Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 44


__ADS_3

Pingkan bertanya-tanya dalam hati, siapa suami Talita. pasti orsngnya sangat berpengaruh sehingga kemanapun Talita pergi di awasi seperti tadi.


Pingkan berfikir Talita sangat beruntung, bisa mendapatkan orang yang kaya bahkan menyayangi Talita, tapi mengapa Talita meninggalkan suaminya di saat ini.


Tak ingin berlama-lama Pak Wandi dan Pingkan pindah dari rumah sewanya. Mereka berencana uang 10juta untuk menyewa tempat jualan.


Endi masih mengawasi Pingkan dan Ayahnya. Dia harus memastikan jika Pingkan dan Ayahnya benar-benar pergi dari kehidupan Talita.


"Bagaimana Nak, sudah selesai semuanya" tanya Pak Wandi kepada Pingkan.


"Sudah yah, kan memang hanya sedikit saja baju kita dan ini barang-barang semua punya orang yang kita sewa rumahnya"


"Rencananya kamu mau kemana Nak,"


"Kita pergi ke surabaya saja Yah, siapa tau di kota baru kehidupan kita akan berubah"


"Tapi uang ini, kurang"


"Tenang saja Yah, aku akan minta lagi kepada Endi kalau memang dia ingin kita pergi"


"Ide yang bagus"


Setelah mereka membawa tas, mereka kembali menemui Endi.


"Endi, aku ingin kamu menambah uang saku kami, uang 10 juta hanya untuk beli tiket kami ke Jakarta"


"Sabar kalau begitu, aku telepon Bos dulu"


"Mintalah uang 40juta lagi, uang itu sekalian untuk aku dan Ayahku memulai bisnis"


"Kartu kalian itu padaku, kalau kalian meminta banyak lebih baik aku serahkan video ini ke kantor Polisi"


"Eh, eh jangan, baiklah minta 10 juta lagi saja, aku rasa suami Talita orang kaya, pasti sanggup membayar uang segitu"


"Baiklah,"


Drreeettt...


Bunyi Handphone Setno.


Setno yang berada di tengah jalan menghentikan mobilnya.


"Ada apa Endi"


"Ini Bos, Pingkan minta uang 10juta lagi. Katanya Uang 10 yang pertama untuk beli tiket ke Jakarta sedangkan 10 juta yang di minta lagi untuk menopang kehidupan mereka nanti"


"Baiklah, akan aku transfer"


Setno pun mematikan handponenya dan mengetik-ngetik sesuatu di handphonenya.


Tring...


Bunyi Notifikasi di handphone Setno, artinya transferannya telah berhasil.


Dia pun mengirimkan pesan kepada Endi. Dan melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan.


Setno semenjak di beri kepercayaan mengelola keuangan dan perusahaan Tuan Adi begitu jujur dan telaten membantu bosnya.


Bahkan Setno menganggap Tuan Adi adalah Kakaknya yang patut di bantu dan di tolong. Dia tidak pernah berhianat atau sekedar mengambil uang yang bukan haknya. Jika dia perlu, maka dia akan pamit kepada Tuan Adi.


Selama ini Tuan Adi tak pernah mempermasalahkan pengambilan uangnya di luar kebutuhan Setno.

__ADS_1


Tring.


Pesan masuk di handphone Endi.


"Ayo kita ke bandara, dan mengambil uang 10 juta di bank saja. Aku harus memastikan kalian pergi dari kota Ini atau aku transfer saja di rekeningmu Pingkan"


"Baiklah,sebutkan no. hpmu agar aku bisa mengirim pesan kepadamu"


"08525400*****"


Tring.


Pesan masuk di Handphone Endi, dia melihat pesan nomor rekening Pingkan.


Dia pun mengirim uang lewat sms banking dan tak lama pesanpun masuk di handphone Pingkan.


Uang 10 juta yang mereka minta akhirnya bertengker di rekening Pingkan.


"Ayo cepat aku antar kalian ke bandara"


"Ayo ayah" ajak Pingkan kepada Ayahnya.


"Ayo Nak," balas Pak Wandi.


Mereka menaiki mobil yang di bawa Endi.


Di dalam mobil Pingkan sengaja memancing agar Endi menceritakan sosok suami Talita.


