Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 33


__ADS_3

"Alhamdulillah"


Itulah kata yang di ucapkan Talita setelah memasuki mobil, pagi ini Talita di jemput oleh asistennya Pak Adi.


Setno menutup pintu mobil dan langsung membawa Talita.


Talita tak tau akan di bawa kemana, bagi Talita tak masalah mau di bawa kemana asal memang Talita sudah di janjikan menjadi istri Tuan Adi.


Talita terperangah setelah memasuki rumah yang sangat besar dan mewah. Mungkin tak pantas di sebut rumah tapi seperti mansion.


Talita memasuki halaman pekarangan, setelah sampai di teras depan. Mobil berhenti dan Asistennya Tuan Adi membukakan pintu untuk Talita.


"Terima kasih" ucap Talita.


Sang Asisten hanya mengangguk dan mempersilahlan Talita untuk masuk ke dalam rumah.


Talita cukup kikuk dengan keadaan di dalam rumah.


"Assalamu'alaikum" ucap Talita memberi salam, namun tak ada balasan dari para pelayan. Mungkin mereka menjawab dari dalam hati.


Talita terus berjalan.


Para pelayan telah berjejer seperti menyambut tamu besar.


Talita memberi senyuman kepada semua pelayan yang di lewatinya.


Setelah sampai di ruang keluarga, di lihatnya Tuan Adi sedang duduk membaca koran.


"Mas Adi,"


"Bagaimana perjalanan kamu kesini?"


"Nyaman mas, mas kok tidak menjemputku?"


"Apa bedanya asistenku atau aku yang menjemputmu, yang terpenting kamu sudah keluar dari tempat itu" sarkas Tuan Adi dengan suara mengelegar.


Talita tersentak.


Talita lebih baik diam saja dari pada nanti Tuan Adi akan marah.


"Nanny, tolong bawa wanita ini ke kamarnya. Besok persiapkan dirinya untuk pernikahanku dengannya. Paham"


"Baik, Tuan"


Talita pun mengikuti wanita paruh baya, mungkin kalau tidak salah umurnya seperti ibunya.


"Nyonya, ini kamarnya. Besok baru MUA akan datang merias Nyonya"


"Panggil aku Ita, Semua orang memanggil aku dengan Ita atau Talita"


"Tapi.. tidak baik memanggil nyonya seperti itu. nanti tuan akan marah" ucap Nanny.


"Kalau di depan Tuan, Nanny bisa memanggil saya nyonya. Tapi jika kita hanya berdua, apa bisa Nanny memanggil saya Talita atau Ita. Umur Nanny sudah seperti Ibu saya. Tak elok jika Nanny memanggil saya seperti itu"


"Baiklah Nyonya, eh Nak Ita. Apa bisa saya panggil Nak Ita"


"Trima kasih Bu," ucap Talita sambil memeluk sang Nanny.

__ADS_1


Nanny membelai rambutnya, dia juga teringat akan anaknya yang jauh darinya.


"Istirahatlah Nak, Aku mau ke bawah menyiapkan makan siang dahulu"


Talita melepas pelukannya dan tersenyum.


Setelah Nanny itu pergi, Talita mengucapkan syukur atas hari ini. Talita bisa bertemu orang-orang yang baik.


Talita segera melihat cek yang di simpannya di tempat bedaknya.


"Alhamdulillah, ternyata masih ada"


"Jika aku bisa keluar dari sini, aku akan sempatkan untuk mencairkan cek ini" gumam Talita dalam hati.


Dia pun membaringkan tubuhnya di kasur empuk.


Tok! tok! tok!


Talita segera bangun dan membuka pintunya.


"Ma.. Mas Adi" ucap Talita terbata karena kaget Tuannya datang ke kamarnya.


"Bagaimana, kamu senang dengan kamarmu"


"Alhamdulillah, saya senang Mas"


"Trima kasih untuk semuanya"


"Ya.. ya.. ya.. tapi semuanya tidak gratis ya" ucap Tuan Adi dengan simricknya.


"Iya Mas, besok kan aku jadi istrimu"


Talita hanya mengangguk sambil menundukkan pandangannya. Dia tak berani menatap wajah tampan Mas Adi.


Mas Adi langsung meninggalkan Talita, Talita mengusap dadanya.


