
"Berikan aku waktu 15 menit lagi" ucapku sambil menatapnya.
"Baiklah, kamu pasti tau ruangan ayahku kan? Langsung saja ke tempatku"
Pingkan pun melangkah ingin meninggalkan kami, namun aku menahan tangannya.
"Katakan, apa alasanmu ingin menjadi istri ke dua, sedangkan kau bisa mendapatkan suami yang lebih baik dari suamiku"
"Aku hanya ingin, apa yang kau miliki menjadi milikku juga"
Aku terhenyak, apa ada dendam antara aku dan Pingkan.
"Seberapa bencinya dirimu kepadaku Pingkan, padahal aku tau, di lubuk hatimu itu sangat tau apa yang aku rasakan saat ini" Ucap Talita menguatkan hatinya agar tidak menangis.
"Kaulah yang menghancurkan hidupku, dari awal masuk club kau selalu mendapat pelanggan high class, padahal jelas, aku yang duluan dari pada dirimu, sekarang pun kehidupanmu lebih layak dari pada kehidupanku, kau tau Talita, aku hanya ingin merasakan apa yang kau punya"
"Pingkan, ketahuilah, jika kamu ada di posisiku sekarang pasti kau tak akan sanggup, dari kecil aku telah di tinggalkan ayahku, di renggut mahkotaku oleh ayah tiriku,Ibuku meninggal, hingga di jual, mendapat suami yang masih ada penyakitnya, di tinggalkan orang yang menolong kota, sekarang suamiku bertarung nyawa, padahal aku pun sangat iri kepadamu, sampai sekarang kamu masih punya orang tua kandung walau hanya ayahmu saja"
Pingkan membelalak matanya, ternyata Talita yang dia kenal punya masa lalu yang begitu kelam hingga sekarangpun masih di beri cobaan begitu dahsyat.
Namun hati kecil Pingkan telah tertutup egonya.
"Sudahlah, aku ingin pergi dulu, jika kau setuju segeralah ke ruangan ayahku, dan bawa surat perjanjian agar kita bisa berdamai dengan keadaan"
Air mataku langsung luruh juga.
Sakit.
Tapi aku sanggup jika harus di madu?
Setelah sosok Pingkan tak terlihat lagi, aku pun menanyakan kepada Setno.
Tut.... tut.... tut...
Namun Setno tak mengangkat handphonenya.
"Eci, tolong hubungi Setno, tanyakan apa sudah ada pendonornya"
Eci pun berusaha menelpon Setno, namun tak ada jawaban juga.
"His, kemana orang ini"
"Bagaimana, tersambung" tanyaku lagi.
Eci menggeleng, aku langsung pasrah.
"Ya sudah, kalau memang aku harus di poligami aku pun siap" bathinku tertahan namun sebetulnya aku tak sanggup di madu.
"Nyonya, sebaiknya urungkan niat nyonya untuk menikahkan Tuan dengan perempuan tadi" Eci pun memegang tanganku.
"Eci, sebentulnya aku juga tak mau, namun.... " Kerongkoranganku terasa perih, aku tak sanggup meneruskan kata-kataku.
"Aku yakin nyonya, Setno pasti mendapat pendonor untuk suami nyonya"
Ah....
Aku tau Eci hanya ingin membujukku dan menyenangkan aku.
Aku tersenyum kecut.
"Sampai saat ini, Setno saja belum terlihat batang hidungnya" Aku menatap Eci lirih, seakan aku sudah tak sanggup untuk menatapnya.
__ADS_1
"Sabar nyonya! Mungkin Setno lagi memantau atau sedang mengambil darah pendonor untuk tuan"
Dokter Adam menghampiri kami berdua.
"Bagaimana Talita, apa sudah ada yang mendonorkan darah untuk Suamimu"
Aku menggeleng.
Sudah lewat 10 menit.
"Baiklah, temani dulu suamimu di dalam"
"Trima kasih Dokter. Eci, antar aku ke tempat Suamiku"
"Baik, nyonya"
Kursi rodaku di dorong Eci memasuki ruang yang bersebelahan dengan Ruangan bedah.
Aku bertambah sedih, banyak alat yang terpasang di tubuh suamiku
Hiks...
Hu... hu.. hu...
Aku menangis dan meraung, aku sudah kalah, aku kalah dengan keadaan.
"Sabar, Nyonya"
Eci menepuk punggungku.
"Eci, tolong tinggalkan kami berdua"
"Baik! Nyonya?"
