Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 51


__ADS_3

Talita badannya sudah kembali fit, dia sudah tak menggunakan kursi roda lagi.


Dia pun menuju ke lantai atas untuk melihat suaminya.


"Mas, kamu mau mandi?" ujar Talita yang wajahnya yang merah merona.


Hari ini pertama kali dia akan merawat suaminya, wajarlah Talita begitu malu mengungkapkannya.


"Apa kamu tak keberatan memandikan aku?"


Tuan Adi menetap lekat mata coklat milik Talita, dia ingin mencari tau ketulusan Talita dari sorot matanya.


DEG.


Talita mantap menyatakan apa yang di hatinya, walau ada rasa gugup tapi dia berusaha untuk mengatasinya.


Talita menggenggam tangan suaminya.


"Mas, aku sudah berjanji, aku akan selalu mengabdikan diriku pada suamiku. Aku akan tulus merawatmu"


Seketika air mata Tuan Adi luruh juga, dia yang begitu lemah duduk di kursi roda, langsung mencium tangan istrinya.


"Trima kasih sayang, aku bodoh telah menyia-nyiakanmu selama ini bahkan sempat menyakitimu" ujar Tuan Adi dengan deru nafas memburu, dia begitu tersentuh dengan perlakuan istrinya hingga tetes demi tetes air mata terus membasahi pipinya


"Kita sudah berjanji untuk melupakan masa lalu dan sekarang adalah masa depan kita berdua, asal mas sabar atas cobaan yang Allah beri, in syaa Allah kita akan kuat menjalani cobaanNya" imbuh Talita.


"Mas, jangan putus asa untuk sembuh. Aku akan selalu mendampingi mas dalam masa sekarang sampai maut memisahkan kita"


"Trima kasih sayang, terima kasih telah hadir di hidupku, kau adalah berlian yang terjebak dalam lumpur dan aku sangat beruntung bisa memilikimu. Kita akan sama-sama memberi kekuatan satu sama lain. Aku akan berusaha untuk sembuh dan kita bangun keluarga utuh yang sakinah mawaddah warahmah"


"Aamiin, ayo. Aku antar ya?"


Tuan Adi hanya menganggukkan kepalanya. Talita pun mendorong kursi roda menuju ke kamar mandi. Seketika Talita meneteskan air mata mengingat perjuangan dirinya ketika ibunya sakit dahulu.


"Yaa Raab, aku harus kuaat seperti dahulu, jangan kau rapuhkan hatiku." batin Talita di dalam hati.


Talita dengan telaten memandikan suaminya, dia pun mengabaikan apa yang berdiri tegak di hadapannya.


Walau ada rasa malu, namun di dalam hatinya hanya ingin menjadi istri yang berbakti kepada suaminya.


Tuan Adi yang mendapat sentuhan-sentuhan lembut, ingin rasanya tenggelam dalam kenikmatan yang harus dia abaikan.


"Sayang, bolehkah aku...." ucapan Tuan Adi seolah tercegat di tenggorokan.


Talita yang sangat paham apa yang diinginkan suaminya. Dia pun memenuhi apa yang harus di lakukan.


Talita yang sudah piawai menyenangkan seorang laki-laki pasti memberikan titik-titik sensitif menuju kesenangan duniawi.


Cukup lama, sampai akhirnya mereka sama-sama menuju puncak pendakian yang akhirnya membuat mereka lelah.


"Ah..... I love you Talita"

__ADS_1


Tuan Adi bersyukur ternyata apa yang di katakan dokter jika dia telah sembuh total dari penyakitnya terdahulu memang benar-benar terbukti sekarang ini.


Akhirnya mereka berdua mandi bersama membersihkan sisa-sisa percintaan yang telah 4 bulan mereka lewati.


"Sayang, biar aku yang menyabuni tubuhku saja. Ntar dia minta lagi kasian" goda Tuan Adi sambil tersenyum simpul, sambil melampilkan deretan giginya yang putih bersih.


"Ish, mas. bilang aja minta nambah" cela Talita sambil memukul lembut lengan suaminya.


"Aww.. sakit. minta nambah boleh?" ucap Tuan Adi sambil menaik turunkan alisnya.


"Boleh, asal sembuh dulu" goda balik Talita.


