Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Tertekan


__ADS_3

Perih, itu yang di rasakan Talita di bagian intinya.


Entah berapa kali Om bayu menggauli Talita, sehingga Talita kesakitan.


Di saat Talita ingin beristirahat, Tante Ira datang lagi di kamar Talita.


Tok! tok! tok!


Talita segera bangun dan membukakan pintu.


"Bagaimana enak?"


Talita hanya menggeleng, ya sebenernya pada saat di goyang memang enak, tapi karena sudah berulamg kali dan tak ada jeda. Maka hanya keperihan yang terasa.


"Sana, layani tamu di kamar no. 5 sekarang"


"Tante Aku lagi kecapean"


Tante Ira segera menarik rambut Talita.


"Awww... sakittt Madam" rintih Talita.


Tante Ira bukannya kasian tapi tetap di tariknya rambutnya sehingga Talita keluar dari kamarnya.


"Sakit ma dam, saaakiitt"


Tante Ira tetap menarik rambutnya Talita tanpa memperdulikan rintihan Talita.


"Kamu mau ke sana atau saya antar!"


"Ba ba baik Madam, le le pas dulu tangannya madam"


Tante Ira melepaskan tangannya dari rambut Talita.


"Makanya kalau di suruh itu jangan membantah, paham!!"


"Ba baik madam"


Madam Ira segera membawa Atika ke bilik no. 5, di sana telah ada pelanggan yang mau menyewakan Talita.


Talita pun segera di dorong masuk ke dalam kamar itu.


Jiwa Talita tertekan dengan perlakuan Madam Ira, padahal Madam Ira sudah menyuruhnya bagai pembantu dan setelah selesai Talita harus melayani para pelanggan.


Terkadang sehari Talita harus melayani enam sampai 8 orang.


Seperti saat ini Talita sudah melayani tamu yang ke 8.


"Ahhh... terus sayang.. terus"


Pelanggan tak perduli jika Talita sudah tak mampu, tetap saja di suruh melayani mereka.


Sampai terdengar...


Ughhh...


Barulah Talita akan lega.


Lambat laun, Talita sudah terbiasa dengan perlakuan pelanggan.


Ada yang memperlakukan Talita dengan baik, ada juga meperlakukan Talita dengan kasar.


Talita telah terbiasa dengan keadaan seperti itu.


Akhirnya Talita pasrah, dia pun belajar bagaimana agar pelanggan cukup puas dengan pelayanannya, sehingga setiap hari pasti hampir 10 tamu meminta Talita untuk di layani.


Ada yang hanya menemani minum, ada yang karaoke, ada yang hanya minta pijit dan jika ingin lebih Talita akan meminta bayaranny Lebih.

__ADS_1


Satu tahun tak terasa Talita melewati semuanya.


Talita telah berusia 15 tahun, masih muda untuk seumurannya dalam menjalani profesinya sekarang ini.


Talita mulai menata kehidupannya, walau bagi orang lain pekerjaan Talita kotor, tapi bagi Talita inilah kehidupannya yang harus di jalaninya.


Talita menjadi primadona di club cinta.


Madam Ira mulai memperlakukannya dengan baik.


"Madam, seperti biasa carilah harga yang mahal untuk malam ini" ucap Talita dengan menyeruput rokok di tangannya.


Sudah 6 bulan ini Talita merokok dan mulai belajar minum-minuman yang memabukkan, dia merokok untuk menghilangkan stressnya.


Walaupun sebenarnya stressnya tak bisa hilang.


"Kamu tenang saja, sudah ada tamu yang bersedia membayarmu mahal"


"Oke baiklah madam, pokoknya servisnya full"


"Nah, begitu dong. Pasti tamu akan sering-sering ke sini jika pelayananmu sangat bagus begini"


"Iya-iya, yang penting bagianku pasti ada kan madam"


"Oh, jelas itu, ayo! Persiapkan dirimu secantik mungkin"


"Emang aku kurang cantik ya madam?"


"Cantik tapi belum perfect"


"Oke-oke, aku pergi dulu untuk siap-siap menunggu tamu spesial yang datang"


"sipp, ini baru anakku" ucap Madam Ira sambil mengangkat kedua jempolnya.


