Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 49


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Tuan, sebaiknya Nyonya Talita melihat Nenek Saroh yang terakhir kalinya" ucap Setno


"Aku sebenarnya takut Setno. Aku takut jika Talita menjadi lemah dan akan sedih jika mengetahui Nenek Saroh meninggal" ujar Tuan Adi.


"Tapi Tuan, Nyonya akan lebih sedih lagi jika tak melihat jenazah Nenek Saroh yang terakhir kalinya. Coba Tuan periksakan keadaan Nyonya di Dokter lagi, jika mentalnya kuat, sebaiknya beri kesempatan kepada Nyonya melihat Nenek Saroh terakhir kali" imbuh Setno.


"Bener apa katamu Setno, kamu mau pulang ke ruko ya?"


"Kalau Tuan mau ngurus kepulangannya Nyonya, mending saya pulang bersama-sama Tuan"


"Baiklah, kamu bicarakan dulu dengan Dokter, jika memang diizinkan kembali hari ini aku akan ikut"


"Baik, Tuan"


Setelah itu Setno langsung ke ruangan suster dan mulai bertanya.


"Dokternya jam 8, Pak. Kalau melihat rekam medis pasien sebenarnya sudah boleh pulang sekarang, tapi sebaiknya nunggu dokter dulu ya Pak"


"Baik, Suster. Trima kasih"


Setno pun kembali ke ruangan Talita, dan dia berencana menunggu kepulangan Nyonya Dan Tuannya.


Jam 08:00 Wita.


Dokter pun masuk ke ruangan Talita, kebetulan Talita sedang di suapi suaminya sarapan bubur.


"Alhamdulillah, semua baik-baik saja,Pak. Jaga kondisi Ibunya agar tidak stress. Hari ini sudah boleh pulang, nanti saya buatkan resep vitamin"


"Trima kasih, Dokter"


"Iya, sama-sama Pak"


Dokter menulis resep dan di berikan kepada Tuan Adi setelah itu dia pun keluar ruangan dan akhirnya Setno menyelesaikan pembayaran sekaligus membawa pulang Nyonya Talita dan Tuan Adi.


*****


"Jenazah sudah boleh di mandikan?" tanya Endi, dilihatnya waktu sudah jam 8 pagi.


"Apa tak ada yang di tunggu keluarganya atau anaknya?" tanya sang pemandi jenazah.


"Ada sih, orangnya lagi sementara di perjalanan"


"Kalau begitu tunggu orang itu, kasian jika sudah di mandikan malah kotor lagi dengan air mata yang melihatnya"


"Apa tidak sebaiknya di percepat?" tanya Endi lagi.


"Boleh saja, tapi jika sudah memakai kain kafan tak boleh di sentuh lagi"


Tin tin...


Bunyi klakson terdengar dari luar ruko.


Terlihat Nyonya Talita yang heran mengapa di rukonya sangatlah ramai.


Tadi kata Suaminya jika Nenek sudah pulang dari kemarin.

__ADS_1


"Apa Nenek Saroh sudah berjualan lagi" batin Talita di dalam hati.


Setno yang menuntun kursi roda tuannya pun membantu Tuan Adi masuk ke dalam ruko.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam" jawab semua orang yang ada di dalam ruko.


"Endi, kenapa banyak orang di sini? mana Nenek Saroh? ada apa sebenarnya terjadi"


Tuan Adi menggenggam tangan Istrinya.


"Sayang, kamu yang kuat ya, kamu harus merelakan jika Nenek Saroh sudah pergi, Nenek Saroh sudah bahagia sayang"


"Ne ne nek Saroh meninggal mas, Neneeekkkk"


Talita melepaskan genggaman suaminya dan berlari ke arah bagian di dalam ruko.


Dilihatnya Nenek Saroh terbujur kaku.


"Nenek, nenek bangunlah... jangan tinggalkan Talita nek, aku mohonnnn" Talita menangis di samping jenazah Nenek Saroh.


"Neneekk..." Talita menagis tersedu-sedu.


"Sayang, jangan begini. Nanti Nenek Saroh malah sedih melihatmu seperti ini."


"Nyonya, Nenek Saroh mau di mandikan, ikhlaskan kepergian Nenek Saroh agar dia akan tenang di alam kuburnya"


Tuan Adi menyuruh Setno menurunkannya dari kursi rodanya, dan duduk memeluk istrinya.


"Mas, aku belum sempat membahagiakan Nenek Saroh,hiks"


"Nenek Saroh sudah bahagia, Nenek Saroh menderita tidak sakit lagi, sayang" bujuk Tuan Adi sambil memeluk erat sang istri.