Degub kencang di dadanya masih sangat terasa. Talita berharap ini adalah lembaran baru untuknya kedepannya.


Talita kembali membaringkan tubuhnya.


Besok Talita akan menjadi Nyonya Adi Prakoso, apakah dia sanggup untuk menjalankan rumah tangga dengan orang yang baru sehari di kenalnya.


Talita berjanji di dalam hati, ini adalah pernikahan yang pertama dan terakhirnya. Walau dia tak begitu tau sifat dan tingkah laku Mas Adi, dia akan tetap bertahan.


****


Keesokan harinya.


Hari ini Talita di dandani dengan cantik.


Talita bahagia sekaligus sedih.


Talita sedih karena harusnya ada yang mendampinginya. Tapi apa boleh buat dia tak punya sodara bahkan kedua orang tuanya sudah meninggal.


Talita bahagia karena hari ini lembaran barunya telah di mulai. Dia ikhlas menjadi seorang istri duda tampan, walau baru 3 hari di kenalnya.


Dia sempat bertanya tentang kehidupan sang duda kepada Nanny, tapi Nanny mengatakan dia tak berani mengatakannya.

__ADS_1


Nanny hanya berpesan agar Talita sabar dalam menjalani rumah tangganya nantinya.


Untuk soal sabar, Talita sudah terlatih sabar dari dia di tinggalkan sang Ayah. Jadi untuk sekarang ini kalau di suruh menjadi sabar. Itu sudah biasa bagi Talita.


Ruangan di rumah itu sudah di sulap sedemikian megah.


Talita tak menyangka akan di buatkan pesta begitu besar di rumah ini.


"Kamu sudah siap?" ucap Tuan Adi.


"In Syaa Allah" balas Talita dengan mantap sambil tersenyum sumringah.


"Cantik," batin Tuan Adi.


"Tapi maafkan aku, semoga kamu bisa sabar dengan kelakuanku, Semoga kamu orang yang selama ini aku cari" gumam Tuan Adi di dalam hatinya dengan penuh rasa sedih.


Mereka akan mengadakan ijab kabul di ruang tamu. Pak KUA dan Pak Ustad sudah menunggu kedatangan mereka berdua.


Setelah acara ijab kabul, akan di adakan resepsi yang hanya di hadiri kolega Tuan Adi. Acara tersebut sekaligus memperkenalkan Talita sebagai istrinya Tuan Adi.


Sungguh Talita tak menyangka akan di buatkan acara seperti ini. Pikirannya Talita mereka hanya akan merayakan pernikahannya secara sederhana.


Talita melangkah berbarengan bersama Tuan dan diikuti para Art.


Mereka berdua duduk di kursi yang telah di sediakan.


Pak Ustad pun membaca doa sebelum akad nikah, dilanjutkan pembacaan surat Al'imran dan tibalah waktu yang di tunggu-tunggu oleh semuanya.


Pak Ustad memegang tangan Tuan Adi seperti orang yang sedang berjabat tangan.


Tuan Adi menarik nafasnya dengan perlahan-lahan.


"Saudara Adi bin Prakoso, aku nikahkan dan aku kawinkan saudara, dengan anakda Talita Kusumaningrum binti Kusuma dengan mas kawin seperangkat alat solat dengan emas 100 gram dan uang tunai 5 milliar di bayar tunai"


"Saya terima nikah dan kawinnya Talita Kusumaningrum bin Kusuma dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"


"Bagaimana para saksi?"


"Sah"


Alhamdulillah


Ucapan itu menggema di ruangan, semua begitu hidmat mengikuti setiap prosesi ijab kabul.


Semua prosesi telah di jalankan Tuan Adi, dari do'a, ucapan sighat Taklik, tanda tangan di buku KUA sampai dengan foto bersama.


Setelah itu di lanjutkan dengan resepsi yang di hadiri teman kantor sekaligus para koleganya.


Mereka bergantian mengucapkan selamat kepada Talita dan Tuan Adi.


"Istrimu cantik dan masih muda, Adi"


Tuan Adi hanya memperlihatkan eskpresi biasa saja, ya memang Tuan Adi sedikit dingin.


Tapi sebetulnya di dalam hatinya memang mengiyakan apa yang di katakan koleganya.


Akhirnya akad dan resepsinya berjalan dengan lancar dan terpancar rona bahagia di wajah Talita.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2