Talita bergegas ke kamarnya yang sudah di tempatinya lebih dari 6 bulan ini.


Talita selesai dalam waktu satu jam.


Dia melakulan lulur, mandi susu bahkan melakukan gurah virgin untuk membuat pelanggan puas.


Na...na.. na.. na..


Talita berdendang sambil menggunakan handuk yang masih melilit di tubuhnya.


Tok! tok! tok!


Talita membukakan pintu.


Talita kaget ternyata yang mengetuk pintu teman di clubnya.


Siapa lagi kalau bukan musuh bebuyutannya.


"Wow, sang primadona telah bersiap-siap ya"


"Bukan urusanmu"


Karin mendorong Talita, beruntung Talita memegang daun pintu hingga dia tidak sampai terjatuh.


Talita pun membalas mendorong Karin.


Karin terjerembab ke belakang, hingga dia membentur dinding.


"Aww.. sakit" jerit Karin.


Tubuhnya membentur dinding dan punggungnya terasa sakit.


"Makanya jangan cari masalah denganku, aku sudah cukup diam, asal kamu tau, pekerjaan ini membuatku muak, lalu apa yang memuatmu iri" terian Talita.

__ADS_1


"Jika aku ingin di suruh memilih, lebih baik aku menjadi babu dari pada pekerjaan ini, kau dengar!?" teriak Talita.


"Cukup, jangan ganggu aku lagi, aku mohon" ucap Talita lagi sembil menangkupkan tanganny di depan dadanya.


Prakk..


Talita menutup pintunya dengan kencang, dia membiarkan Karin tergolek sakit di depan kamarnya.


Ingin rasanya Talita membantu Karin tapi karena sakit hatinya, akhirnya dia mengabaikan keadaan Karin.


"Oh, Tuhan. Pekerjaan hina pun masih ada yang iri, aku tak ingin bekerja seperti ini Tuhan" derai air mata Talita membasahi kedua pipinya.


Talita pun segera menghapus air matanya. Menangis tak ada gunanya, hanya akan membuang energinya lagi.


Dia sudah capek melayani tamu dan sekarang teman se profesinya begitu membencinya.


Apa tak ada persahabatan di tempat seperti ini??


Tak ada yang mau berteman dengannya.


Talita sudah memakluminya.


Biarlah dia menjalani harinya dengan apa adanya.


Talita pun segera mengganti bajunya dengan baju yang seksi seperti biasanya.


Di polesnya make up di wajah dengan make up natural.


Talita hanya ingin terlihat natural, bukan dengan make up tebal.


"Perfect" ucap Talita setelah selesai berhias.


Dia pun mengambil handponenya dan dia memotret dirinya sendiri, sambil menunggu pelanggannya datang.


Madam Ira mengatakan tamunya akan datang 2 jam lagi, artinya dia tinggal menunggu 30 menit lagi tamu itu akan datang.


"Aku makan roti dulu deh, biar ada tenaga sedikit" gumam Talita sambil mengambil sebungkus roti yang ada di laci kamarnya.


Talita sudah terbiasa tidak makan malam, dia hanya mengganjal perutnya dengan sebungkus roti yang sudah di stok di kamarnya.


Sehingga tubuh Talita kelihatan ideal untuk seumurannya.


Tok! tok! tok!


"Hmmm... sepertinya tamu itu sudah datang" ucap Talita sambil menuju ke arah pintu kamarnya.


Kreekk


"Tuan..."


Talita terperangah dengan sosok yang ada di depan pintunya.


Sosok yang sangat di kenalnya bahkan sudah di anggapnya sebagai pengganti ayahnya.


Talita memundurkan badannya, dia tak ingin melayani sosok yang ada di depannya.


"Kamu mengenalnya Talita"


Talita hanya mengangguk dan tak ingin menyebut namanya.


"Kalau begitu syukurlah, kalian aku tinggal dahulu, aku lagi banyak pekerjaan yang ingin ku kerjakan"


"Bersenang-senanglah" ucap Madam Ira sambil meninggalkan mereka berdua di depan pintu.


"Apa kau hanya akan membiarkan aku di depan pintu?"


"Tuan, masuklah dahulu, kita berbicang di dalam"

__ADS_1


TBC...


__ADS_2