
Ketika Setno dan Sony sampai di Laboratorium, terlihat Nyonya Talita sedang menangis dan Eci berdiri di samping Nyonya Talita.
"Nyonya, aku sudah mendapat pendonor untuk Tuan Adi" ujar Setno setelah berdiri di samping Nyonya Talita.
Talita mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang mau mendonorkan darahnya.
Talita memincingkan matanya dan Sony pun menatap Talita dengan wajah heran.
"Kak Sony." Talita terperangah.
"Hmmn,,, Aku sepertinya kenal tapi di mana ya."
Sony mengingat-ngingat siapa sosok yang ada di hadapannya.
"Aku ita kak, dulu karyawan toko bunga bersama kakak di bandung" jelas Talita.
"Oh, iya, sekarang kakak ingat" ujarnya seraya tersenyum, karena dulu dia pernah menaruh hati kepada Talita.
Semenjak anak buah Tante Ira memaksa Talita pergi dari toko bunga, Sony nampak bersedih.
"Kak Sony mau mendonorkan darah kepada suamiku?" tanya Talita.
"Oh, jadi Tuan Adi adalah suamimu?" tanya balik Sony.
"Iya kak, tapi... di dalam sudah ada Pingkan yang mau mendonorkan darahnya." wajah Talita menunjukkan kekecewaan karena gegabah mengambil keputusan tanpa menunggu Setno.
"Kata dokter, Sony bisa lakukan pemeriksaan, siapa tau yang paling cocok ada darah Sony" timpal Setno.
Talita mengembangkan senyumnya.
Talita masih punya harapan, masih berharap ada keajaiban nanti.
"Kalau begitu, bawa Kak Sony ke dalam" suruh Talita kepada Setno agar secepatnya bisa di lakukan pemeriksaan.
"Baiklah Nyonya"
Setno pun mengajak Sony masuk ke dalam ruangan, setelah di ketuk akhirnya suster membukakan pintunya.
"Suster, ini juga mau me donorkan darah untuk Tuan Adi, mohon di periksa bersama wanita itu"
Pingkan menatapnya sinis.
"Heh, sebaiknya kalian keluar, aku telah selesai periksa, jadi sudah tentu aku yang akan menjadi pendonornya"
Setno tidak menanggapi perkataan Pingkan, dia pun mengacuhkannya.
Suster memberi formulir untuk di isi Sony.
Sony segera mengisi identitasnya agar segera melakukan donor darah untuk suami Talita.
__ADS_1
Ketika melihat Talita sedih, ingin rasanya Sony mendekap erat. Rasa yang dulu dia rasakan ternyata masih ada tersisa sedikit.
"Suster, mengapa orang itu di beri formulir! Bukankah saya sudah menjadi pendonor Tuan Adi" geram Pingkan.
"Nanti Dokter yang akan memberitahukan siapa yang cocok mbak, dan kami hanya lakukan sesuai prosedur" imbuh suster.
"Hizz, Eh, kalian itu buang-buang tenaga saja, sudah tentu Talita akan memilih saya menjadi pendonor suaminya, apalagi kami akan menanda.... " Pingkan tersadar, hampir saja keceplosan.
Setno mengeryitkan alisnya.
'Pasti ada yang di sembunyikan Nyonya, untuk apa dia menangis, jika memang sudah ada yang mau mendonorkan darahnya kepada Tuan' bathin Setno di dalam hatinya.
'Aku harus mencari tahu'
Setno pun meningggalkan Sony bersama Pingkan.
Pingkan menatap Sony dengan tatapan geram.
'Ah, pasti Talita tak akan mengingkari janjinya' bathin Pingkan sambil Menatap Sony.
Sony yang di tatap Pingkan tak memberi expresi apapun, senyum pun tidak sama sekali.
Sony bisa melihat dari tingkah dan barusan yang di ucapkan, pasti Pingkan mempunyai maksud terselubung dengan mendonorkan darahnya.
30 menit berselang.
Pingkan dengan ekspresi sumringahnya, dan yang lainnya nampak tegang.
"Talita, keduanya memiliki golongan darah AB+, namun hanya salah satu saja yang bisa mendonorkan darahnya." jelas dokter dengan mengangkat kertas yang ada di tangannya.
"Pasti saya dokter," sergah Pingkan.
Dokter tersenyum kecut.
"Sepertinya maaf dek Pingkan, anda tak bisa mendonorkan darahnya"
Pingkan terperangah, sedangkan yang lainnya malah tersenyum.
Talita mengucapkan syukur di dalam hatinya.