"Ish, ish, ish... tega banget sama mas? oke baiklah. Kalau sudah sembuh, mas mau minta harus di rapel ya?"


"Di rapel?" tanya balik Talita.


"Iya, hitung saja selama 3 bulan belum lagi maunya dobel tapi belum boleh, ntar dihitung ada berapa semua harus kamu bayar dong sama mas, setelah mas sembuh" terang Tuan Adi.


"Pokoknya sembuh dulu, jangan mikir aneh-aneh deh"


"Janji dulu dong sayang, biar mas semangat untuk sembuh karena ada motivasi dari kamu"


"Iya, aku janji, cepet mandi kasiannya adeknya kedinginan, aku mau ganti baju dulu"


Talita pun segera beranjak dari kamar mandi, takutnya hilap lagi seperti barusan.


"Adek yang mana kedinginan sih yang, awasnya mulai nakal lagi" teriak Tuan Adi dari dalam kamar mandi.


Talita pun hanya tertawa dan segera berjalan secepatnya untuk mengganti pakaiannya.


Tuan Adi yang ingin mengerjai istrinya segera berteriak.


"Awww...."


Belum semua pakaian Talita yang di pakai mendengar suaminya berteriak langsubg terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas, ada.... "


Ucapannya terpotong karena Talita yang melihat suaminya yang sedang menahan tawa langsung paham jika dirinya sedang di kerjai.


"Ish, cepetan mandi mas, nggak usah banyak bercanda lagi" ucap Talita dengan mulutnya mengerucut.


"Gemesin istrinya Mas deh" gumam Tuan Adi.


"Mandikan boleh" melas Tuan Adi.


"Iya, iya, tapi jangan sampe kayak tadi ya?"


"Nggak Janji"


"Ya udah, aku ke luar dulu"

__ADS_1


"Eh, eh... iya iya. Asal mandikan ya. Mas janji tak seperti tadi. tunggu saja sembuh mas nanti bakalan nagih"


Ucapannya Tuan Adi membuat wajahnya merona.


Talita pun segera memandikan Tuan Adi. Tatapan mesra terus diberikan Tuan Adi menatap istri mungilnya.


Hanya butuh 5 menit, Talita telah selesai memandikan suaminya.


Sentuhan lembut di berikan Tuan Adi di perut Talita yang mulai sedikit menonjol.


"Sehat-sehat ya sayang"


"Geli mas,"


"Biarin sayang, kan barusan nengok"


"Iya paham, tapi kalau begini bisa hilaf lagi"


"Nggak apa-apa hilaf, kan hilafnya enak"


"Iya itu memang maunya mas, bukan mau ku ya?"


Talita pun segera memakai pakaiannya yang sempat tadi dia lupa pakai.


"Saayangg" melas Tuan Adi dengan cemberut.


"Pakai baju dulu, sebentar lagi orang-orang akan datang pengajian. belum sholat magrib lagi"


"Iya deh," ucap Tuan Adi mengalah.


Mereka berdua pun segera melaksanakan kewajiban sholat magrib.


Tuan Adi sangat bersyukur, keluarga kecilnya mulai terbentuk lagi.


Di dalam do'anya dia hanya berharap bisa segera sembuh dan menjadi suami Talita yang sangay bertanggung jawab dan bisa membahagiakan Talita selamanya.


Setelah itu Talita memanggil Endi untuk membantu Tuan Adi turun ke lantai 2. maklum di ruko ini hanya ada tangga tak ada lift.


Endi pun dengan senang hati membantu Tuan Adi.


Mereka semua menunggu orang-orang datang kepengajian Nenek Saroh.


Tuan Adi tak pernah melepas tangan istrinya yang ada di sampingnya sambil menatap mesra.


Kejadian barusan masih sering menari-nari di alam bawah sadarnya sehingga bibirnya melengkung ke atas menandakan begitu bahagianya bisa memiliki Talita kembali di sampingnya.


Talita pun sekali-kali memberikan senyuman mesra kepada suaminya. Apa yang terjadi barusan pun masih sering terbayang di pikirannya Talita.


Ah.. bahagianya.


"Yaa Raab, semoga aku selalu bahagia" batin Talita di dalam hatinya.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2