Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 43


__ADS_3

"Ada apa ini, apa yang sebenarnya terjadi" tanya lagi Talita kepada semuanya.


"Lihat ini ada kecoa sudah masak di nasi kuningku" ujar pelanggan Nenek Saroh.


"Itu tidak mungkin nasi kuning Nenekku, nasi kuning Nenekku terjamin kebersihannya"


"Halah, sudah ada bukti kok, masih saja mengelak" ujar Pingkan dengan sombongnya.


"Kalian periksalah, begitu bersihnya dapur kami, kalau kalian tidak percaya"


"Ini sudah ada bukti di nasi kuningnya, nngak perlu cari bukti di dapurnya. Bisa saja kalian sudah menyingkirkannya dari tadi" ujar Pingkan kembali.


Tak lama ada seseorang yang datang menghampiri warung Nenek Saroh.


"Assalamu'alaikum" ucapnya.


Semua orang melihat orang tersebut.


"Waalaikum salam" jawan Nenek Saroh dan Talita.


"Saudara-saudara, aku menjamin nasi kuning buatan Nenek Saroh sangat higienis,"


"Eh, kamu siapa yang berani-beraninya datang petantang petenteng langsung bilang higienis"


imbuh Pingkan dengan emosi, padahal tinggal sedikit lagi rencananya akan berhasil.


"Aku siapa bukan urusanmu, aku di sini untuk menjelaskan pada kalian semua, silahkan kalian saksikan video ini dan kalian bisa mengambil kesimpulannya"


Pria itu pun memutar video di hpnya. terlihat Pingkan yang sedang menangkap kecoa dan ada juga video sedang memasukkan kecoa di salah satu makanan pelanggan di sebelah Pingkan. Semua terekam jelas ada di video itu.


Setelah menyaksikan video itu malah semua pelanggan melihat ke arah Pingkan dengan tatapan garang.


Pingkan yang kebingungan langsung ingin berlari tapi pelanggan yang di masukkan kecoa di makanannya langsung menahannya.


"Heh, tanggung jawab dulu, kamu sudah memfitnah Nenek Saroh. Kamu harus kami bawa ke kantor polisi" ujarnya seraya menahan tangannya Pingkan.


"Jangan bawa aku ke kantor polisi, plis" ucap Pingkan sambil memelas bahkan tangannya di dekapkan di dadanya.


"Talita aku minta maaf, tolong jangan bawa aku ke kantor polisi" pinta Pingkan.


"Maaf Pingkan aku tak bisa membantumu" ujar Talita sambil memeluk Nenek Saroh.


"Nek, aku mohon jangan bawa aku ke kantor polisi, aku janji tak akan mengulangi perbuatanku lagi" pinta Pingkan sambil memeluk kaki Nenek Saroh.


"Bebaskan dirinya nak, Nenek hanya ingin kamu Pingkan bisa berubah dan jangan ganggu kami Lagi"


"Aku janji Nek Saroh dan Talita, aku tak akan menggangu kalian lagi"


"Sekarang tinggalkan warung Ini!" ujar tegas Talita kepada Pingkan


Talita tak ingin berurusan lagi dengan Pingkan, untuk itu Talita langsung mengusirnya dari warung Nenek.


Pingkan yang mendapat lampu hijau dari Talita, sontak langsung berlari meninggalkan warung dengan tergesa-gesa.


Pingkan takut jika nanti para pelanggan Nenek Saroh malah tak rela dirinya pergi.


"Nak, trima kasih ya" ucap Nenek kepada pemuda yang memperlihatkan video kepada semua orang.


"Sama-sama Nek, aku sudah curiga dengan gerak geriknya" ujarnya menjelaskan.

__ADS_1


"Kamu tinggal di sini?" tanya Talita.


"Ya, saya tinggal di sekitar rumah Pak Wandi" jelasnya.


"Oh, Duduklah. Kami akan menyediakan nasi kuning untukmu" imbuh Nenek Saroh.


"Trima kasih Nek, lain kali saja" tolaknya.


"Aku ini sedang memata-matai Talita, jangan sampai Talita curiga" batinnya dalam hati


"Tapi ijinkan kami membalas perbuatanmu, kami tak punya uang untuk membayarmu" ujar Nenek Saroh lagi.


"Aku menolong kalian ikhlas kok"


"Belum tau Talita kalau aku di bayar mahal hanya untuk mengawasinya" batinnya lagi.


