
Sekujur tubuh Talita sakit yang tak terhingga, sudah di cambuk di kurung di kamar mandi hingga pingsan sekarang tak di beri makan.
Tubuh Talita melemah, Tante Ira datang melihat Talita.
"Cuih... ****** masih saja bisa bertahan"
"Ampun Madam, aku salah apa"
"Masih bertanya salah apa?"
"Tapi, memang benar saya tak tau aku salah apa Madam?"
"Kamu itu berlagak masih perawan, akhirnya uang yang aku minta sama Erik malah di ambil lagi, hah!!"
Di tariknya rambut Talita dan Madam meludahi wajahnya Talita.
"Aku sudah merawatmu bak tuan putri, heh! Ternyata hanya barang bekas"
"Apa salahku Madam, aku tak bisa melawan atas kelakuan ayah tiriku"
"Ogh, si Felix nampaknya yang menipuku. emang dia brengsek, untung saja nyawanya sudah ku habisi"
Talita hanya bisa menangis, kulit kepalanya serasa akan tercabut bersama rambutnya.
Tapi Talita tak bisa berbuat apa-apa.
"Sekarang kau bersihkan semua toilet yang ada di club ini! Kau dengar!!" bentak Tante Ira.
"Dengar madam, baiklah,"
Talita berjalan sempoyongan, kakinya tak kuat menopang tubuhnya, sehingga baru beberapa langkah tubuhnya terjatuh.
Madam Ira berlagak seolah-olah tak melihatnya, bahkan Madam Ira hanya mendongkol dalam hatinya. Madam Ira menyesal telah memperlakukan Talita bak seorang ratu awal mula di temukannya Talita.
"Huh!, buang-buang uangku saja, coba kalau dulu tau kalau dia sudah tak perawan. Pasti sekarang sudah banyak tamu yang minat dan pasti aku sudah dapat uang banyak"
"Sekarang mau di suruh layani tamu, pasti tamu jijik dengan luka-lukanya" gumam Tante Ira sambil melihat Talita berjalan.
Tubuh Talita penuh lebam, sambil menunggu hilangnya luka lebam, Madam Ira menyuruhnya untuk menjadi pembersih kamar mandi dan toilet yang ada di club.
__ADS_1
Sekitar 50 kamar mandi yang harus di bersihkan, Club Cinta memang banyak kamar mandi karena setiap kamar pasti tersedia kamar mandi dan wc.
Club Cinta mempunyai 5 lantai dan setiap lantai ada 10 kamar.
Jika Talita telah selesai membersihkan semua kamar mandi dan wc, maka Talita bisa menyantap makanannya.
Setiap hari hanya itulah yang di lakukan Talita. Talita sabar menjalaninya. Dia bersyukur masih bisa makan.
Setiap pagi hari Talita bangun tidur jam 4 shubuh, dia segera melaksanakan sholat shubuh terlebih dahulu setelah itu dia mengerjakan pekerjaannya.
Teman-temannya melihatnya dengan mata sinis, ada yang bersyukur ada juga yang menghujatnya.
"Rasain, waktu awal saja saya sudah enek melihatnya" ucap Kikan ketika Talita membersihkan kamarnya.
Talita menulikan pendengarannya, dia tak mau melayani julid teman-temannya.
Baginya dia hidup saja sudah bersyukur dari pada melayani para tamu dan teman-temannya yang julid.
"Alhamdulillah, kerja hari ini selesai juga"
Talita melihat jam dinding ternyata sudah jam 3 sore. Dia pun segera ke bagian dapur untuk makan.
Talita tak pernah mengeluh, baginya inilah jalan hidup yang harus di laluinya. Dia tak boleh mengeluh atau menangisi kehidupannya selama ini.
Bagi Talita Setiap hari adalah berkah, karena dia hanya bekerja saja, tak pernah melayani tamu yang datang di club cinta.
Talita hanya menjalankan apa yang Madam Ira katakan, asal Talita tidak di siksa itu adalah harapannya Talita.
Tapi Harapan hanya tinggal harapan, walau sudah membersihkan semua yang di perintahkan Madam Ira, ada-ada saja yang membuat Madam Ira menyiksa Talita.
Seperti sekarang ini.
"Heh! kamu harus mengepel lantai ini sebersih mungkin"
"Baik, Madam"
Setelah Talita membersihkannya, bukannya senang tapi di beri kotoran lagi, sampai Talita berulang-ulang kali mengepelnya.
Terkadang temannya akan berbuat tidak baik kepada Talita.
__ADS_1
Mereka menyuruh Talita semena-mena, bahkan ada yang membentaknya.
"Heh!, babu. sini" bentak Karin.
"Iya, kak. Ada apa?"
"Aku bukan kakak kamu, tuh! beresin kamar aku"
Talita bingung mau manggil apa, terpaksa Talita hanya bisa mengiyakan saja.
Talita segera membersihkan kamarnya Karin, di lihatnya banyak bungkusan yang dia nggak tau itu apa.
Ada juga kond*m yang sudah bekas pakai banyak berserakan di bawah lantai.Talita bergidik ngeri melihatnya.
Talita segera mengambil serokan sampah dan menyapunya.
Karin melihatnya malah tertawa dan timbul niat jahat di pikirannya.
"Heh! Pungut itu dengan tanganmu"
"Tapi.. "
Karin menendang serokan sampah dan akhirnya tumpukan sampahnya berserakan di lantai kamarnya lagi.
Talita mau tak mau memungutnya dengan tangannya, ada rasa jijik, sehingga dia mual-mual setelah meletakkan bekas sampah di tempat sampah.
Karin tertawa terbahak-bahak, keinginannya mengerjai Talita terpenuhi.
"Rasain, waktu datang bak seorang putri. Sekarang malah jadi babu"
Talita hanya beristigfar saja, karena bukan kemauannya di jadikan bak seorang putri. Madam Ira memang memperlakukan Talita begitu.
Talita segera menyelesaikan pekerjaannya membersihkan kamar Karin.
Karin tertawa puas telah mengerjai Talita. Talita hanya bisa bersabar. Mau melawan badannya masih terlalu kecil.
Umurnya yang masih 14 Tahun memang di anggap remeh oleh teman-temannya.
Talita berusaha tegar menjalani kehidupannya.
__ADS_1
TBC...