Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 39


__ADS_3

Pov. Talita


Hari ini tepatnya empat bulan aku meninggalkan suamiku merantau di tempat yang tak pernah aku tapaki.


Ya.. Aku memilih sulawesi tepatnya di Gorontalo tempat aku merantau.


Sebulan aku berpisah,ternyata aku sedang mengandung benih suamiku.


Hari ini aku bisa beraktifitas seperti biasa, tidak seperti sebelumnya yang hanya bisa muntah dan berdiam diri di kamar.


Aku di adopsi oleh nenek yang baik, nenek itu yang menemukanku pada saat tak sadarkan diri.


Nenek Saroh berjualan nasi kuning di dekat bandara.


Rumah Nenek Saroh tidak begitu jauh dari bandara, sehingga masih bisa berjualan di sekitar bandara.


Awal mula banyak yang menolak aku tinggal di rumahnya Nenek Saroh.


Aku ingat kala itu.


Flashback On


"Usir, usir orang itu. torang tidak mau kalo ada orang tidak jelas tinggal pa torang pe kampung"


(Usir, usir orang itu. kami tidak mau kalau ada yang tinggal tidak jelas di kampungnya kita)


Aku sebenarnya kurang paham apa kata mereka, tapi melihat Nenek Saroh menangis aku paham kalau orang-orang itu ingin mengusirku. Aku pun hanya bisa menangis tersedu-sedu.


"Jangan ba gitu Janu, kasian dia tidak ada keluarga di sini"( jangan begity Janu, Kasihan Dia tidak punya keluarga di sini)


"Eh, pingkan bilang dia itu orang tidak bae. Dia itu tinggal di tampa rumah bordir"(Eh, pingkan bilang orangnya itu tidak baik. Dia tinggal di tempat prostitusi)


"Jangan asal ba huabu Janu, mana depe bukti" (Jangan asal ngomong kamu Janu, mana buktinya) ucap Nenek Saroh lantang.


"Ini depe foto,kalo tidak parcaya" (ini fotonya kalau tidak percaya) imbuh Bapak Janu.


Nenek Saroh mengambil foto, aku juga heran kok ada fotoku sedangkan aku sudah menjauh dari kota tempatku bekerja dulu.


Nenek Saroh menutup mulutnya, dia tak menyangka ada fotoku yang sedang duduk di Club Cinta.


Aku pun segera melihatnya, sekarang aku paham ketika Bapak itu menyebut nama Pingkan.

__ADS_1


Seketika aku melihat, sosok yang aku kenal ketika di Club Cinta.


"Kok bisa ada Pingkan di sini" batinku di dalam hati.


Aku pun maju selangkah dan mulai menjelaskan pada semuanya.


"Bapak-bapak dan Ibu-ibu, aku mohon kalian sabar. Aku ingin menjelaskan semuanya. Aku dulu memang bekerja di Club yang sama dengan Pingkan tapi sudah lama sekitar 6 bulan yang lalu, dan aku telah di keluarkan dari club itu oleh seseorang dia membayar kepada Mami uang 5 Milyar"


Ketika aku menjelaskan semuanya malah langsung melihat Pingkan. Pingkan menjadi salah tingkah. Aku paham pasti Pingkan tidak pernah memberitahu dia bekerja di club seperti itu.


"Setelah aku dikeluarkan dari club itu. Aku di ajak menikah oleh seseorang itu. Tapi baru 3 hari aku menikah, aku memilih meninggalkan suamiku karena ada sesuatu yang tak bisa aku beberkan tentang masalah aib rumah tanggaku,aku ingin kalian paham. Aku tak menyangka bahwa aku ternyata telah mengandung benih suamiku." lanjutku sambil mengusap air mataku ketika mengingat rumah tanggaku yang tak mulus.


"Aku punya bukti aku telah menikah, aku akan mengambil buku nikahku dan lihatlah kapan waktu aku menikah dan sekarang aku hamil 1 bulan benih dari suamiku"


"Kalo bagitu kiapa ngana tidak pulang jo pa ngana pe suami"( kalau begitu kenapa kamu tak balik sama suamimu) ujar Ibu yang berbaju hijau.


