
Tuan Erik langsung menarik Talita jatuh ke pelukannya.
Tak membuang kesempatan Tuan Erik langsung mengerayangi Talita.
Talita merasakan sensasi luar biasa, berbeda dari yang di lakukan Om Felix, jika dengan Om Felix hanya kesakitan saja yang di rasakan Talita.
"Ahh... " hanya suara Talita yang menggema di ruangan yang tak begitu besar.
Tuan Erik tak tahan langsung di raihnya Talita dan tak lama langsung melakukan penyatuan.
Jleebbb....
Tuan Erik terkejut, dia tak menyangka Talita sudah tak perawan lagi.
Di hempaskan Talita ke samping tubuh Tuan Erik.
"Breng*sek, ternyata barang bekas yang di kasih padaku!" teriak Tuan Erik.
Di ambil dan di raihnya ikat pingganggnya.
Srreeettt... di cam*bukkan ikat pinggang di tubuh Talita.
"Awww... sakit tuan" rintih Talita sambil meleleh air matanya.
hiks...
"Katakan, siapa orang yang pertama mendapatkanmu!" teriak Tuan Erik.
"Kurang ajar Madam Ira, ternyata barang bekas di kasihkan padaku!" geram Tuan Erik lagi.
Sreett... dicam*bukkan lagi ke bagian kaki Talita.
"Ampun tuan, ampun, aku tidak bersalah, aku di perk*osa ayah tiriku"
Sreett...
"Aku tak percaya, kamu pasti telah berbohong kepada Madam kalau kamu masih pera*wan"
"Ampun tuan, Madam tidak pernah bertanya padaku tuan, aku hanya korban yang di jual ayah tiriku kepada Madam Ira"
Arrghhhhh...
Erik melempar ikat pinggangnya dan menarik rambutnya frustasi dengan apa yang di rasakannya, dia sudah rela membayar 20 juta hanya untuk bermalam dengan Talita, tapi yang di dapatnya hanya barang bekas.
"Sekarang pu*askan aku!" ucap Tuan Erik sambil menarik kasar rambut Talita.
Talita tak berdaya, bukan hanya fisiknya yang sudah sakit tapi batinnya lagi.
Malam itu entah berapa kali Tuan Erik meminta di pu*askan, tubuhnya Talita sudah remuk tapi Tuan Erik belum pu*as juga.
Area intimnya Talita sudah sakit tapi tetap saja Tuan Erik memaksanya.
Mau tak mau Talita harus menurutinya, jika tidak Tuan Erik akan mencam*buknya lagi.
Setiap Talita menolak, Tuan Erik akan mengambil ikat pinggangnya dan mencam*buknya.
Talita pasrah walau tersiksa tapi harus di lakukan memuaskan Tuan Erik. Talita tersiksa sedangkan Erik merasakan nik*mat yang berulang-ulang hingga pagi menjelang.
Setelah Tuan Erik tertidur barulah Talita bisa berhenti melayani Tuan Eriknya.
Sehingga Talita tertidur juga di samping Tuan Erik.
Talita pasrah akan nasibnya, dalam pepatah sudah jatuh tertimpa tangga juga.
__ADS_1
Siang hari Talita bangun dari tidurnya. Di lihatnya Tuan Erik masih terbaring dengan dengkuran halus di samping Talita.
Talita berjalan terseok-seok ke dalam kamar mandi.
Talita ingin membersihkan tubuhnya yang lengket semalaman melayani Tuan Erik.
"Adduuhhh..." rintih Talita.
Perih sakit di sekujur tubuhnya.
Di lihatnya di kaca kamar mandi, di bagian punggungnya biru lebam terpajang nyata akibat sabetan ikat pinggang Tuan Erik.
"Ibuuuu... Ayaahhh... maafkan Talita bukan menjadi orang yang baik, hiks! hiks" Tangis Talita melihat tubuhnya yang banyak kissmark dan sabetan ikat pinggang.
Talita pun menangis di bawah kucuran air pancur di dalam kamar mandi.
Bughhh....
Terbukanya pintu kamar mandi, di buka dengan kasar oleh Tuan Erik.
"Oh.. di sini ternyata ja*langku"
"Ayo, pu*askan aku lagi di sini!"
