekerjaanmu atau kamu sudah kotor yang katamu, yang paling penting kamu mau menjadi istriku"


"Apa tak boleh kita saling mengenal dahulu, setelah itu kita nikah?" tawar Talita.


"Aku membutuhkan pendamping, jika untuk saling mengenal, kita bisa lakukan setelah kita menikah saja, bagaimana?"


"Alhamdulillah, In Syaa Allah aku siap menjadi istri Mas Adi, yang mau menerimaku apa adanya"


Senyum simrick di sudut bibir Mas Adi.


Akhirnya dia mendapat apa yang dia inginkan.


Dia yakin pasti Talita orang yang kuat dengan perlakuannya.


"Baiklah, kamu tunggu di sini dulu. Aku akan bertemu dengan Madam Ira."


Talita mengangguk senang.


Mas Adi segera meninggalkan Talita di kamarnya.


"Trima kasih yaa rabby, aku percaya pasti ada mujizatmu" ucap Talita sambil mengusap wajahnya dengan harapan yang cerah.


Keinginannya akan terkabul, do'a-do'anya selama ini telah di jawab Allah SWT.


Talita sangat bahagia.


Talita segera mengepasi barang-barangnya dengan semangat yang baru.


***


Mas Adi ke ruangan Madam Ira.


Tok! tok! tok!

__ADS_1


"Masuk" teriak Madam Ira dari dalam.


kreeett.


Madam Ira heran dengan pelanggannya yang datang setelah di antar ke kamar Talita.


"Ada apa? apa kamu mau komplain?"


"Tidak, kedatanganku ingin bernegosiasi denganmu"


"Wow.. ada apa gerangan" sergah Madam Ira.


"Aku ingin mengeluarkan berlian yang ada di club ini"


"Berlian? maksudnya?"


Mas Adi tersenyum.


"Aku ingin mengeluarkan Talita dari tempat ini"


"Wuaha...haha... haha" Madam Ira tertawa.


"Emangnya berapa? apa kau sanggup membayarnya? sudah 3 orang yang ingin mengeluarkannya, tapi.. semuanya mundur setelah mendengar harganya" ucap Madam Ira dengan sinis.


"Apa 5 M cukup? Ataukah masih kurang" tanya Mas Adi.


Mas Adi orang terkaya di kotanya Makasar, sehingga baginya 5 M tidaklah besar.


"Ap... a.. a 5 M?"


"Cu.. cu.. kup kok, ba.. ik.. baik.. baiklah. Aku akan menyuruh Talita membereskan pakaiannya"


"Tak perlu, sepertinya sudah di lakukan"


Mas Adi menelpon asistennya setno.


"Setno, bawa yang aku minta kemarin. Aku tunggu di atas sekarang!"


Madam Ira sangat bahagia, sebentar lagi dia akan mendapat uang yang banyak.


Tak mengapa kehilangan Talita, asal tak membuang kesempatan untuk memiliki uang 5 Milyard.


Setno pun masuk ke ruangan Madam Ira. Dan memberikan cek yang sebesar 5 Milyard.


"Ini terimalah, besok aku akan menjemput Talita. Ingat hari ini tak boleh ada yang memakai Talita. Paham!"


"Tenang saja, jangan khawatir. Talita sudah menjadi milikmu"


Mas Adi langsung meninggalkan ruangan Madam Ira.


Dia pun segera kembali ke rumahnya tanpa ada basa-basi kepada Talita.


Madam Ira segera mendatangi Talita.


Tok! tok! tok!


Talita membukakan pintu kamarnya, dia heran tak melihat Mas Adi.


Hatinya menjadi pilu lagi, sepertinya keinginannya untuk pergi dari club ini pupus sudah.


"Persiapkan dirimu, besok kamu harus sudah meninggalkan tempat ini. Kamu akan di jemput anak buahnya Mas Adi"


Seketika wajah Talita bahagia.


"Benarkah,"


"Ya, apa kamu tak percaya perkataanku?!" bentak Madam Ira.


"Iy.. a. Percaya Madam, baiklah. Terima kasih madam"


"hmm.. aku pergi dulu"


Talita menganggukkan kepalanya. Dia hampir saja teriak sambil berjingkrak-jingkrak.


Talita langsung sujud syukur.


"Trima kasih Ya Rabby, aku terbebas dari tempat ini" ucap Talita sambil sujud syukur.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2