
Talita menaiki bentor (becak motor) menuju ke bank terdekat.
Setelah sampai di bank, Talita segera menemui costumer servis.
"Ada yang bisa saya bantu, mbak"
"Saya mau cairkan cek ini, apakah bisa?"
"Coba saya liat ceknya" ungkap CS.
"Ini mbak"
Tak berapa lama Akhirnya Ceknya bisa di cairkN sekalian Talita telah membuka rekening yang baru.
"Mbak, nanti hati-hati bawa uangnya, jika ingin di dampingi satpam kami dengan senang hati bisa membantu." ujar CS yang bernama Irma.
"Trima kasih mbak, atas sarannya. Seperti memang saya mau di dampingi satpam"
"Baiklah,"
Cs itu memanggil seorang satpam dan mengungkapkan keinginanku.
Akhirnya kami pulang di dampingi satpam, uang yang di bawa Atika bukanlah sedikit. 1 M untuk membayar ruko.
Kami pun bertemu pengolah ruko, dan notaris. Semuanya berjalan dengan lancar.
Talita berencana untuk mengajak Nenek Saroh untuk pindah sedikit demi sedikit, sebelum pindah Talita menyuruh pengembang ruko untuk merehap tempat jualan yang berada di lantai satu ruko.
Setelah di sepakati dengan pembayaran yang cocok, mereka memberi waktu kepada Talita ruko yang ada di lantai satu selesai seminggu kedepannya.
Talita akhirnya menyetujuinya dan langsung melakukan pembayaran.
"Alhamdulillah, selesai juga" batin Talita di dalam hati.
"Pak Satpam, ini ada sedikit rezeki dari saya" ucap Talita sambil menyerahkan uang seratus ribuan sebanyak 5 lembar.
"Eh, talalu banyak ini mbak"( Eh, terlalu banyak ini mbak) ujar Satpam.
"Itu rezeki dari Allah pak, semoga bermanfaat" imbuh Talita.
"Makase banyak ini wa"( makasih banyak ini ya) ucap Satpam sambil mencium uang yang di beri Talita.
Talita hanya tersenyum.
Talita mencari bentor untuk melihat ruko yang di belinya sekaligus balik lagi ke rumah Nenek Saroh.
****
Sedangkan di lain tempat.
Setno datang terburu-buru.
Terlihat seorang Tuan Adi duduk di kursi roda.
Ya... sudah 3 bulan ini Tuan Adi menderita kelumpuhan akibat kecelakaan sewaktu mencari Talita.
"Tuan, sepertinya Nyonya sudah terlacak tempatnya" ujar Setno mendekati bosnya.
"Emangnya di daerah mana?" tanya Tuan Adi.
"Dari konfirmasi seorang custumer servis di bank, cek yang tuan berikan di cairkan di daerah sulawesi tepatnya di daerah Gorontalo" ucap Setno dengan hati-hati.
Tuan Adi hanya menatap lurus ke depan, dia ingin sekali menyusul istrinya.
__ADS_1
Namun melihat kondisinya sepertinya pasti istrinya akan menolak.
"Apa Tuan akan menyusulnya?"
"Kirim mata-mata ke sana, awasi terus aktifitas istriku, jika memang waktunya sudah pas, maka aku akan ke sana"
"Baik Tuan, saya akan kirim seseorang ke sana"
"Bagus"
"Hari ini Tuan harus terapi lagi"
"Bawa aku ke psikiater saja, hari ini terakhir aku berobat"
"Baiklah Tuan"
"Setno, apa urusan dengan mantan istriku telah selesai?" tanya Tuan Adi.
"Sudah Tuan, apa yang tuan suruh telah mereka terima dan mereka sudah menandatangani surat tentang tak ingin menuntut lagi. Jika mereka menuntut lagi maka mereka siap akan di penjara" ujar setno menerangkan secara mendetail.
"Syukurlah, jangan lupa suruh stanbye anak buahmu di tempat Talita."
"Siap Tuan"
Tuan Adi segera menggeser kursi rodanya menuju ke dalam kamar.
Sebenarnya Setno ingin membantu tapi Tuan Adi menolak.
Tuan Adi ingin sendiri merenungi kehidupannya setelah di tinggalkan Talita.
"Tuan, jam berapa tuan ingin ke psikiater" teriak Setno dari arah luar kamar.
"Sore jam 3 saja, aku mau istrahat dulu" balas Tuan Adi dari dalam kamar.
Berhubung rukonya tidak jauh dari bandara, Talita mampir dahulu ke tempat jualan Nenek Saroh.
"Assalamu'alaikum" ucap Talita menghampiri Nenek Saroh yang berjualan nasi kuning.
