Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 54


__ADS_3

Keesokan harinya.


Cuaca pagi hari begitu cerah, Talita setelah sholat shubuh langsung membuatkan sarapan untuk mereka semuanya.


Karena Endi dan Agung belum juga bangun, terpaksa Talita membawa sarapan ke lantai atas di kamarnya.


Tuan Adi yang sedang mengaji, terkejut dengan kedatangan Talita.


"Shadakallahul'aziim. Sayang, kok bawa sarapannya ke sini?"


"Iya mas, Endi dan Agung belum bangun. Aku segan membangunkan mereka, jadi lebih baik aku bawa ke atas saja sarapannya. Kita sarapan di sini sama-sama saja"


Talita mengambil makanan untuk sarapan Tuan Adi.


"Baiklah, Tapi suapin ya?" Tuan Adi berkata dengan senyum simrik di bibirnya.


"Iya, mas" ucap Talita dengan membalas senyum senang Tuan Adi.


Talita menyendokkan makanan perlahan-lahan ke mulut Tuan Adi dan Tuan Adi pun mengunyahnya dengan pelan.


"Sayang, do'akan terapi mas berjalan lancar ya, mas sebenarnya takut" lirih Tuan Adi.


"Mas takut apa?" tanya Talita.


"Takut jika hasilnya tak sesuai harapan sayang"


Talita menggenggam tangan Tuan Adi.


"Mas, manusia bisa berusaha namun takdir itu dari Allah, asal kita sudah berusaha jika memang Allah punya kehendak lain ya, kita tetap istiqomah memohon kesembuhan. Mungkin dengan sakitnya mas, ada yang di persiapkan Allah yang lebih baik mas, mas jangan berputus asa."


"Iya Sayang, Mas akan berusaha yang terbaik, mas akan serahkan kepada Allah hasil akhirnya" Tuan Adi mengecup tangan Talita bahkan langsung mengecup dahi Talita.


"Kamu makan juga dong, jangan hanya nyuapin saya saja, ayo aaaaa" Tuan Adi menyodorkan suapan untuk Talita.


Mau tak mau Talita memakan makanan yang di suapin Tuan Adi.


"Kamu itu, bukan hanya seorang saja yang makan, tapi kamu berdua jadi, jangan sampai kamu telat sarapan sayang"


"Maaf" lirih Talita.


Akhirnya mereka saling suapan sampai nasi sepiring habis tak tersisa.


Setelah selesai sarapan, Talita membersihkan bekas makan mereka.


Setelah di lantai bawah, ternyata Endi dan Agung sudah bangun.


"Endi, Agung, sarapanlah. Aku dan Mas Adi sudah selesai sarapan, nanti setelah itu kalian antar kami di Rumah Sakit sekaligus tempat yang kalian sebut kemarin"


"Iya Nyonya, maaf kami telat bangun pagi" ungkap Endi tak enak hati kepada majikannya.


"Santai saja Endi, aku tau kalian pasti capek setelah pengajian Semalam" jawab Talita dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Trima kasih nyonya"


"Sama-sama Endi, jangan lupa kalian sarapan. Aku ke atas dulu"


"Iya nyonya, terima kasih"


Talita hanya mengangguk dan segera naik ke lantai dua.


"Mas, mandi air hangat dulu ya, sabar saya siapkan dulu"


"Iya sayang."


Talita langsung menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat karena waktu masih jam 6 pagi pasti kondisi sekarang masih dingin.


Setelah selesai menyiapkan air hangat, lalu Talita mendorong kursi roda Tuan Adi ke dalam kamar mandi.


Sekarang Talita tak canggung lagi karena sudah beberapa kali membantu Tuan Adi mandi.


"Sayang, paku aku lagi pengen nancep"


Talita hanya tertawa dan sebagai wanita pasti punya inisiatif sendiri.


Talita mengarahkan paku di tempat yang seharusnya.


Talita yang selalu bekerja sehingga Tuan Adi sangat menikmati pekerjaan Talita yang telaten mendorong paku karena Talita yang memimpin pekerjaan berat membawa mereka ke surga dunia.


"Ah...ughh, sayang" pekikan keluar dari bibir Talita dan Tuan Adi dan peluh kerja keras menguras deras di dahi Talita namun semua di lakukan dengan sangat hati-hati mengingat usia kehamilannya menginjak 5 bulan.


