Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 52


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Mas, aku mau ke kuburannya Nenek Saroh dulu" ucap Talita setelah mereka sholat shubuh berjamaah.


"Sayang, mas izinkan, asal kamu berjanji, kamu bisa mengendalikan emosimu, jangan terlalu bersedu-sedu, kita kesana niatnya untuk mendo'akan Nenek Saroh"


"Iya mas, aku paham dan mengerti, aku janji tak akan menangis atau meratapi kuburan Nenek Saroh"


"Menangis boleh, asal mulutnya terkunci tak boleh mengeluarkan suara, sayang"


"Iya mas, aku janji,"


"Baiklah, biar Endi yang bawa mobil, mas juga mau Ikut"


"Iya mas, aku sangat kangen kepada Nenek Saroh"


"Iya, mas mengerti, apalagi kita tak akan lama di sini. mas ijinkan kamu pergi asal bersama-sama mas, dan Endi yang antar"


"Trima kasih ya mas." Talita menyandarkan kepalanya di dada Adi.


Adi membalas mengusap punggung Talita. Talita mengangkat kepalanya.


"Mas, tunggu di sini saja ya, aku akan masak sarapan untuk mas, nanti jika masakanku udah masak, aku akan memanggil mas nanti, mas istirahat tidur lagi aja" ujar Talita.


"Tak baik setelah sholat shubuh tidur lagi, mending mas temani kamu masak"


"Tapi, Endi dan Agung sepertinya belum bangun mas, siapa nanti yang akan menggendong mas ke lantai bawah"


"Oh, iya benar"


"Tunggu di sini saja ya, aku janji tak lama. hanya masak nasi goreng saja"


"Baiklah, jika begitu, mas mau ngaji dulu sambil nunggu sarapan matang deh"


"Baiklah"


Talita pun mengambil Al-qur'an dan memberikannya kepada Tuan Adi, kemudian Talita turun ke lantai dasar untuk memasak nasi goreng. Kebetulan ada sisa nasi pengajian semalam sehingga Talita bisa memasak sarapan untuk mereka semua.


Samar-samar terdengar suara merdu Tuan Adi.


Nyeeesss.


Hati Talita sangat bahagia, saat ini telah di beri suami yang sholeh dan sangat menyayanginya.


"Trima kasih Ya Allah," Gumam Talita.


15 menit kemudian, terlihat Endi datang dari arah warung, karena tak ada kamar, mau tak mau Endi dan Agung tidur di warung lantai bawah dengan di alas karpet. Endi terlihat mau ke kamar mandi di lantai bawah.


"Eh, Nyonya sudah bangun!" kaget Endi.


"Iya Endi, aku lagi masak nasi goreng untuk kalian, nanti kamu ke lantai dua, kamu bantu Mas Adi ya"


"Siap Nyonya, saya ke kamar mandi dulu"


"Iya Endi,"

__ADS_1


Endi pun bergegas ke kamar mandi memenuhi panggilan alamnya, setelah selesai dia segera pergi ke lantai dua.


Tok! tok! tok!


"Masuk," jawab Tuan Adi dari dalam.


"Eh, Endi. Kamu mau membantuku untuk turun ke lantai bawah ya"


"Iya, Tuan. Nyonya yang menyuruh saya, sepertinya sarapan sebentar lagi mateng"


"Baiklah, Sadakallahhul'aziim"


Tuan Adi pun mengakhiri kegiatan tadarusnya dan bersiap ke lantai dasar.


Endi menggendong Tuan Adi dan mendudukkannya di kursi makan di warung, setelah itu dia naik lagi untuk mengambil kursi roda tuannya.


Tuan Adi yang melihat Agung yang masih tidur hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama Talita membawa nasi goreng di wadah tempat nasi dan membawa beberapa piring.


"Endi, bangunkan Agung ya" ucap Talita dengan sopan agar tak menyinggung perasaan Endi.


"Siap, Nyonya"


Endi pun segera menghampiri Agung, di goyang-goyangkan tubuhnya Agung, hinggga Agung terbangun juga.


Sedangkan Talita sedang makan bersama suaminya, sesekali mereka bercanda. namun tetap fokus menikmati nasi goreng buatan Talita.


"Enak banget nasi gorengnya sayang" ucap Tuan Adi setelah sesendok makan nasi goreng masuk ke mulutnya.


"Biasa saja mas, aku senang kalau mas suka"


"Iya, In syaa Allah aku akan selalu memasakkan makananmu"


"Aamiin"


Setelah itu Tuan Adi melihat Agung yang sudah bangun tidur.


