Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 73


__ADS_3

Masih POV. Talita.


Aku pasrah, aku rapuh saat ini, semua aku pasrahkan kepada penguasa alam, aku pasrahkan semuanya kepada sang kholik yang menakdirkan kita semua di dunia.


Aku yakin ada kebahagiaan yang aku dapatkan jika aku ikhals menerima cobaan dari Allah SWT.


Kita tak boleh putus asa, kita tak boleh menyerah. Aku tak boleh menjadi wanita lemah, saat ini pertarunganku antara jin syaiton si dasima yang berwujud seperti Pingkan.


Ujian rumah tangga itu akibat jin syaiton si dasim untuk menggangu laki-laki dan si dasima mengganggu perempuan.


Saat ini ujianku belum seberapa dengan orang yanh sudah di poligami.


Aku harus siap dengan segala konsekuensi yang aku ambil dan aku akan pertanggungjawaban nanti.


Kata orang, orang yang mau di poligami pasti bisa memilih syurga mana yang di masuki, namun aku tak ingin mendapatkan syurga dengan jalan seperti itu, namun jika Allah menghendaki aku seperti itu, mau tak mau aku harus siap.


Aku masih berusaha menghubungi Setno, aku tak bisa putus asa.


Aku masih berharap Allah akan memberiku harapan atau mujizat agar aku tak sampai berpoligami. Aku ingin menunjukkan kepada dunia, jika Aku bisa rapuh namun aku tak sampai putus asa.


Kami pun menuju ke ruangan laboratorium, dan segera memeriksakan apakah darahm Pingkan bisa di jadikan donor untuk Suamiku nanti.


Sebelum ketahuan Pingkan bisa donor atau tidak. Kami tak membuat surat perjanjian, jika Pingkan bisa donor, maka aku siap membuatkan surat perjanjian.


Dokter Adam pun bertemu denganku.


"Bagaimana Talita, apa sudah ketemu yang mau mendonorkan darahnya" tanya Dokter Adam kepadaku.


"Sudah Dokter, ini yang menjadi pendonor suamiku" aku pun menunjuk Pingkan.


Pingkan tersenyum kepada Dokter. Aku tersenyum kecut.


"Baiklah, kalian sekarang ke laboratorium Rumah Sakit ini, nanti suster yang akan mengantarkan kalian kesana, ini ada beberapa tes yang harus di jalankan sebelum mendonorkan darah"


"Baiklah dokter, terima kasih" ucapku sambil mengikuti langkah suster.


Ku lihat Pingkan sangat bersemangat mengikuti langkah suster.


Aku melirik kepada sekretaris Setno, sambil memberi kode agar meminjam handphonenya untuk menghubungi setno.


"Eci, berikan ponselmu, aku ingin menghubungi Setno, siapa tau jika kamu yang menelponnya pasti dia akan mengangkatnya"


Eci pun berhenti sejenak dan memberikan apa yang aku mau.


Setelah iti dia pun mendorong kursi roda mengikuti langkah Pingkan dan Suster.


Aku melihat kata laboratorium, dadaku bergemuruh. Air mataku mengenang di pelupuk mataku.


Aku menelpon Setno dengan Handphone Eci, namun tetap sama saja hanya operator yang menjawabnya.


"Kemana Setno, mengapa sampai sekarang belum ke Rumah Sakit" gumamku lirih.


Air mataku luruh juga menetes membasahi pipiku.

__ADS_1


"Nyonya, apa Setno bisa di hubungi?" tanya Eci kepadaku.


Aku hanya menggeleng, rasanya aku tak ingin mengeluarkan satu kata kepada Eci.


"Nyonya yang sabar, In Syaa Allah Setno akan mengusahakan pendonor Tuan Adi.


Aku pun hanya menganggukkan kepala.


Tibalah kami di depan Laboratorium.


"Suster, aku masuk dulu.Eh, Talita kamu tunggu di sini saja" ujar Pingkan kepadaku.


Mungkin dia takut jika aku mengubah hasil yang akan keluar, itu bathinku di dalam hati padahal jelas aku ingin sekali jika Pingkan bisa langsung bisa menyelamatkan suamiku.


"Tenang saja Pingkan, aku akan tetap menunggu di sini, suster aku mohon lakukan dengan teliti dan secepatnya, aku ingin suamiku segera dapat pendonor"


"Baik, Bu, jangan khawatir. Kami akan lakukan yang terbaik nanti"


Aku pun tersenyum, menandakan aku baik-baik saja, padahal di dalam hatiku begitu rapuh.