"Endi, sebenarnya seberapa kaya sih suami Talita itu"


"Mengapa dia membiarkan Talita pergi dari hidupnya, padahal orangnya itu sudah mengeluarkan Talita dari Club Cinta"


Endi yang mendengar kata Pingkan, enggan menjawabnya. Baginya kehidupan Bosnya tak perlu di umbar kepada orang lain


"Endi, tolong dong katakan"


"Maaf Pingkan, aku hanya pekerja. Aku tak tau menau dengan kehidupan Bosku"


"Emangnya kamu sudah berapa lama kerja dengan Bosmu" tany Pingkan lagi.


"Baru sebulan ini, yang pasti orangnya sangat baik. Mengenai Nyonya Talita mengapa meninggalkan suaminya, hanya Nyonya Talita yang tau"


"Bodoh banget Talita, di kasih kehidupan layak malah di tinggalkan"


Endi pun tetap tak bersuara dan enggan menjawab apa yang Pingkan katakan. Dia fokus membawa mobil sampai ke Bandara.


"Kira-kira aku bisa pamit kepada Talita nggak,"


"Sebaiknya kalian langsung pergi, tak usah bertemu Nyonya Talita"


"Turunlah, aku juga akan turun, aku akan mendampingi kalian sampai memang bener-bener meninggalkan kota ini"


"Huh, pelit banget kasih informasi" gerutu Pingkan seraya turun dari mobil Endi.


Diikuti sang ayah yang menyeret 2 koper menuju ke dalam bandara.


30 menit berselang, tiket mereka telah di pengang Pak Wandi dan Pingkan.


Mereka bertiga duduk di ruang tunggu,seraya menunggu keberangkatan mereka masih ada 30 menit lagi.


Dreett.

__ADS_1


Tak lama suara handpone Endi berbunyi. Dia melihat ada panggilan masuk Bos Setno dan dia memilih menjauhi Pingkan dan Ayahnya untuk mengangkat handphonenya.


"Hallo bos" Endi memulai percakapan


"Bagaimana apa mereka sudah berangkat," tanya Setno.


"Belum bos, ini masih 30 menit lagi. Aku lagi ada di bandara bersama mereka"


"Endi kamu cari seorang lagi khusus memantau Talita kemana pun dia pergi, sedangkan kamu khusus memantau keselamatan Nyonya"


"Baik bos, setelah dari sini, aku akan menyuruh orang lain memantau Nyonya"


"Sekarang Endi, kan kamu lagi di bandara. Siapa yang mengawasi Nyonya"


"Baiklah Bos, aku hubungi temanku dahulu"


Setno tak menjawab,dia hanya langsung mematikan sambungan teleponenya.


"Hampir saja lupa,suruhan Tuan Adi" gumam Setno.


Endi pun menghubungi sahabatnya Agung.


Dreett.


Tak lama.


"Halo Endi, ada apa"


"Agung, kamu bilang kamu butuh kerjaan. Aku punya kerjaan untukmu, tugasnya hanya mudah, sekarang kamu ke ruko Nenek Saroh, Awasi Nenek Saroh dan cucunya, jika cucunya pergi ke manapun kamu harus mengikutinya. Ingat, jangan sampai ketahuan"


"Bayarannya berapa dulu"


"Kami ini, belum kerja sudah tanya bayaran. Tenang saja bayaranya lumayan. 3 jt/ bulan bagaimana?"


"Wah, kalau segitu, aku juga mau"


"Kalau mau, langsung ke ruko sekarang juga"


"Oke kawan, trima kasih"


"Sama-sama Gung"


Endi pun memutuskan percakapannya dan segera menghampiri Pingkan dan Pak Wandi.


30 menit kemudian, penerbangan menuju surabaya telah di umumkan.


"Loh, katanya mau ke Jakarta" heran Endi.


"Iya, awalnya aku ingin ke Jakarta, tapi karena aku tak pernah ke sana, mending aku kembali ke kosku yang dulu di Surabaya"


"Yah sudah, asal jangan pernah kembali ke sini lagi"


"Tenang saja bos, aku pamit dulu, sampaikan salam penyesalan kepada Talita ya"


"Iya, nanti aku sampaikan" Ucap Endi basa-basi.


"Sampaikan maafku padanya"


"Iya cepatlah pergi, aku juga harus pergi dari sini"


Akhirnya Pingkan dan Ayahnya naik bus menuju pesawat yang akan mereka naiki.

__ADS_1


Setno pun segera meninggalkan Bandara menuju ruko milik Nenek Saroh dan Talita.


TBC....


__ADS_2