"Waalaikum salam, Eeh, Nak Talita. Bagaimana urusannya hari ini?" tanya Nenek Saroh.
"Alhamdulillah lancar Nek, sepertinya jualannya nenek laris manis ya"
"Syukur Alhamdulillah nduk, masih mual tidak hari ini"
"Alhamdulillah hari ini sudah tidak mual lagi Nek, pengennya makan nasi kuning buatan Nenek deh"
"Ini kebetulan sisa 1 makanlah, setelah itu kita pulang sama-sama ke rumah"
"Siap Nek"
Talita pun menyantap nasi kuning Nenek Saroh dengan nikmat.
Nenek Saroh memperhatikannya dan tersenyum, setelah itu mengambil air minum untuk Talita.
"Trima kasih ya Nek, Nenek yang terbaik"
"Makannya jangan buru-buru, Nanti keselek" ujar Nenek Saroh mengingatkan.
Talita hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan mereka kembali ke rumahnya dengan naik bentor lagi.
Biasanya Nenek Saroh berjalan kaki, tapi karena Talita memaksa Nenek Saroh naik bentor akhirnya Nenek Saroh juga mengikuti keinginan Talita.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah.
"Talita mandi dulu ya, setelah itu jangan lupa sholat dzuhur"
"Iya Nek, Nek ada yang Talita ingin katakan pada Nenek. Nanti setelah sholat ya"
"Iya Nduk"
Talita segera melangkahkan kakinya ke kamarnya dan Mandi di sumur yang tak jauh dari tempat tinggal Nenek Saroh.
Nenek Saroh membantu Talita menimba ember di sumur.
"Nek, biarin Talita saja. Nenek pasti capek habis jualan"
"Nggak apa-apa Nduk, sekalian Nenek mau mandi juga. Kamu mandi saja duluan ya"
"Baiklah Nek"
Talita sangat bersyukur bertemu dengan Nenek Saroh, semenjak bertemu Nenek Saroh begitu baik, bahkan Nenek Saroh telaten mengobati luka Talita akibat perbuatan Tuan Adi dahulu.
Nenek Saroh tak menyangka di balik cadarnya tersimpan luka yang sangat menyayat hati.
Nenek Saroh ingat anak dan cucunya yang ada di Jawa, Nenek Saroh bercerita bagaimana dia bisa berada di kota Gorontalo ini.
Nenek Saroh tak ingin di repotkan oleh anak dan cucunya, hingga terpaksa merantau dengan dana yang seadanya.
Beruntung tiba di kota Gorontalo, Nenek Saroh langsung dapat sewaan tempat sekaligus dia belajar cara membuat nasi kuning hingga bisa berjualan di sekitar bandara.
Dulu Nenek Saroh berumur 50 tahun jadi masih kuat untuk beraktifitas menjual nasi kuning keliling, hingga ada pihak bandara merasa iba sehingga di tawarkan berjualan di bandara. Nenek Saroh tak ingin membuang peluang hingga dirinya mau berjualan di bandara.
Setelah Ba'da Dzuhur Talita dan Nenek Saroh duduk di ruang tamu.
"Nek, mungkin seminggu lagi kita akan pindah dari sini"
"Pindah ke mana nduk, sepertinya di sini nyaman"
"Aku sudah mencairkan mahar nikahku nek, dan langsung membeli ruko yang di dekat bandara, Nenek bisa langsung buka restoran di lantai bawah. Besok kita liat tempatnya ya Nek"
"Ya Allah Nduk, trima kasih. Kamu sangat baik sekali"
"Itu belum seberapa dengan kebaikan Nenek, Nanti di ruko biar saya dulu karyawan Nenek, jika mulai ramai, Nenek bisa mencari karyawan lagi, bagaimana?"
"Baiklah Nduk, padahal uang itu kamu gunakan untuk keperluan bayimu saja"
"Untuk keperluan bayiku masih ada Nek, jangan khawatir"
"Ini ada uang 5 juta untuk modal awalnya Nenek nanti" ujar Talita sambil menyerahkan uang di amplop coklat.
"Nak, ini terlalu banyak" tolak Nenek Saroh.
"Tidak Nek, kalau di ruko kan Nenek bisa jualan sampai malam hari jadi modalnya menjadi dua kali lipat"
"Baiklah Nduk, trima kasih ya. Istirahatlah Nenek mau masak untuk makan malam kita"
"Aku bantu ya Nek, aku belum ngantuk"
"Baiklah, ayo kita ke dapur"
Mereka pun bergegas ke dalam rumah menuju dapur.
TBC...
(Penampakan Bentor)
__ADS_1