"Aku tak bisa bu, jika aku balik sama saja aku mau bunuh diri. Aku mohon ijinkan saya tinggal di sini. Sabar, aku ambil buku nikahku dulu"


Aku mendengar mereka sedang membicarakan situasiku tapi aku tak begitu jelas mereka mengatakan apa, maklum aku belum terlalu paham bahasa di sini.


Aku pun langsung masuk ke dalam rumah Nenek Saroh. Aku melihat Nenek Saroh memberi aku semangat dengan menepuk bahuku untuk menguatkanku.


Aku langsung menyerahkan kepada Bapak Janu yang dari tadi berteriak mengusirku.


"Ini Pak, bisa Bapak lihat aku telah menikah"


Bapak Janu pun membuka buku nikah dan melihat bahwa aku memang sudah menikah.


Aku pun melihat Bapak Janu pun malah memarahi Pingkan.


Huuu...


Semua orang malah berteriak kepada Pingkan. Aku pun lega setelah mereka tidak mengusirku malah memandang remeh Pingkan.


"Makanya ngana Janu, kalo ada apa-apa jangan kasusu. ini malah ngana pe anak yang so dapa tau kalo dia karja di tampa yang bagitu"(Makanya kamu Janu, kalau ada apa-apa jangan langsung menuduh. Ini malah ketahuan kalau anakmu kerja di tempat seperti itu"


Aku lihat wajah Bapak Janu memerah sekaligus Pingkan. Aku tak ambil pusing, mungkin Pingkan ingin mempermalukanku malah langsung berbalik kepada mereka.


"Ayo nak, torang maso jo. biar dorang pe urusan dengan Pingkan" (Ayo nak kita masuk ke dalam. biarkan urusan mereka dengan pingkan"


"Iya Nek"

__ADS_1


Nenek Saroh langsung menutup pintu. Dia bersyukur dan lega aku bukan seperti yang di tuduhkan.


Nenek Saroh memelukku, aku telah menceritakan tentang kelakuan suamiku dan itu membuat Nenek Saroh makin iba kepadaku.


"Tinggallah di sini nak, aku sudah menganggapmu sebagai cucuku" ujar Nenek Saroh sambil memelukku.


"Trima kasih Nek"


Flasback Off.


Sejak kejadian itu mereka telah menerimaku, aku pun bersyukur di tengah aku hamil anak pertama ada yang sayang kepadaku dan perhatian selayaknya Nenek Kandungku.


"Makanlah Nak, ini Nenek sudah sisakan nasi kuning untukmu"


"Trima kasih Nek, Nenek yang terbaik" ucapku sambil mencium pipi Nenek Saroh.


Aku langsung menyantap nasi kuning buatan Nenek Saroh. Nasinya terasa nikmat. Aku berniat akan pergi ke bank besok untuk mencairkan cek yang pernah di beri Kakek Arya,Tuan Fadly dan mahar nikahku yang di beri suamiku.


Aku berencana membelikan ruko dan membuat usaha Nenek Saroh rumah makan dan aku berniat menjadi karyawannya.


Aku masih menyembunyikan niatku ini. Aku takut kalau Nenek Saroh menolaknya. dan Malah menyuruhku tinggal sendiri.


Bagiku Nenek Saroh sudah terlalu tua jalan kaki dari rumahnya ke bandara. Untuk itu aku lebih memilih membeli ruko yang dekat dengan bandara.


Aku sudah mengetahui harga rukonya hanya sekitar 900 juta. Berarti aku bisa mengambil maharku yang 1 Milyar dari 5 Milyar yang di beri suamiku.


Aku berniat sisanya untuk modal Nenek Saroh dan untuk kebutuhanku selanjutnya.


"Nek, besok aku izin keluar sebentar ya" pamitku pada Nenek Saroh.


"Mau kemana Nak," tanya Nenek Saroh.


"Aku ingin ke bank dulu nek, aku ingin mencairkan uang pemberian suamiku" jawabku.


"Iya Nak, tapi hati-hati ya?"


"Iya Nek, In Syaa Allah aku aman"


Aku pun langsung membuang sisa bungkusan nasi kuning yang aku makan. Setelah itu kami berdua sholat Maghrib berjamaah.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2