Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 31


__ADS_3

Setelah itu Talita pergi ke kamarnya, dia menarik nafas dalam-dalam.


Malam ini dia harus melayani beberapa orang lagi seperti sebelumnya.


Jika pekerjaan ini halal, pasti Talita akan senang rasanya. Tapi ini pekerjaan yang kotor bahkan sangat di larang oleh agamanya.


Mendekati zina saja sudah tak boleh apalagi sudah berzina.


"Astagfirulloh"


Hanya itu yang sering di ucapkan Talita, entah bisa menghapus dosanya atau tidak. Namun Talita tak pernah berhenti untuk memohon ampun kepada sang khalik.


Talita duduk di depan kaca meja hiasnya. Dilihatnya wajahnya yang cantik.


Kecantikannya bagai petaka yang harus di syukuri.


Talita tak ingin menyesal dengan takdir yang di jalaninya, bagi Talita pasti ada hikmah di balik cobaan yang dia jalanin sekarang ini.


Talita menyisir rambutnya yang tebal panjang menghitam. Dia tak ingin mewarnai rambutnya bahkan lebih terlihat alami memang lebih baik.


Tok! tok! tok!


Talita melangkah membukakan pintunya.


Talita melihat Madam Ira menggandeng seorang laki-laki yang paruh baya.


Mungkin kalau di lihat umurnya sudah 4 kali umur Talita sudah seperti kakeknya Talita.


"Madam, masuklah"


"Nggak usah sayang, ini tamu kamu hari ini, namanya kong Arya, lebih baik kalian bersenang-senanglah"


"Baiklah, Madam"


"Kakek, masuklah" ucap Talita mempersilahkan Kakek tua itu.


"Kamu emangnya umur berapa?"


"Aku umurnya 16 tahun kek,"


Kakek itu tersentak, tak menyangka umur baru beranjak remaja sudah bekerja sebagai pemuas nafsu hidung belang.


Kakek menangis seketika, dia sedih mengingat Talita seumuran cucunya yang lagi beranjak remaja.


"Hiks, cucuku... cucuku"


Talita kaget dengan Kakek menangis seketika memanggil cucunya.


Kakek membayangkan bagaimana nasib cucunya jika sudah tak ada siapa pun dan malah bekerja seperti Talita.


"Nak, ini upahmu malam ini, Kakek janji padamu, malam ini adalah malam terakhir Kakek untuk datang ke club seperti ini"


"Ada apa kek"


"Kakek tidak apa-apa nak, ingat! jangan kamu bukakan pintu untuk orang lain lagi, Kakek sudah membayarmu semalaman"


"Trima kasih kek, apa boleh saya memeluk kakek untuk menghilangkan kerinduan saya kepada Almarhum Ayah"


"Iya nak, sini" ucap Kakek Arya.

__ADS_1


Kakek Arya membukakan tangannya lebar-lebar, Talita berlari ke arah pelukan Kakek Arya.


Kakek Arya membelai rambut Talita seolah-olah dia membelai rambut cucunya.


Talita menangis tersedu-sedu di pelukan Kakek Arya, Talita menangis seketika.


"Om, trima kasih, malam ini juga, malam keduaku tidak melayani siapapun, trima kasih kek" ucap Talita sambil terisak.


Kakek Arya melepas pelukannya kepada Talita. Dia memegang kedua pundak Talita. Lalu menyerahkan cek senilai uang 30 juta.


"Sama-sama ***, Kakek sebelumnya sudah membayarmu di madam Ira, tapi ini uang untuk simpananmu sendiri"


"Tapi Kek...,"


"Jangan menolak ***, ini rezekimu sendiri walau kau tak melayaniku"


"Gunakan uang ini untuk keperluanmu jika kamu bisa keluar dari tempat ini"


"Aamiin, semoga aku bisa cepat keluar dari tempat ini kek"


"Aamiin, Kakek pergi dulu ya. Jangan lupa kunci pintunya"


"Baiklah kek, aku akan mengunci pintunya"


Kakek Arya langsung keluar dari kamar Talita, dia sudah langsung tobat, karena melihat Talita bak seumuran cucunya yang lagi beranjak remaja.


Talita bersyukur dan lega, malam ini seperti malam sebelumnya bisa tidur nyenyak tanpa ada gangguan siapapun.


Sebelum tidur Talita sholat Isya setelah itu membaringkan tubuhnya di kasur empuknya.