Perlahan-lahan aku berdiri mendekati suamiku yang terbaring lemah.
"Sayang, maafkan aku"
"Aku berat melepaskanmu, aku sedang bingung, antara mau menyelamatkanmu atau aku siap di madu"
"Aku telah menguatkan diriku agar aku ikhlas dengan kepergianmu, namun hati kecilku menolak"
"Sayang, jika nantinya aku mau menyetujui agar diriku mau di madu, tolong! jangan benci aku nantinya"
"Aku hanya ingin mengatakan aku sangat mencintai dirimu, dan akhirnya aku memilih di madu karena aku sangat mencintai dirimu"
"Aku belum siap kehilangan dirimu"
Talita pun mengec*up seluruh wajah Tuan Adi,
Dan akhirnya Talita melabuhkan se*sapan bahkan melu*mat lebih dalam bibir Tuan Adi. Sambil berderai air mata.
Entah itu di rasakan Tuan Adi atau tidak namun Talita hanya ingin meluapkan perasaannya.
Aku langsung menelpon Eci agar membawaku ke tempat Pingkan di Ranap Kasuari tempat Pak Jamal di rawat.
"Eci, masuklah" ujarku setelah sambungannya terhubung.
Setelah itu Eci masuk dan aku mengarahkannya ke ruangan Ranap Kasuari.
Deg... deg..
__ADS_1
Semakin terlihat ruangan tempat Pak Jamal, semakin keras deguban jantungku.
Pingkan melihatku masuk, senyumnya berkembang di bibirnya.
Aku tak sanggup menatap orang yang akan menjadi maduku.
Namun aku menguatkan hatiku.
Tuhan, ujianku apa belum usai???
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam" balas Pak Jamal.
"Bagaimana kondisi bapak sekarang" tanyaku dengan Pak Jamal hanya sekedar basa basi.
"Sudah agak lebih baik nak"
Aku tersenyum.
Aku menatap Pingkan yang wajahnya berseri.
"Pingkan, aku ingin bicara, namun bukan di sini"
"Di sini saja Talita, aku sudah menceritakan kepada ayahku, dan ayahku mendukungku"
Deg..
Manusia seperti apa mereka berdua ini?
Bathinku bergejolak, ingin rasanya melampiaskan kepada mereka berdua.
Aku tak menyangka, orang seperti Pak Jamal yang terlihat baik malah tak ada rasa empaty sama sekali.
"Iya nak, jangan anggap Pingkan madumu, namun anggaplah dia saudaramu yang akan membantumu merawat suamimu dan anakmu nanti"
Kata apa ini, pantaskah aku menyerahkan seluruh tanggung jawabku kepada maduku nanti???
Membantu dan merawat itu adalah tanggung jawab seorang istri bukan madunya.
"Maaf pak, bapak adalah sosok laki-laki, mungkin tak akan paham dengan hati wanita yang akan di madu"
"Toh, Pingkan bukan mau menjadi istri satu-satunya oleh suamimu, dia hanya ingin menjadi istri kedua, aku akan pergi dengan tenang jika anakku sudah di tangan yang tepat"
"Bagaimana Pak Jamal tau jika suamiku orang yang tepat untuk Pingkan, sedangkan Pak Jamal baru bertemu suamiku satu kali, saya pun tak bisa menjamin jika suamiku nanti setelah sadar mau menikahi Pingkan"
"Aku tau suamimu orang baik, dia pasti tidak akan membiarkan anakku terlantar"
"Kalau hanya terlantar, saya bisa memberikan uang yang lebih untuk Pingkan, bahkan saya akan menjamin Pingkan seumur hidupnya tanpa dia bekerja"
"Heh!! Talita.Jangan pengaruhi bapakku, jika kamu tak rela menjadi istri satu-satunya suamimu, lebih baik kau tinggalkan kami saja" geram Pingkan dengan mendorong kursiku.
"Aku kira kamu kesini langsung setuju, sudah sana!! aku sudah tak rela mendonorkan darahku kepada suamimu" Pingkan memalingkan wajahnya.
Aku melirik jam tangan, tinggal 5 menit lagi waktu untuk melakukan transfusi darah.
"Baiklah, aku ingin kamu menjadi istri kedua suamiku"
"Nah, begitu dong, dari tadi kek" ucap Pingkan dengan senyum sumringah.
Aku tersenyum kecut.
__ADS_1
TBC....