POV Setno


Aku langsung menuju ke tempat orang yang mengatakan akan mau mendonorkan darahnya. Aku pun segera menghubunginya dan meminta untuk bertemu.


Karena tempatnya di Bandung terpaksa aku harus naik pesawat yang di sewakan saja agar bisa langsung membawa orang itu di Surabaya nanti.


Aku pun meminta orang itu membuktikan kalau dirinya memang golongan darah AB+, aku tak ingin ambil resiko jika orangnya hanya Penipu ulung.


Akhirnya orang itu mengirimkan foto Ktp serta bukti dirinya bergolongan darah AB+.


Akhirnya hanya 15 menit aku nyampe di kota Bandung. Dan aku langsung menemui orang itu yang kebetulan sudah menunggu di Bandara.


Setelah dengan proses penerbangan, akhirnya aku langsung membawa orangnya ke surabaya.


Aku harus secepatnya membawa orang ini, karena kata dokter aku hanya punya butuh 45 menit saja.


Ke PMI sudah memakan waktu 15 menitan tambah ini lagi sudah hampir 45 menit seluruh perjalananku.


Aku tak boleh menyerah, aku ingin Tuan Adi bisa segera mendapatkan pendonor.


"Apa kami pernah mendonorkan darahmu" tanyaku ketika kami berada di pesawat.


"Aku pernah, namun sudah 1 tahun yang lalu"


"Alhamdulillah, artinya darahnya memang bisa untuk mendonorkan darah" bathinku lega rasanya.


"Baiklah, kami akan memberikan berapapun yang kau mau"


Orang itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Kita sepertinya belum kenalan, walau sebenarnya aku sudah mengenal namamu lewat ktpmu.Namaku Setno"


Kami pum berjabat tangan.

__ADS_1


"Sony"


"Wah, nama kita awalannya yang sama, semoga kita bisa menjadi teman nanti karena kamu seumuran dengan saya"


"Iya Tuan"


"Jangan memanggil namaku Tuan, panggil aku Setno saja, yang kau donorkan itu yang kau panggil Tuan Adi saja" ucapku tertawa renyah.


"Baik Setno, senang bertemu denganmu"


"Aku juga sama, apalagi kami butuh bantuanmu, terima kasih sebelumnya"


"Iya, terima kasih juga sudah mengajak saya, setidaknya saya seperti jalan-jalan,hehehe" tawanya kepadaku.


Aku pun tertawa agar kami bisa akrab nanti.


Setelah 15 menit kami pun sampai juga di Bandara surabaya.


Setelah sampai aku segera menuju ke Rumah Sakit tempat Tuan Adi.


Namun di tengah perjalanan, kami terjebak macet karena ada kecelakaan yang terjadi di jalanan.


"Ya Allah, sebentar lagi harus segera mendonorkan darah Tuan" ucapku sambil melihat jam tangan bathinku.


"Apa masih jauh Rumah sakit dari sini Setno" tanya Sony kepadaku.


"Tidak jauh, tinggal 3 blok dari sini" ucapku mengatakan, memang dia tak tahu area yang di Surabaya sehingga Sony bertanya kepadaku.


"Kalau begitu, kita jalan kaki saja atau berlari dari sini, agar kita cepat...."


Belum selesai dia mengatakan maksudnya aku langsung mengajaknya.


"Ayo,!!!"


Kami pun memilih berjalan kaki atau sekali-kali kami berlari agar kami bisa sampai di Rumah Sakit tempat Tuan Adi di Rawat.


Akhirnya dengan nafas terengah-engah kami sampailah di depan Rumah Sakit.


Kami beristirahat sebentar.


"Ayo, setno. kita tak boleh terlambat"


Aku salut dengan sosok Sony yang memang berniat sekali membantu Tuan Adi.


"Ayo kita temui Dokter dulu"


Akhirnya kami bertemu Dokter Adam, Dokter Adam mengatakan jika sudah ada yang mau mendonorkan darahnya kepada Tuan Adi dan sekarang orang itu lagi menjalani tes. Dokter pun menyarankan agar aku juga tetap menyuruh orang yang aku bawa untuk menjalani tes.


"Alhamdulillah. Baiklah Dokter kami ke Laboratorium dulu" ucapku lega.


Dokter Adam hanya mengangguk dan kami pun menuju ke Laboratorium.


Akhirnya Aku sadar, lupa mengaktifkan nomor handphone agar bisa menghubungi Nyonya Talita sehingga bisa memantau keadaan di sini.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2