***


Keesokan harinya Talita bangun dengan badan yang segar bugar, wajahnya cerah karena sudah 2 hari ini dia tdk pernah melayani seorang pria hidung belang.


Talita melirik jam dinding menunjukkan pukul setengah 5, dia pun segera bangun dari tidurnya dan membersihkan dirinya untuk sholat shubuh.


Talita segera melaksanakan sholat shubuh, dia hanya bisa berdo'a agar segera keluar dari tempat ini.


Talita tak ingin berlama-lama di tempat ini, Talita sudah beberapa kali melarikan diri tapi tetap saja bisa tertangkap karena anak buah Madam Ira begitu banyak.


Talita hanya menyerahkan segalanya kepada sang khalik, agar dia bisa terbebas dari kubangan lumpur dosa di tempat ini.


Setelah Talita sholat, dia pun mengaji tapi hanya di dalam hatinya, karena tak mungkin mengaji dalam suara keras di kamar club cinta ini.


Talita tak pernah berhenti berharap dan berdo'a, semoga ada keajaiban dari yang maha kuasa untuknya.


Setelah mengaji 1 jus amma, Talita segera membaringkan tubuhnya.


Talita bersyukur uang saat ini ada uang halal yang di dapat dari Pak Fadly dan Kakek Arya. Dia segera menyimpan cek itu di tempat bedaknya.


Talita berharap Madam Ira tak menemukan cek itu, agar setelah dia keluar dari tempat ini. Talita berencana untuk membuka usaha atau paling tidak dia punya modal untuk membuka usaha.


Tok! tok! tok!


"Iya, sabar"


Talita membuka pintu kamarnya.


Plak!!

__ADS_1


"Madam" Talita meringis memegang pipinya.


"Kamu apa-apaan, apa yang kamu perbuat kepada Kakek Arya"


"Apa salah saya, Madam" ucap Talita sambil air matanya meneted di pipinya.


"Apa yang kamu lakukan kepada Kakek Arya"


"Aku tak melakukan apapun madam, hiks"


"Sumpah, aku melayaninya dengan baik"


"Kalau kau melayaninya dengan baik, mengapa dia tak ingin datang lagi ke tempat ini"


"Aku juga tak tau Madam, semalam Kakek Arya menanyakan berapa umurku dan aku mengatakan yang sebenarnya"


"Hikss"


Madam Ira menarik rambut Talita.


"Bohong"


"Mulai saat ini, kamu yang harus melayani setiap orang yang datang"


"Ampun Madam, ampun, jangan lakukan itu kepada saya"


"Dasar, kamu sudah membuatku marah, gara-gara kamu, aku kehilangan mangsa besarku"


"Kau tau!," bentak Madam Ira.


"Tolong Madam, ampun, aku janji tak akan berbuat seperti semalam lagi"


Madam Ira melepas remasan di rambut Talita.


"Aku tak mau tau, mulai malam ini, kamu harus melayani 10 orang dalam semalam, Paham!"


"Pa...ham Madam, hikss" ucap Talita sambil meleleh deras air matanya.


Madam Ira segera meninggalkan Talita.


Kinan yang mendengar Talita di marahi Madam Ira Tersenyum riang di dalam hatinya.


Kinan bahagia melihat Talita di marahi Madam Ira. Dia pun langsung menghampiri Talita.


"Emang enak di marahi, makanya kerja yang bener"


Talita tak memperdulikan perkataan Kinan, Dia pun segera menutup pintu kamarnya.


"Hiksss... hikss"


Talita menangis menyandarkan tubuhnya di balik pintu.


Seketika tubuhnya tak bisa menopang tubuhnya. Tubuhnya melorot ke bawah dengan suara tangis yang semakin kencang.


"Ya Tuhan, kapan penderitaanku cepat berakhir" pinta Talita dalam hatinya.


"Ya Tuhan, berikan aku kekuatan dan kesabaran dalam menjalani hari-hariku, Engkau adalah kekuatanku"


"Ayah, Ibu, aku tak sanggup tanpa ada kalian di sini, mengapa kalian terlalu cepat meninggalkan aku sendiri, hiks" ratapan Talita sangat menyayat hati, tapi siapa yang akan menolongnya??

__ADS_1


Hanya Tuhanlah yang tau jalan hidup Talita.


TBC...


__ADS_2