
Tin! tiiiin!
Saat ini Setno membunyikan klakson agar Eci segera keluar dari kos-kosannya.
Eci pun menghampiri Setno.
Setno yang melihat penampilan Eci yang modis membuat Setno tersenyum bahagia. Biasanya di kantor Eci menggunakan Celana dan kemeja, saat ini Eci menggunakan Rok dan blus yang agak sedikit besar namun terlihat cantik di pakai Eci.
"Kamu sudah siap"
"Siap Abang"
Eci pun bergegas menaiki motor dan melingkarkan tangannya di perut Setno. Setelah itu Setno menjalankan motornya.
Di tengah perjalanan ternyata ada segerombolan yang menghadang motornya Setno.
"Abang, hati-hati" peringati Eci.
"Kamu jangann khawatir, lihatlah setelah ini"
Ternyata anak buah Setno datang tepat waktu, Setno tersenyum sinis.
"Kalian hadapi yang setara dengan kalian, dasar! mengganggu dinnerku"
Akhirnya, dengan santainya Setno meninggalkan anak buahnya yang sedang menghadapi para gerombolan suruhan mbak Ambar.
"Tenang saja sayang, kita sebentar lagi sampai" Setno tangan kirinya memegang tangan kanan Eci yang melingkar di perutnya
"Itu gengnya siapa" sambil melihat kebelakang.
Setno hanya diam, dia ingin segera sampai di tempat dinner mereka.
Setelah sampai, Setno pun mengajak Eci di privat room yang sudah di pesannya.
Eci ketika masuk terperangah, matanya di kedipkan beberapa kali.
"Bagaimana kamu suka" tanya Setno sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Eci.
"Suka, bang"
"Ya udah, kita masuk yuk" Setno masih dengan posesifnya menggandeng Eci.
Eci pun mendudukkan bokongnya di kursi yang sudah di sediakan Setno.
Ada Lilin aromatherapy dan wangi bunga mawar memenuhi ruangan, menambah keromantisan mereka.
"Abang, belajar romantis dari mana" heran Eci, biasanya bosnya hanya berlaku dingin dan cuek ternyata bisa romantis juga.
"Sekrang itu mau apa-apa tidak susah lagi, rumah makan yang elit seperti ini sudah menyediakan fasilitas sesuai keinginan Pelanggannya"
"Owh, iya ya" ucap Eci dengan polosnya.
Tak lama pelayan datang menyodorkan daftar menu. setelah itu mencatat apa saja yang mereka inginkan.
Dreett
Handphone Setno berbunyi. Setno hanya melihat panggilannya, ternyata dari anak buahnya.
__ADS_1
"Ya ada apa," sikap tegasnya hanya kepada anak buahnya.
"Sudah bisa di kendalikan bos, dan satu lagi alat pelacak memberikan satu bukti, ada seseorang yang dekat dengan Tuan menjadi musuh dalam. selimut"
"Siapa?"
"Endi, Bos, cctv menangkap mereka pernah bertemu di jalan Yos Sudarso dekat rumah sakit, sebelum insiden bom molotov"
"Baiklah, tetap pantau terus"
"Siap, bos"
"Aku sudah curiga, karena satpam mengatakan tak ada siapapun yang berkunjung ke perusahaan bahkan tak ada pergerakan di cctv perusahaan" gumam Setno.
"Aku harus lakukan sesuatu" batinnya lagi.
"Ada apa Bang"
"Ngak apa-apa, kamu juga sepertinya harus ada yang awasi deh"
"Emang siapa mereka bang" Eci penasaran dengan kejadian di perusahaan dan di tengah jalan tadi.
"Mantan istri Tuan Adi"
Eci pun hanya mengangguk, dia tak ingin tertarik mengetahui lebih jauh lagi, karena baginya biarlah Setno yang mengurusnya.
"Mau dansa"
"Bang, aku tak tau berdansa"
"Boleh, deh" Eci tersenyum.
Musik romantis sudah terdengar, Setno meraih tangan Eci.
Awal mulanya Eci sering menginjak kaki Setno.
"Aww" ringis Setno yang kakinya keinjak sepatu Eci
"Maaff, tak usah di teruskan ya, nanti kaki Abang malah sakit terus" Eci menjadi tak enak hati, wajahnya semakin merah menahan malu.
"Rileks sayang, ikuti alunan musiknya" Setno pun malah menarik pinggang Eci hingga tak ada jarak antara mereka.