'Alhamdulillah'
"Katakan Dokter, mengapa saya tak bisa mendonorkan darah" heran Pingkan.
"Di dalam darah anda ternyata ada sebuah virus HIV yang dapat menularkan kepada orang lain sehingga anda jelas tak bisa mendonorkan darahnya"
Semuanya terperangah, terlebih lagi Pingkan. Memang dia akui mulai umurnya tiga belas tahun sudah menjual dirinya dan mengikuti Tante Ira.
'Astagfirullah, Alhamdulillah jika memang Pingkan tidak bisa mendonorkan darahnya' bathin Talita di dalam hatinya.
__ADS_1
"Nggak munkin Dokter, aku nggak mungkin kena HIV, hikss...." raung Pingkan sambil terduduk lemas.
"Tapi dari hasil pemeriksaan seperti itu, untuk itu kami menyarankan agar anda sekarang lebih menerapkan hidup sehat dan harus mengkonsumsi obat ARV dari sekarang, obat ini harus di konsumsi seumur hidup, jika terputus maka anda akan memiliki kekebalan dari obat ini sehingga tubuh anda tidak akan memberi reaksi apa pun jika meminum obatnya lagi"
Deg....!! Hati Pingkan seakan di obrak abrik.
Ingin rasanya dia berteriak, namun suaranya hanya menggantung di udara.
Hatinya terasa sesak, apa ini balasa Allah atas perbuatannya kepads Talita.
"Apa aku menderita Aids Dokter?" tanya Pingkan.
"Di lihat dari gejalanya, anda belum menderita AIDS, Ada beberapa gejala AIDS yang perlu diketahui, yaitu: Adanya lapisan putih yang cukup tebal pada lidah atau mulut akibat infeksi jamur, sakit tenggorokan, merasa lelah dan pusing, berat badan yang menurun drastis tanpa penyebab yang jelas, lebih mudah mengalami memar pada bagian tubuh, sering mengalami penyakit diare, demam, dan keluar keringat berlebihan pada malam hari, adanya pembengkakan kelenjar getah bening pada beberapa bagian tubuh seperti tenggorokan, ketiak dan juga ************," jelas Dokter.
"Pingkan, kamu harus sabar" lirih Talita.
Dia sangat tahu bagaimana rasanya jika di beri ujian oleh Allah SWT.
Pingkan tersentuh, orang yanh harus di hancurkan malah dialah yang langsung iba dengan hidupnya.
"Talita maafkan aku, maaafkan aku Talita"
"Aku tak pernah dendam padamu Pingkan, Aku hanyalah manusia yang juga banyak salah dan dosa. Pingkan! Bertobatlah, sesungguhnya Allah sangat merindukan pendosa yang benar-benar bertobat dari pada ahli ibadah yang sombong, Allah tempat kita menyerahkan segala kesusahan dan penderitaan di dalam hidup, bertawakallah, walau kita seorang pendosa namun Allah akan tetep menerima taubatan nasuha hamba-hambanya.Percayalah!" pesan Talita sambil memeluk Pingkan air matanya ikut menetes.
Pingkan yang sedang menangis, mengeratkan pelukannya.
Pingkan merasa bagai di peluk Adiknya,menguatkan hatinya untuk segera bertobat.
"Terima kasih Talita, kamu memang berhati emas, kamu memang pantas mendapatkan kebahagiaan, maafkan, maafkan aku, aku yang berniat menyakitimu malah Allah yang menegurku secara langsung"
"Talita, sekarang aku sadar dan akan bertobat sebenar-benarnya taubatan nasuha, aku akan selalumu, aku akan do'akan suamimu akan sembuh nanti, dan kau akan mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat"
"Aamiin, terima kasih Pingkan, maaf aku harus pergi, aku ingin agar suamiku segera di oprasi" imbuh Talita.
Pingkan mengangguk. Pingkan masih belum beranjak dari tempatnya.
"Baiklah, kita akan segera melakukan prosedur pendonoran dan Saya akan berusaha yang terbaik untuk suamimu Talita" ungkap Dokter Adam.
Dokter pun segera menyuruh suster untuk mengambil beberapa sak darah Sony.
Pingkan segera melangkah ke ruangan ayahnya dengan tatapan kosong.
Dia segera menemui Dokter Umum yang sudah di rekomendasi Dokter Adam.
Pingkan pun segera ke dokter yang di maksudkan Dokter Adam.
Dia harus segera berobat, dia tak ingin menderita Aids nanti.
TBC....
__ADS_1