Talita membenamkan kepalanya di dada Tuan Adi.


Nenek Saroh pun langsung di bawa pergi untuk di mandikan.


"Mas, izinkan aku untuk memandikan jenazah Nenek Saroh yang terakhir kalinya."


"Tapi kamu lagi hamil sayang,"


"Aku kuat mas, aku harus memandikan jenazahnya, kasian Nenek Saroh, anak cucunya tak ada satupun yang ada"


"Baiklah, asal kamu janji, kamu tidak akan sedih lagi"


"Trima kasih, mas"


Talita pun beranjak dari tempat duduknya, dan ikut memandikan jenazah Nenek Saroh.


Setelah itu jenazah di kafani, di sholatkan dan segala persiapan telah di sediakan Endi.


Mereka pun bergegas memakamkan jenazah Nenek Saroh di TPU yang terdekat dengan tempat tinggalnya.


Semua yang mengenal Nenek Saroh begitu sedih, apalagi pelanggannya yang ada di bandara. Mereka ikut mengiringi mengantarkan jenazahnya sampai di peristirahatan yang terakhir.


Setelah selesai di makamkan, semua orang ikut mendo'akan kepergian Nenek Saroh.

__ADS_1


"Terima kasih Nek, Terima kasih sudah pernah merawatku, maafkan anakmu ini belum membuatmu bahagia" gumam Talita dengan suara seraknya.


Setelah itu semua orang pergi meninggalkan Talita, Tuan Adi, Setno, Endi dan Agung.


Talita masih enggan untuk beranjal dari kuburnya Nenek Saroh.


Dia masih sedih dan masih ingin berada di kuburannya Nenek Saroh.


"Sayang, hari makin terik mataharinya. Ayo kita pulang"


"Aku masih ingin di sini, mas"


"Ingat kondisimu lagi hamil muda sayang, kita persiapkan pengajian lagi untuk Nenek Saroh" bujuk Tuan Adi lagi.


"Baiklah mas, besok lagi kita kesini"


"Iya, yang penting, sekarang kita pulang dulu." ujar Tuan Adi.


Mereka pun bergegas keluar area pemakaman. Talita melihat kebelakang memandangi pusara Nenek Saroh.


Tuan Adi memberi semangat dengan menggenggam jemarinya.


"Aku harus ikhlas, jika aku ikhlas Nenek Saroh akan bahagia" batin Talita di dalam hati.


Talita saat ini menggunakan kursi roda sama seperti Tuan Adi, karena sejak tadi dia menangis akhirnya dia tak sanggup menopang berat tubuhnya.


Kursi roda Talita di dorong oleh Endi, sedangkan Setno mendorong kursi roda menuju ke mobil.


Ketika di depan mobil Talita turun dan naik ke atas mobil sedangkan Tuan Adi di bantu Setno.


Mereka kembali ke ruko untuk persiapan pengajian Nenek Saroh selama seminggu ke depan.


Talita menyandarkan kepalanya di samping pundak Tuan Adi. Tuan Adi pun mengusap pucuk kepalanya yang memakai hijab namun tak bercadar seperti dulu sebelum meninggalkan Tuan Adi.


Setelah beberapa menit, mereka sampailah di ruko.


Rukonya begitu sepi tak seperti tadi, orang-orang sudah meninggalkan ruko.


Pengajiannya akan di adakan sore ini.


"Endi, bagaimana persiapannya" tanya Tuan Adi


"Sudah semuanya Tuan, pas ustad dan kelompok pengajian juga sudah di undang Agung" jawab Endi.


"Baiklah, Nyonya Talita masih istrahat, jangan ada yang berbuat gaduh agar tidur istriku nyenyak. Apa semua makanan juga sudah di pesan semuanya ya?" tanya Tuan Adi lagi.


"Sudah Tuan, saya sudah pergi memesannya, mungkin sebentar lagi alam datang." jawab Endi.


"Baiklah, kamu istrahatlah dahulu, pasti kamu sangat kecapean mengurus di sini, nanti aku siapkan bonus untukmu"


"Trima kasih Tuan, jangan lupa buat temanku juga Tuan"


"Itu pasti, aku sangat puas dengan kerjamu, kamu akan saya ajak kerja di perusahaanku begitu juga dengan temanmu"


"Trima kasih Tuan" jawab Endi dengan senyum merekah di bibirnya.


TBC....

__ADS_1


__ADS_2