"Tuan aku mohon! aku sudah tak sanggup lagi"
"Apa kamu bilang!, oh.. jadi kamu memilih untuk aku cambuk lagi, begitu!," Teriak Tuan Erik.
"Bukan begitu tuan, berikan aku istirahat walau hanya sebentar, aku janji, aku akan memuaskan Tuan, asal aku istirahat sebentar saja" ucap Talita sambil menghiba kepada Tuan Erik.
Tuan Erik tak mau tau, dia pun keluar dari kamar mandi dan mengambil ikat pinggangnya kembali.
Sreettt...
Sreettt...
hiksss....
Talita hanya pasrah.
Setelah 30 menit akhirnya Tuan Erik merasakan kepuasan dan langsung mandi setelah itu meninggalkan Talita yang tubuhnya lebam dan membiru.
Talita menangis di sudut kamar mandi.
Talita melihat tubuhnya penuh kebiru-biruan.
"Ya Tuhan, aku tak sanggup hidup, masihkah ada harapan untukku yang sudah kotor ini" suara rintihan Talita yang sangat pilu.
***
Tuan Erik langsung menuju ruangan Tante Ira.
Brukk...
"Kembalikan uangku"
Tante Ira terkejut dengan permintaan Tuan Erik.
"Apa maksudmu?"
"Kembalikan uangku, kau bilang barang yang kau kasih masih segelan tapi ternyata sudah barang bekas"
"Apa??"
__ADS_1
"Dasar Felix, kamu sudah membohongiku, sudah mati pun tetap membuatku marah" gumam Tante Ira di dalam hati.
"Aku tak tau kalau dia sudah tak perawan, tolong jangan ambil uangnya lagi"
"Aku tak sudi, dan tak mau tau, pokoknya uangku harus di kembalikan"
"Aku hanya akan mengembalikannya separuh, aku tau kamu pasti sudah bermalam dan sudah di layani Talita"
"Oke, mana uangnya!," bentak Tuan Erik.
"Sabar, aku ambil dahulu,"
Tante Ira bergegas ke brangkasnya, dan mengambil uang segepok 10 jutaan.
"Ini, aku harap kamu tetap akan sering ke sini jika ada barang bagus"
"Oh, kalau itu sudah pasti"
Tuan Erik langsung meninggalkan Tante Ira yang geram atas Talita yang sudah tak perawan.
Tante Ira bergegas menuju ke kamar Talita.
"Talita! Talita!," teriak Tante Ira.
Tante Ira mencari Talita di dalam kamar tapi tak di temukan.
Seketika Tante Ira masuk ke dalam kamar mandi.
Di lihatnya Talita yang tak berdaya.
Bukannya prihatin malah Tante Ira menarik rambut Talita dengan sangat kencang.
"Sakit, Madam, sakit" rintih Talita.
"Sakit?! lebih sakit hatiku ketika uangku di ambil lagi"
"Kamu hari ini tak ada jatah makan, jangan keluar dari kamar ini, aku tak sudi melihat tubuh kotormu itu" ucap Madam Ira sambil melepas dengan kasar tarikan rambut Talita.
Tante Ira meninggalkan Talita yang sedang menangis pilu.
Tante Ira bahkan tak ada rasa simpati sama sekali melihat tubuh Talita yang membiru.
"Tobat, itu memang pantas untuk wanita sepertimu, sudah aku rawat malah menyusahkan aku" ucap Tante Ira meninggalkan Talita dengan tawa simrik di bibirnya.
Talita hanya menangis menahan sakit, mau teriak tenaganya sudah habis terkuras.
Hanya lelehan air mata yang menetes terus di pipinya.
Talita bukannya sakit di badannya saja tapi batinnya juga.
Hari ini dia berpuasa makan lagi, akibat hukuman yang bukan kesalahan Talita.
Talita tak berdaya, pada siapa dia akan meminta pertolongan.
"Ayah, Ibu, jemputlah Talita," rintih Talita dengan air mata yang menetes semakin deras di pipinya.
Pasrah.
Itu saja yang harus di lakukan Talita.
Sekujur tubuh Talita melebam, ia tak kuat dengan sakit yang ada di tubuhnya. seketika Talita pingsan di dalam kamar mandi.
TBC....
__ADS_1