"Menurutku berdansa dengan mu akan seperti kamus, itu akan menambahkan makna dalam hidupku." Setno membisikkan sesuatu kepada Eci.
Kata-kata Setno bagaikan angin syurga yang membuat seketika ruangan menjadi hangat, hatinya menghangat seketika, alunan musik yang syahdu menambah keromtisan mereka.
Eci tersipu malu, pipi yang semula putih menjadi merah seperti tomat yang lagi ranum-ranumnya.
Cup
Eci seolah jantungnya berhenti, mulutnya sedikit terbuka, ingin rasanya berteriak namun entah mengapa suaranya tertahan.
Musik yang mendayu, tanpa sadar Eci telah bisa berdansa dengan mesranya.
"Aku yakin kamu seperti kupu-kupu, cantik untuk dilihat tetapi sulit untuk ditangkap."
"Abang, Aku mencintaimu sepenuh hati, terima kasih, atas segala yang sudah kamu curahkan kepadaku. Dan terima kasih karena telah menyayangi dan mencintaiku" Eci membenamkan wajahnya di dada bidang Setno
__ADS_1
"Aku sangat bahagia bersamamu, Maukah kau menikah denganku, will you be my wife, honey"
"Yes, I do, Lamaran ini merupakan bukti dari keinginan kuatmu dalam menjadikan saya sebagai seorang istri. Terima kasih telah memantapkan hati untuk melamar saya. Atas restu dari Allah SWT., In Syaa Allah saya bersedia menerima lamaranmu”. jawab Eci dengan mata berkaca-kaca.
"Aku akan lebih yakin jika kamu akan melamarku di depan orang tuaku" lanjut Eci sambil mengeratkan pelukannya.
"Aku janji akan melamarmu di depan orang tuamu setelah acara Tuan Adi selesai" balas Setno yang juga mengeratkan dekapannya.
Eci menganggukan kepala, mereka tetap berdansa sambil mengikuti irama dansa yang romantis.
****
Saat ini Talita memijit-mijit kaki Tuan Adi, berkat dia belajar kepada Om Sardi cara memijat kaki sehingga tiap hari di terapkan oleh Talita.
Talita berharap agar suaminya bisa segera sembuh dan dapat beraktifitas seperti dulu lagi.
"Terasa mas" Talita menekan-nekan titik syaraf kaki Tuan Adi.
"Iya sayang, tapi jangan terlalu mengeluarkan tenagamu, saat ini kakiku walau di tekan sedikit sudah bisa terasa" jawab Tuan Adi sambil menggerakkan kakinya.
"Alhamdulillah, besok kita akan pergi terapi lagi kan" tanya Talita.
"Aku sama Endi saja ya, aku takut ada sesuatu terjadi nanti" Tuan Adi takut kejadian kemarin menimpa mereka.
"Tapi mas, aku ingin selalu menyaksikan kegigihan kamu untuk sembuh" Talita menjadi sedih dan dia kecewa jika tidak di ajak Tuan Adi lagi.
"Tapi sayang"
"Ya sudah, baiklah aku tak akan ikut, kalau kamu keberatan"
Karena melihat kekecewaan di wajah istrinya, akhirnya mau tidak mau dia mengizinkan istrinya mengikutinya esok hari.
"Mas, kita sholat isya dulu setelah itu kita makan sama-sama"
"Baiklah, jangan ngambek lagi ya" ucap Tuan Adi sambil menaik turunkan Alisnya.
Talita tertawa.
Hahaha.
"Iya sayangku, aku ngambek juga gara-gara kamu"
"Aku janji akan menuruti kemauanmu asal kamu bahagia"
"Terima kasih mas, kita telah meniti hari bersama, hari demi hari melewati banyak cerita suka maupun duka. Tetaplah di sisiku sayang agar aku kuat melangkah denganmu untuk mewujudkan semua mimpi kita selama ini."
"Dulu kamu telah membuatku jatuh cinta, dari awal pertemuan kita tapi kini setelah kamu menjadi suamiku aku jatuh cinta padamu setiap saat dan berkali-kali."
"Kadang aku bertanya mengapa kamu bisa mencintaiku sayang"
"Jawabannya sederhana saja. Karena aku menemukan diriku yang utuh setiap bersama kamu."
"Akupun begitu sayang, terima kasih untuk segala"
Talita dan Tuan Adi saling berpelukan menumpahkan rasa cinta antara keduanya.
TBC...
__ADS_1