
"Mana berkasnya, sudah selesai belum"
"Sudah Pak, ini berkasnya nih"
"Ini itu masih salah,"
Eci memanyunkan bibirnya "ya ampun,aku itu udah bolak balik memeriksanya tapi tak ada yang salah" batin Eci di dalam hatinya.
"Yang mana Pak" gerutu Eci
Eci lalu menghampiri Setno.
"Ya mana sih, kayaknya kontraknya seperti itu di filenya"
Setno menghirup aroma jasmine dari parfum Eci.
Ketika Eci mendekat, Setno langsung melingkarkan tangannya di balik pinggang Eci.
"Tak ada yang salah, hatiku yang salah. mungkin aku tak bisa melihat kamu dekat dengan orang lain"
"Wuaaaaakhuhuuuu" Eci langsung menangis.
"Ecii... kenapa?" Setno kaget ketika Eci malah menangis akhirnya melepas pelukannya.
"Ada apa," Setno bertanya heran.
"Bapak, jahat banget, hiks. aku sudah capek bolak balik bikin berkasnya ternyata hanya modus doang, huhuhuuuu"
Tingkah Eci yang polos membuat Setno malah mencubit hidungnya.
"Kamu ini, baru di prank seperti itu udah menangis, kamu mau tidak menikah denganku"
"Wuaaaaaa,hiikks"
Bukannya diam malah Eci menangis lebih kencang lagi.
"Heiii, sayang, orang-orang nanti mengira kita lagi berbuat mesum nih"
"Bapak sih, mau ngelamar kok pakai acara di kantor, mana bikin prank lagi"
"Aku ingin yang beda dong dari orang-orang, jika kamu menjawab iya, malam ini kita akan dinner bareng. gimana?" tanya Setno memastikan kesungguhan Eci.
Sosok Eci yang polos dan lugu membuat Setno ingin segera mempersuntingnya.
Dia tak ingin berpacaran, baginya lebih baik langsung menikah saja. Apalagi Eci dan dirinya sudah lama saling mengenal.
"hiks, maksa banget"
"Ya sudah, ini malam persiapankan dirimu, kita dinner bareng. Nih, nomor handphone yang baru. Nomor yang lama buang saja"
Setno mengambil berkas dan menandatanganinya.
"Sudah, jangan nangis lagi, ntar tambah jelek lagi mukanya"
"Emang jeleknya Bapak, kalo cantik mana mungkin Bapak ke semsem sama saya dari awal jumpa, buktinya nunggu yang lain datang mendekat baru berani, hehehe"
"Ih, gemesss," Setno pun mencubit kedua pipinya Eci.
"Ayo, siapkan dirimu, kita pulang bareng"
"Asek, dapat tumpangan gratis"
Setno pun malah melongo mendengar ucapan Eci, ya ampun, Eci ya bener-bener wanita lugu dan polos.
Namun sikapnya yang polos dan penurut membuat Setno jatuh hati.
Ketika Setno keluar dari gedung kantornya. Handphonenya berdering.
Dreett..
"Iya Hallo,"
__ADS_1
"Baiklah, terus awasi, jangan gegabah, aku akan segera ke lantai bawah"
Orang itu menutup telponnya, Setno pun berusaha mengejar Tuan Adi ke arah gerbang.
Eci yang melihat bosnya berlari malah bingung sendiri.
"Loh, bukannya tadi katanya mau jalan bersama" gumam Eci.
"Ayooo.. cepat, kenapa lift ini lama sekali"
Setno berusaha menelpon Tuan Adi, namun hanya operator yang menjawabnya.
Dia pun menelpon Endi, tersambung namun tak di angkatnya.
"Astagfirullah,"
"Endi, angkatlah handphonemu pleasa" gumam Setno sambil mencoba menghubunginya lagi.
"Ahh iya Satpam"
Dreeettt....
"Hallo pak, tolong halangi Tuan Adi keluar dari gerbang, jangan lupa siapkan alat pemadam"
"Baik Pak Setno"
Ting!
Pintu lift terbuka, Setno berlari kencang menuju mobil yang hampir melewati gerbang perusahaan.
"Tuan.... Tuan, Tuan Adiiii tungguuuu" teriak Setno.
Dia pun berusaha menepuk kedua tangannya agar mereka melihatnya dan memperhatikannya.
Satpam pun menutup gerbangnya, agar mobil yang di kemudikan Endi tak sampai pergi dari perusahaan.
Talita yang melihat Setno berlari berusaha mengatakan kepada suaminya.
"Sayang, kok Setno berlari seperti itu" ujar Talita sambil melihat Setno yang berlari ke arah mereka.