"Agung, kamu bersihkan dulu badanmu setelah itu makan bersama kami" ucap Tuan Adi.


"Nyonya dan Tuan makan dahulu, biar nanti kami belakangan" Tolak halus Endi.


"Nggak papa Endi, habis sarapan, kita mau ke kuburan. kamu yang menyetir mobilnya sedangkan Agung di sini saja"


"Baiklah, Tuan"


Endi pun menghampiri keduanya dan dia langsung menyendokkan nasi goreng di piringnya, sedangkan Agung ke kamar mandi mencuci muka. Setelah itu Agung mengampiri mereka untuk sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan, Talita segera mencuci piring yang di gunakan mereka.


"Nyonya, biar Agung saja" ucap Agung menawarkan diri membantu Talita.


"Nggak apa-apa Agung, aku sudah terbiasa. Kamu temani ngobrol suamiku saja"


"Baik, nyonya"

__ADS_1


Setelah Talita mencuci piring, dia segera mengganti pakaiannya.


"Agung, kamu di sini saja ya, kabari jika terjadi sesuatu di sini"


"Iya Tuan, siap" imbuh Agung.


Akhirnya Endi mengemudikan mobil ke pemakaman umum tempat Nenek Saroh di semayamkan.


Setelah itu Endi membantu Tuan Adi turun dan mendorong kursi rodanya sampai ke kuburan Nenek Saroh.


Mereka pun mengucapkan “Assalamu‘alaìkum dara qaumìn mu’mìnîn wa atakum ma tu‘adun ghadan mu’ajjalun, wa ìnna ìnsya-Allahu bìkum lahìqun”


Setelah itu Tuan Adi yang memimpin do'anya.


Setelah membaca atau mengucap salam, yang selanjutnya dilakukan adalah membaca istigfar.


"Astaghfirullah Hal Adzim Alladzi La ilaha Illa Huwal Hayyul Qoyyumu Wa atubu Ilaihi"


Artinya: "Aku mohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, yang tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan aku bertobat kepada-Nya."


Setelah itu Tuan Adi membaca Al-fatihah, dilanjutkan dengan 3 qul( Al-ikhlas, Al-falaq dan An-nas) dan di lanjutkan dengan Tahlil "Laailaha Ilaallah"


Setelah selesai membaca tahlil, maka yang terakhir adalah Tuan Adi membaca doa jenazah


“Allahummaghfìrlahu war hamhu wa ‘aafìhìì wa’fu anhu, wa akrìm nuzuulahu wawassì’ madholahu, waghsìlhu bìl maa’ì watssaljì walbaradì, wa naqqìhì, mìnaddzzunubì wal khathaya kamaa yunaqqatssaubul abyadhu mìnad danasì.”


"Aamiin Yaa Rabbal'alamiin" ucap Endi dan Talita bersamaan.


Setelah itu mereka menaburi bunga yang telah di beli mereka sebelum datang ke kuburan.


"Nenek, Talita datang kembali, semoga Nenek di lapangkan kuburannya ya dan terhindar dari siksa kubur" ujar Talita.


"Talita pergi dulu ya nek" Talita melabuhkan kecupan di tiang nisan kuburan Nenek Saroh.


Dia ingin sekali menangis, tapi karena sudah janji kepada Tuan Adi, sehingga Talita berusaha menahannya.


Namun apa daya, tetesan air matanya tetap jatuh di pipinya, dia pun segera menghapusnya.


Tuan Adi melihatnya segera menggengam tanganya, memberi kekuatan dan mengatakan dia selalu ada untuk Talita.


Setelah itu mereka kembali ke mobil yang terpakir di kejauhan.


"Sayang, kita ke dokter kandungan dulu ya, ini kan masih pagi, aku ingin melihat USG anak kita"


"Boleh, aku juga belum pernah USG dan lihat langsung perkembangan anak kita, mas"


"Endi, antarkan kami ke rumah sakit ya"


"Siap Bos"


Endi pun segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


Talita yang sedang manja-manjanya menyandarkan kepalanya samping lengan Tuan Adi. Tuan adi pun mengalungkan tangannya di belakang Talita, seolah-olah mendekapnya.


Sesekali Tuan Adi mengusap perut Talita dan mengecup pucuk kepala Talita.

__ADS_1


"Ya Ampun, Tuan Adi yang dulunya kejam dan tegas, eh, ternyata bisa bucin juga ya" batin Endi di dalam hatinya. Diapun tetap fokus menyetir, biarlah Tuannya merasa dunia serasa milik berdua yang lainnya hanya sewa.


TBC..


__ADS_2