"Trima kasih sayang, kamu terus yang selalu berusaha menyenangkan aku"


"Jangan berkata seperti itu mas, asal kita sama-sama bahagia, aku dengan senang hati melayanimu"


Tuan Adi melabuhkan ciuman di punggung Talita.


"Geli, masss"


Talita berdiri seraya mencabut paku yang sedang menancap.


"Aahhh" tak sadar malah membuat Tuan Adi men****h


"Sayaaang" Tuan Adi memelas dan malah mendapat tatapan tajam dari Talita.


"Iya, iya, aku juga takut nanti calon dedenya malah tak kuat di tengokin, hahahaha"


Plak.


Talita menepuk lengan Tuan Adi dengan lembut, Dan dia pun ikut tertawa.


Akhirnya mereka telah menyelesaikan ritual mandinya dan Talita membantu menyiapkan pakaian sekaligus membantu Tuan Adi bersiap.


Talita melihat jam menunjukkan pukul delapan, artinya mereka hampir dua jam berada di kamar mandi.

__ADS_1


"Mas, udah telat kedokternya nih"


"Belum, semoga saja belum, hehehe" jawab Tuan Adi dengan menyengir.


"Ish, mas ini, udah tau harus cepat malah minta jatah" gerutu Talita.


"Hehehe, abisnya kalau sayang sudah menyentuh mas, paku mas langsung bereaksi" goda Tuan Adi


"Ya sudah, mulai besok, saya suruh Endi saja yang memandikan mas"


"Eeeee, jangan dong, kan sayang sudah janji mau merawat mas, ya sudah mas janji ini yang terakhir, ntar mintanya di ranjang saja, boleh?" ucap Tuan Adi dengan senyum menggoda.


"Iya, boleh sayang" imbuh Talita sambil mencium bibir Tuan Adi sekilas.


Tuan Adi terbelalak, baru kali ini sikap manja dan kata sayang terucap dari bibir istrinya, Tuan Adi tak menyangka Talita mulai berani menggodanya.


"Ih, gemes. Kalau nggak sakit pasti di ajak duel lagi deh" ungkap Tuan Adi sambil menaik turunkan alisnya..


"Ish, maunya mas deh, aku panggilkan Endi dulu. ntar lama-lama sama mas, malah tak jadi berangkat"


"Habisnya kamu selalu menggemaskan, penginnya mas selalu di sini saja"


"Mulai lagi deh," Talita pun langsung bergegas meninggalkan Tuan Adi, bisa saja bakal terus hilaf jika berdekatan dengan Tuan Adi.


Endi pun naik ke lantai dua dan membantu Tuan Adi. Kakinya bisa di gerakkan tapi tak kuat untuk menopang tubuhnya.


Jika saja Tuan Adi mau berobat dan terapi setelah kecelakaan, pasti dirinya sekarang bisa berjalan.


Namun karena penyesalannya kepada Talita, sehingga dia tak ingin sembuh.


Sekarang karena ingin melindungi istrinya dan buah hatinya, mau tak mau Tuan Adi berusaha sembuh dan menjalani terapi dan berobat sekaligus agar bisa cepat berjalan.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, tibalah mereka di Rumah Sakit yang lebih besar dari yang pernah di datangi sebelumnya.


Setelah mendaftar dan mengantri mereka kemudian masuk di ruangan Poli syaraf kebetulan di Rumah Sakit Aloesaboe sudah ada Dokter spesialis neurologi dan ortopedi.


"Ada yang bisa saya bantu" tanya Dokter.


Talita melihat nama yang tertera Dokter Danu.


"Begini dokter, suami saya pernah kecelakaan sehingga kata dokter ada syaraf yang terjepit di kakinya."


"Baiklah, silahkan berbaring di tempat tidur pasien dulu"


Agung yang mendorong kursi Tuan Adi segera membantu Tuan Adi berbaring, sedangkan Talita setia menemani Tuan Adi di sampingnya.


"Setelah saya periksa ternyata... "


"Ternyata apa dokter?" belum selesai Dokter Danu menjelaskan sudah di potong Tuan Adi karena dia cukup penasaran akan hasil dari pemeriksaan tadi.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2