"Namamu siapa Nak?" tanya Nenek Saroh.


"Aku Efendi Nek, biasa di panggil Endi"


"Nak Endi terima kasih ya, karena sudah menolong kami, kami tak tau apa yang akan terjadi jika tidak ada video dari kamu... "


"Nggak usah di pikirkan Nek, aku mau pergi dulu. aku kerja di seberang Nek" pamitnya.


"Nanti kapan-kapan makan di sini ya" ucap Talita dengan ramah.


"Iya Talita, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam" jawab mereka serempak di warung.


"Nak, ini nasi kuning pengganti yang telah di bubuhi kecoa oleh Pingkan. Makanlah"


"Sudah, semoga Pingkan bisa berubah nanti" ucap Talita.


Mereka pun mengamini perkataan Talita.


Talita bersyukur suasana telah menjadi kondusif lagi.


"Ya Allah, semoga ini yang terakhir perlakuan Pingkan kepadaku, aku harus melakukan sesuatu" gumam Talita.


****


"Bodoh, begitu saja kamu tak bisa kerjakan dengan baik" gerutu Pak Wandi.


"Ayah, sebenarnya tadi sudah berhasil. Hanya si Endi datang dengan membawa video, terpaksa aku kalah telak dengan mereka"


"Endi?" anak baru yang ada di kompleks ini.


"Iya yah"


Tak lama berselang.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


"Nih, orangnya ayah, yang sudah menggagalkan rencanaku"


Endi pun masuk ke dalam rumah Pingkan.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian berhenti berbuat ulah pada majikan saya"


"Majikan?"


"Ya, Nyonya Talita majikan saya, saya datang ke sini di suruh Tuan Adi, suami dari Nyonya Talita. Jika kalian tidak berhenti mengganggu Nyonya kami, kalian akan dapat perlakuan setimpal" ujar Endi.


"Ini ada uang 10 juta dari Tuan Adi, segera tinggalkan kota ini, kalian menjauh dari Nyonya kami. Saya kasih waktu hari ini saja kalian menyimpan barang-barang. Jika tidak, Video yang kamu lakukan akan saya kasih kepada pihak berwajib, kalian tau rasanya jika sudah pihak berwajib yang menjauhkan kalian dengan Nyonya kami." ujar panjang lebar Endi.


"Ba ba baiklah," gugup Pak Wandi.


Pingkan pun langsung meninggalkan Endi dan menyimpan barang-barangnya untuk di bawa.


Mereka memang hanya mengontrak di tempat ini, jadi mereka rela harus pergi dari sini agar ancaman Endi tidak di lakukan.


Endi pun segera meninggalkan rumah Pingkan dan melaporkan kepada Setno.


"Lapor Bos, semua bisa di kendalikan"


****


"Alhamdulillah, tetap awasi Nyonya, laporkan terus aktifitas beliau"


"Siap Bos" suara terdengar dari handphone.


Setno pun mematikan handphonenya dan segera menuju ke rumahnya Tuan Adi.


Dia harus melaporkan apa yang barusan terjadi di warung Talita.


1 jam kemudian, sampailah Setno di rumah Tuan Adi.


Satpam pun membukakan pintu dan mempersilahkan Setno masuk ke dalam rumah Tuan Adi.


Ternyata Tuan Adi telah menunggu Setno.


"Tuan..."


"Bagaimana istriku" tanya Tuan Adi memotong perkataan Setno.


"Syukur, semua bisa di kendalikan. Endi juga telah memberikan uang 10 juta kepada Pingkan agar menjauh dari kehidupan Nyonya"


"Syukurlah, aku tak ingin terjadi sesuatu dengan istriku"


"Jangan khawatir Tuan, Endi orangnya kerjanya bagus"


"Tapi tadi Tuan, Endi tak melihat Nyonya tadi pergi kemana, karena dia mengawasi Pingkan"


"Bodoh, mengapa hanya seorang saja yang kamu suruh awasi Istriku. Tambah orang kita lagi. Awasi kemana saja istriku, Setno!"


"Baik Tuan, maafkan keteledoran saya"


"Baiklah, sekali ini saya maafkan. jika lain kali, maka tak ada kata ampun Terhadapmu"


"Siap Tuan, kalau begitu saya pergi dulu"


"Hmm"


Setno pun segera meninggalkan Tuan Adi dengan sejuta pemikiran yang sedang berkecamuk di benaknya.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2