Kaca mobilpun di turunkan, dan Setno menghampiri mereka.
Hah..hah..
Deru nafas Setno akibat berlari berderu cepat.
"Tenangkan diri dulu" ujar Tuan Adi.
"Ada apa?"
"Sepertinya ,,, Tuan.. Tuan harus keluar dari mobil itu" usap Setno dangan terbata-bata sambil ngos-ngosan.
"Cepat Tuan, Nyonya, Endi keluar dari mobil, kita sudah tak ada waktu"
Setno pun menggendong Tuan Adi, Talita dan Endi bergegas keluar dari mobil.
Tak lama terdengar.
Buuummmm!!!
Duaarrrr!!!!
ledakan dari arah mobil dan membuat percikan Api, secepatnya Satpam mengambil APAR atau Hydrant dan menyemprotkan ke mobil Tuan Adi secepatnya agar tak menimbulkan kebakaran yang parah.
"Astagfirullah," jerit Talita dan Eci bersamaan.
Beruntung mereka keluar dari mobil tepat waktu.
"Tuan, sepertinya kecelakaan ini masih berhubungan dengan kecelakaan bos yang dulu"
"Apa maksudmu"
__ADS_1
Setno pun membisikkan sesuatu.
"Kamu sudah melacaknya"
"Anak buahku lagi berusaha Tuan"
"Wanita itu memang liar, segera secepatnya kamu temukan, lapor polisi dan ceritakan saja sesuai yang terjadi di sini"
"Kami masih mengumpulkan bukti yang cukup Tuan, Polisi juga sedang menuju ke sini"
"Baiklah, mana kunci mobilmu, biar Endi mengantarkan aku sekarang dan istriku, kamu urus bersama polisi saja"
"Kasian istriku ini, pasti sangat ketakutan tadi, kita ke Rumah Sakit dulu, kita periksakan kandunganmu ya sayang"
"Aku baik-baik saja mas, mas tak perlu khawatir, lebih baik kita pulang saja"
"Endi, ini bawa mobilnya. Kamu baik-baik saja kan" tanya Tuan Adi.
"Aku baik-baik saja Tuan"
"Syukurlah, kita pulang sekarang, bantu aku naik ke mobil Endi"
Ketika Tuan Adi sudah di atas mobil, para Petugas kepolisian juga sudah datang.
"Sore Pak," Polisi memberi hormat.
"Untuk sementara kami akan pasang police line di sini" ucap petugas Polisi.
"Iya, untuk pertanyaan bisa berhubungan dengan Wakil saya, dia yang tau segalanya"
"Baiklah Pak, jika memang kami memerlukan informasi, kami akan memanggil Bapak"
"Iya silahkan, bapak bisa meminta nomor handphone saya pada wakil saya"
"Baik Pak"
Endi pun bergegas meninggalkan kerumunan dengan perlahan-lahan.
Berita tentang Tuan Adi tersebar kemana-mana,bahkan sudah sampai ke telinga Ambar.
"Breeenggsssekkk, kamu bisa lolos lagi"
"Sepertinya aku sendiri yang harus melakukannya" geram Ambar.
"Aku tak akan berhenti, sampai kau habiissss" teriak Ambar di ruang bawah tanah miliknya.
Tak ada yang tau dirinya bersembunyi di ruang bawah tanah ini, baginya tempat paling nyaman hanya ada di sini.
Petugas polisi pun segera mengambil bukti-bukti yang akurat serta mengevakuasi mobil yang sudah hampir terbakar seluruhnya.
Setno pun memberi keterangan sesuai yang dia alami, tak lupa petugas polisi meminta nomor handphone miliknya dan Tuan Adi.
Setno pun memberikannya, setelah petugas polisi pergi, Setno menghampiri Eci.
"Ayo kita pulang sama-sama"
"Naik apa pak, bapak kan sudah memberikan mobil bapak kepada Tuan Adi"
"Kita naik motor, tuh ada motor kantor, biasanya dulu sebelum ada mobil, aku memakai motor itu"
"Yah, lumayan sih, bolehlah pak, hehehe biar romantis" ledek Eci sambil tertawa.
"Hmmm.. " gumam Setno.
Dia pun mengambil motor yang ada di garasi kantor yang tak jauh dari parkiran.
Setelah itu Eci berboncengan.
"Jangan lupa peluk, aku sudah lama tak membawa motor"
"Huhhh, bilang aja modus pak," jawab Eci sambil melingkarkan tangannya di pinggang Setno.
__ADS_1
Akhirnya Setno meninggalkan kantor yang masih ada sisa-sisa kejadian barusan. Biarlah OB yang akan membersihkannya.
TBC...